Oleh: Bruder Pio Hayon SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Sabtu 29 Agustus 2026.
Tema renungan harian katolik "kepada Yohanes Pembaptis".
Renungan harian katolik disiapkan untuk perayaan wajib wafatnya Santo Yohanes Pembaptis.
Perayaan wajib wafatnya Santo Yohanes Pembaptis dengan warna liturgi merah.
Bacaan hari Sabtu: Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29 dan BcO 1Tim 4:1-5:2.
Baca juga: Teks Misa Minggu 30 Agustus 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka! Mengenai Aku, sesungguhnya pada hari ini Aku membuat engkau menjadi kota yang berkubu, menjadi tiang besi dan menjadi tembok tembaga melawan seluruh negeri ini, menentang raja-raja Yehuda dan pemuka-pemukanya, menentang para imamnya dan rakyat negeri ini. Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."
Mazmur Tanggapan: Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17;
Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu.
Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku!
Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.
Ya Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik, dari cengkeraman orang-orang lalim dan kejam.
Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.
Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.
Mulutku akan menceritakan keadilan-Mu dan keselamatan yang dari pada-Mu sepanjang hari, sebab aku tidak dapat menghitungnya.
Bait Pengantar Injil Katolik:
P: Alleluia
U: Alleluia
Bacaan Injil Katolik: Mrk. 6:17-29
P: Inilah Injil Yesus karangan Markus
U: Dimuliakanlah Tuhan
P: Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.
P: Demikianlah Injil Tuhan
U: Terpujilah Kristus
Renungan Harian Katolik
“Kepala Yohanes Pembaptis”
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari ini Gereja memperingati wafatnya Santo Yohanes Pembaptis, seorang nabi yang berani menegur dan setia pada kebenaran sampai akhir. Tema kita, “Kepala Yohanes Pembaptis”, mengajak kita memandang bahwa iman yang sejati tidak berhenti pada kata-kata yang indah, tetapi terwujud dalam keberanian untuk tetap setia ketika kebenaran menuntut korban.
Saudara-saudari terkasih.
Dalam bacaan pertama (Yer. 1:17-19) menggambarkan tentang panggilan seorang nabi untuk menyampaikan firman Tuhan, sekalipun harus berhadapan dengan penolakan dan bahaya. Yeremia diingatkan bahwa Tuhan menyertai dan perlawanan manusia tidak pernah lebih kuat daripada rencana Allah. Sedangkan dalam bacaan Injil (Markus 6: 17-29) menceritakan tentang bagaimana Yohanes ditangkap karena kesaksiannya. Ia akhirnya mengalami kematian yang tragis. Namun kenyataannya, kesetiaan Yohanes tidak lenyap: bahkan peristiwa yang menyakitkan itu menjadi pengingat bahwa kebenaran tetap punya suara, dan Allah tidak membiarkan martir-martirnya mati dengan sia-sia. Refleksi kita adalah “Kebenaran tidak selalu aman tetapi selalu benar”: Yohanes Pembaptis memilih mengatakan yang benar, walau resikonya besar. Kita pun sering tergoda untuk “menghaluskan” kenyataan agar nyaman, padahal iman meminta kita berani mengakui kebenaran, setidaknya dalam cara hidup, keputusan, dan relasi. “Tuhan menyertai orang yang setia”: Yeremia diteguhkan: kendati ada ancaman, Tuhan tetap hadir. Ini menegur kita agar tidak hanya mengejar “hasil yang aman”, tetapi setia pada proses iman: berdoa, menjalankan tugas, dan memilih jalan yang sesuai kehendak Allah meski terasa berat. “Martabat iman diuji”: Dalam Injil, Yohanes tidak diperlakukan adil. Di tengah ketidakadilan, baik di rumah, sekolah, pekerjaan, maupun lingkungan, kita dipanggil untuk tetap tidak menjual hati nurani. Keberanian iman sering bukan soal “menang”, melainkan soal “tetap setia” bahkan ketika harus menanggung konsekuensi.
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, Yohanes Pembaptis mengingatkan kita bahwa iman yang hidup lahir dari keberanian untuk memihak pada kebenaran. Kedua, dalam ketidaknyamanan dan bahkan penderitaan, Tuhan tetap menyertai orang yang setia. Ketiga, maka hari ini marilah kita bertanya: keputusan dan pilihan kita sudah sungguh memuliakan kebenaran, atau masih bersembunyi di balik alasan demi kenyamanan? Tuhan memberkati kita. (sumber: iman katolik.or.id/adiutami.com/kgg).