Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung mengungkap imbas kemarau panjang yang berpotensi membuat sejumlah bendungan di Lampung kekeringan. Hal itu terjadi jika tidak ada hujan hingga Februari 2027 mendatang.
Baca juga: BBWS Mesuji Sekampung Salurkan 60.000 Liter Air Bersih ke Enam Kabupaten di Lampung
Bahkan Bendungan Batutegi yang saat ini masih terdapat sekitar 333 juta meter kubik air bisa diproyeksikan habis.
Kepala BBWS Mesuji Sekampung Elroy Koyari mengatakan, Bendungan Batutegi menjadi salah satu tumpuan utama karena berada di bagian paling hulu dalam sistem pengelolaan air Lampung.
"Untuk di Batutegi dan Sekampung ini masih cukup," kata Elroy dalam wawancara eksklusif di kantor Tribun Lampung, Rabu (26/8/2026).
Batutegi saat ini masih memiliki cadangan sekitar 333 juta meter kubik. Sementara Bendungan Way Sekampung memiliki sekitar 25 juta meter kubik.
Perbedaan jumlah cadangan tersebut berkaitan dengan posisi dan sistem pengelolaan bendungan di Lampung yang menggunakan pola cascade atau bertingkat.
Air dari Batutegi dapat dirilis menuju Way Sekampung. Selanjutnya, air dari Way Sekampung dapat dialirkan menuju Margatiga, kemudian ke Jabung hingga menuju laut.
"Karena Batutegi paling hulu, nanti di situ dia simpannya paling banyak. Jadi kalau di sini kekurangan, dia mulai rilis debitnya ke hilir," jelas Elroy.
Setiap bendungan juga memiliki catchment area atau daerah tangkapan air. Air hujan yang masuk melalui anak-anak sungai kemudian mengalir ke sungai utama dan ditangkap oleh bendungan.
Artinya, kemampuan bendungan mempertahankan cadangan air tetap sangat bergantung pada adanya pasokan hujan.
Berdasarkan forecasting yang dilakukan BBWS terhadap kondisi debit saat ini, apabila tidak terjadi hujan sampai Februari, cadangan air yang dapat dirilis dari Batutegi diproyeksikan habis.
Namun, Elroy menegaskan bendungan tidak boleh dikosongkan. Setiap bendungan memiliki batas muka air minimum yang harus dipertahankan. Ketika sudah mencapai batas tersebut, air tidak lagi dapat dirilis seperti biasa.
"Kalau itu tidak ada hujan sampai bulan Februari, itu habis. Karena bendungan itu kan tidak boleh kosong," ujarnya.
Di tengah cadangan Batutegi yang masih relatif besar, kondisi sumber air di bagian hilir justru sudah lebih berat. Elroy menyebut Bendungan Jabung sudah tidak memiliki air.
Sementara cadangan Bendungan Margatiga juga sudah habis. Untuk menjaga kebutuhan di hilir, air dapat dirilis dari Sekampung melalui aliran sungai.
Namun, jarak distribusinya cukup jauh sehingga pengaturan debit menjadi semakin penting. "Ini yang perlu kita pengaturan dengan sistem yang tepat untuk pengaturan air di setiap bendungan sesuai kebutuhan," katanya.
Menurut Elroy, air yang tersedia harus dibagi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari air baku, irigasi, industri hingga PLTA.
Namun, kebutuhan air baku masyarakat harus menjadi prioritas. "Air baku biasanya setelah itu ada intake untuk PDAM. Ini mesti kita jaga. Permintaannya berapa, tidak boleh berkurang. Sepanjang tahun itu mesti tersedia," ujarnya.
Untuk menambah cadangan, BBWS juga tengah melakukan upaya Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC.
Elroy berharap hujan dari kegiatan tersebut dapat membantu mengisi wilayah yang mulai kering sekaligus menambah volume air di waduk dan bendungan.
Selain mengandalkan hujan, ia menilai Lampung perlu memperbanyak tampungan air agar memiliki cadangan yang lebih kuat ketika memasuki musim kemarau.
Bentuknya dapat berupa bendungan maupun embung yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah.
Dengan kondisi tersebut, Elroy menilai penghematan dan pengaturan distribusi air menjadi kunci agar cadangan yang tersedia dapat digunakan secara berkelanjutan hingga musim hujan kembali datang.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)