Menlu Iran: Teheran Ingin Perluas Hubungan Politik dan Ekonomi dengan Dunia Muslim
Garudea Prabawati August 29, 2026 10:38 AM

 

 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran berupaya memperkuat hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara Muslim, khususnya negara-negara tetangga.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi pada Jumat saat bertemu para tamu dalam Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40.

Menurut akun Telegram miliknya, Araghchi menegaskan bahwa Iran menginginkan hubungan baik dengan seluruh negara Islam.

“Kami menginginkan hubungan baik dengan semua negara Islam, terutama negara-negara tetangga,” kata Araghchi.

Ia menambahkan, Iran juga berupaya memperluas hubungan ekonomi dengan negara-negara Muslim.

Menurutnya, Teheran saat ini telah memiliki hubungan yang luas dengan negara-negara di dunia Islam.

Terkait hubungan dengan Mesir, Araghchi mengatakan tidak terdapat alasan mendasar bagi perselisihan antara Teheran dan Kairo, mengutip Anadolu Agency, Sabtu (29/8/2026).

Baca juga: Kekuatan Iran di Selat Hormuz Melemah, AS Kembali Kirim Kapal Induk: USS Theodore Roosevelt Datang

Iran, katanya, siap memulihkan hubungan apabila Mesir mengambil keputusan untuk membuka kembali hubungan kedua negara.

“Kapan pun teman-teman kami di Mesir mengambil keputusan dan siap untuk memulihkan hubungan, kami juga akan siap,” ujarnya.

Sementara mengenai Lebanon, Araghchi mengatakan Iran menginginkan hubungan baik dengan seluruh kelompok dan faksi politik di negara tersebut.

Teheran juga disebut siap mengembangkan hubungan dengan pemerintah Lebanon.

Namun, Araghchi mengakui Iran tidak menyetujui sejumlah kebijakan pemerintah Lebanon.

Ia berharap Kementerian Luar Negeri Lebanon dapat menunjukkan “rasionalitas yang lebih besar” dalam menjalankan kebijakannya.

Araghchi juga mendorong perluasan hubungan Iran dengan negara-negara Afrika yang selama ini memiliki hubungan tradisional dengan Teheran.

Ia menekankan bahwa pendekatan Iran terhadap dunia Islam didasarkan pada persatuan.

“Pendekatan kami terhadap dunia Islam didasarkan pada persatuan,” katanya.

Iran Tegaskan Sikap di Tengah Konflik

Araghchi kemudian menyinggung ketegangan militer Iran dengan Amerika Serikat.

Ia mengatakan Iran memang menargetkan posisi dan aset AS di negara-negara sekitar sebagai respons terhadap serangan Washington, tetapi menegaskan bahwa Teheran tidak pernah menyerang negara-negara Muslim maupun negara tetangganya.

Menurut Araghchi, Iran sebelumnya telah memperingatkan negara-negara di kawasan bahwa pangkalan dan sasaran militer AS di wilayah mereka dapat menjadi target apabila Washington menyerang Iran.

“Para pejuang kami akan menyerang target Amerika mana pun di wilayah tersebut selama masa perang,” ujarnya, merujuk pada pangkalan, fasilitas, maupun titik berkumpul pasukan AS.

Araghchi menyebut serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai “agresi yang tidak sah”.

Sebaliknya, ia menggambarkan tindakan militer Iran sebagai bentuk “pembelaan diri yang sah”.

Ketegangan antara Teheran dan Washington tetap tinggi sejak konflik pecah akibat serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Iran kemudian merespons dengan menargetkan posisi serta aset militer AS di sejumlah negara Arab yang menjadi sekutu Washington.

Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman 14 poin di Islamabad pada 18 Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan tersebut ditujukan untuk mengakhiri permusuhan sekaligus membuka jalan bagi negosiasi.

Namun, implementasi kesepakatan itu menghadapi berbagai kendala.

Teheran menuduh Washington tidak memenuhi komitmennya, sementara AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Juli. Serangan tersebut kemudian memicu aksi balasan lebih lanjut dari Iran.

(*)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.