TRIBUNSUMSEL.COM, MUARA ENIM -- Pengalaman tak menyenangkan dialami oleh seorang fotografer pemilik akun Instagram @petrick_1506.
Ia mengaku belum menerima pembayaran atas jasa pemotretan acara perpisahan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di sebuah objek wisata di kawasan Muara Enim, Sumatera Selatan.
Curahan hati ini pertama kali diunggah selebgram asal Palembang melalui akun Instagram @rondoot pada Jumat (28/8/2026).
Dalam unggahannya, akun @rondoot menyuarakan keprihatinannya sembari menandai pihak sekolah.
"Assalamualaikum ibu kepala sekolah, haruskah Rondoot ke Muara Enim? Menurut kamu bagaimana?" tulis akun @rondoot dalam keterangan unggahannya.
Dalam pesan singkat (Direct Message) yang dikirimkan kepada @rondoot, sang fotografer menceritakan secara rinci kesepakatan awal hingga penunggakan pembayaran yang dilakoni oknum pihak sekolah tersebut.
Uang jasa senilai Rp600.000 yang tak kunjung dibayarkan itu padahal sangat dinantikan untuk biaya pengobatan dan pembelian alat bantu sang buah hati.
"Assalamu'alaikum wr. wb. Kak, bisa bantu aku tidak? Aku ini seorang fotografer amatir. Waktu itu saya dapat pekerjaan memotret perpisahan anak PAUD di objek wisata yang ada di Muara Enim. Jadi saya jelaskan ke guru PAUD, jasa fotonya Rp600.000 dan biaya cetak lain lagi tergantung ukuran. Singkat cerita, foto sudah selesai, tetapi jasa fotoku belum dibayar sampai sekarang," ungkap sang fotografer meluapkan keluh kesahnya, dikutip Tribunsumsel.com dalam Instagram @rondoot, Sabtu (29/8/2026).
Baca juga: Tiga Rumah Warga di Muara Enim Terpaksa Diungsikan, Terancam Longsor Akibat Abrasi Sungai Lematang
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan menuju lokasi pemotretan membutuhkan waktu dan jarak yang lumayan jauh dari kediamannya.
Upaya komunikasi yang dilakukannya secara baik-baik pun kini terputus akibat ketiadaan respons dari pihak pemesan.
"Padahal uang itu buat tabungan beli tangan palsu anak gadisku. Lokasi PAUD itu lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Saya sudah berapa kali chat tetapi tidak ada respons. Hari ini saya chat cuma centang satu, antara nomor saya diblokir atau susah sinyal di sana. Jadi saya bingung harus bagaimana," tambahnya.
Usai kabar tersebut viral di media sosial, pemilik sekaligus pengelola PAUD memberikan tanggapan dan klarifikasi terbuka melalui akun Facebook pribadinya.
Pihak sekolah membantah adanya kesepakatan mengenai uang jasa di awal perjanjian.
Dalam pernyataannya, pihak sekolah membeberkan lima poin sanggahan:
"Jadi mohon bantu Bunda menanggapi persoalan ini. Berpikir bijak dan tidak menanggapi permasalahan tanpa tahu permasalahan sebenarnya. Insya Allah masalah ini bisa selesai," tutup pemilik sekolah dalam postingannya.
Unggahan tudingan dan klarifikasi tersebut kian ramai setelah seorang warganet yang mengaku bertetangga desa dengan pengelola sekolah mengirimkan pesan tambahan kepada akun @rondoot.
Warganet tersebut membeberkan struktur kepengurusan di sekolah PAUD tersebut.
"Mas, nambahi cerita tentang fotografer dan TK Play Reading. Jadi TK itu punya Lista Mutia, dan Elga itu kepala sekolah yang sekarang. Dulu memang Lista yang jadi kepala sekolah, tetapi semenjak Lista lulus PPPK, jabatannya diganti Elga. Elga itu anaknya. Kenapa aku bisa tahu? Karena aku orang Suban. Kalau ini mau di-screenshot dan dijadikan postingan, tutup nama aku ya Mas, tidak enak soalnya satu desa," ungkap warganet tersebut.
Peristiwa ini mendadak menjadi perhatian luas publik, khususnya warganet di Sumatera Selatan.
Kolom komentar unggahan dipenuhi kritik keras terhadap argumen pihak sekolah yang dinilai tidak masuk akal karena memisahkan antara biaya cetak dan biaya jasa fotografer.
"Oh, dua beranak rupanya. Mana ada orang gila yang cuma mau bayar biaya cetaknya saja, sedangkan jasanya mau gratisan," tulis salah satu warganet dalam bahasa daerah.
Sebagian besar publik menilai logika pihak sekolah sangat membingungkan.
Mereka tak habis pikir bagaimana sebuah lembaga pendidikan bisa menganggap proses pemotretan dan pencetakan foto sebagai dua hal yang terpisah.
"Lah, Ibu... Bagaimana bisa cuma bayar cetak fotonya saja tetapi jasa fotonya tidak mau bayar karena merasa kemahalan? Kalau mau bayar cetaknya saja, berarti Ibu sudah punya file foto sendiri. Ini kan menggunakan kamera dan tenaga tukang fotonya dulu baru bisa dicetak. Gemas sekali melihatnya," timpal warganet lainnya.
Sikap enggan membayar honor fotografer ini pun memicu kegeraman netizen.
Banyak yang mendesak agar pengelola sekolah segera melunasi kewajibannya tanpa perlu mencari alasan penyesuaian harga.
"Sudah jelas-jelas ada jasa yang dipakai, ya harus dibayar. Di mana-mana jasa itu ada harganya. Tinggal bayar saja masalah selesai," tegas warganet lain dengan nada geram.
Warganet berharap masalah ini dapat segera diselesaikan secara kekeluargaan dan hak sang fotografer dapat ditunaikan sepenuhnya, mengingat uang tersebut sangat dibutuhkan untuk kebutuhan medis sang anak.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com