SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bertolak ke Teheran untuk menghidupkan kembali jalur diplomasi yang tersendat setelah enam bulan perang dan ketegangan berkepanjangan.
Namun, upaya mediasi Qatar menghadapi tantangan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Washington tidak sedang membuka komunikasi dengan Iran.
Dalam keterangannya di Oval Office, Trump menegaskan tidak ada dialog langsung yang tengah dibangun antara AS dan Teheran.
“Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami tidak berusaha untuk bertemu atau melakukan hal serupa,” ujar Trump.
Baca juga: VIDEO Iran Tegaskan Siap Kirim Netanyahu ke Neraka, Bawa Kehancuran ke Israel
Di tengah kebuntuan komunikasi antara AS dan Iran, Al Thani tetap berusaha mencari jalan keluar melalui jalur diplomasi.
Dalam kunjungannya ke Teheran, Al Thani bertemu dengan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Pembicaraan tersebut antara lain membahas upaya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang menjadi salah satu titik krusial dalam ketegangan kawasan.
Melalui platform X, Al Thani menekankan pentingnya memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga.
Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut pembahasan juga mencakup usulan pembentukan koridor pelayaran sementara antara Iran dan Oman serta proyek bersama untuk membersihkan ranjau.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) turut mengonfirmasi adanya kesepakatan prinsip dengan Oman mengenai pengelolaan lalu lintas dan pembagian pendapatan di Selat Hormuz. Namun, sejumlah rincian teknis masih dalam tahap pembahasan.
Di sisi lain, Teheran merespons sikap Washington dengan nada tegas.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan kepada Al Thani bahwa Iran siap memberikan respons apabila AS melakukan tindakan yang dianggap mengancam kepentingan negaranya.
Rezaei juga menegaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh akan bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan Iran.
Di antaranya adalah penghentian blokade pelabuhan, pemberian kompensasi, serta pencabutan sanksi terhadap Iran.
“Kami tidak memercayai AS. Mereka telah berulang kali mengkhianati diplomasi dan negosiasi,” tegas Rezaei.
Menurut Rezaei, Iran kini tengah menyusun daftar persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz setelah mendapat permintaan dari para mediator.
Apabila persyaratan tersebut dipenuhi, kapal-kapal nantinya akan diizinkan melintas melalui jalur tengah yang telah ditentukan.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui akun Telegram menyerukan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai pangkalan bagi AS untuk melancarkan serangan militer maupun tekanan ekonomi terhadap Iran.(*)