Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah
TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON – Krisis air bersih yang melanda warga Kampung Bamil Nosar, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, hingga kini masih memprihatinkan.
Sudah hampir delapan bulan warga setempat kesulitan mendapatkan akses air bersih akibat rusaknya instalasi pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025 lalu.
Kampung Bamil Nosar berada di kawasan dataran tinggi Gayo dan terletak di sekitar kawasan Danau Laut Tawar.
Dari pusat kota Takengon, jaraknya sekitar 20 kilometer dengan waktu tempuh sekira 25 hingga 35 menit perjalanan darat melalui ruas jalan lintas provinsi Takengon–Bintang.
Waktu bencana, Desa Bamil Nosar sempat berada dalam kondisi terisolir akibat longsor di beberapa titik.
Seluruh sarana vital seperti jaringan listrik, air bersih, jalur telekomunikasi, dan jembatan/irigasi mengalami kerusakan parah atau terputus total.
Baca juga: Jaringan Irigasi di Nosar Aceh Tengah belum Diperbaiki, Lebih 6 Ribu Jiwa Alami Krisis Air Bersih
Reje Kampung Bamil Nosar, Komaidi, mengungkapkan bahwa dampak kerusakan infrastruktur akibat bencana alam membuat warga terpaksa memanfaatkan air seadanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, rusaknya jaringan pipa dan bak penampungan air disebabkan oleh terjangan material bencana hidrometeorologi.
"Masyarakat kami yang mendapatkan air bersih tentunya dari parit, ada mungkin dari mata air, dan keperluan lainnya dari sumur bor," ujar Kumaidi saat ditemui di lokasi, Kamis (27/8/2026).
Jarak ke sumber air yang sebelumnya mencapai 600 meter kini harus dipindahkan melalui jalur baru dari kawasan Bur Keliten menuju Kampung Bamil Nosar agar lebih aman dan efisien.
Secercah bantuan sempat datang untuk warga di Dusun Satu Kampung Bamil Nosar melalui uluran tangan para dermawan.
Komunitas dari Bali memberikan donasi berupa pipa sepanjang 2.750 meter.
Kendati demikian, kebutuhan mendesak masih dirasakan warga di Dusun Teluk Suyen.
Komaidi menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah setempat dengan mengirimkan surat permohonan resmi beserta dokumentasi kondisi lapangan.
Pemerintah daerah sebelumnya meminta data kebutuhan pipa sepanjang 1.500 meter dengan ukuran 2 inci untuk Dusun Teluk Suyen, namun realisasi di lapangan masih menunggu proses penganggaran lebih lanjut.
“Alhamdulillah sudah kami sampaikan, tapi mungkin kadang istilahnya ada proses pengusungan anggaran yang kita kurang tahu,” tambah Kumaidi.
Untuk mengatasi masalah perlindungan air bersih ke depan, pihak desa berencana mengalokasikan sebagian dana desa jika bantuan mandiri belum mencukupi.
“Untuk penampungan sementara ini belum kita pikirkan. Tapi kalau memang untuk penampungan, ya kita paksakan, kita usahakan biar nanti dari dana-dana desa kita anggarkan” jelas Kumaidi.
Pemerintah kampung berharap adanya perhatian dan uluran tangan lanjutan, baik dari pemerintah daerah maupun para donatur, agar krisis air bersih yang telah berlangsung selama delapan bulan ini dapat segera teratasi demi kesejahteraan masyarakat Bamil Nosar. (*)