TRIBUNMANADO.CO.ID - Upus Ni Mama, renungan Wanita Kaum Ibu (W/KI) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM0 dalam sepekan mulai 30 Agustus - 5 September 2026.
Pembacaan alkitab terdapat pada Efesus 4:17-32.
Tema perenungan adalah Dibaharui dalam Roh dan Pikiranmu Serta Mengenakan Manusia Baru.
Khotbah:
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Jika kita mau jujur, wanita memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan hal-hal baru.
Menyukai baju baru, sepatu baru, penampilan rumahpun dibuat baru dengan mengganti gorden yang usang, menata ulang dekorasi rumah, atau mengganti menu masakan agar keluarga tidak bosan.
Bahkan hal-hal yang sekedar mengganti perabot dapur seperti panci, wajan dengan yang baru.
Kita sangat peduli pada penampilan luar rumah dan diri kita agar selalu terlihat rapi, bersih, dan segar.
Namun, firman Tuhan Allah hari ini mengajak kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri.
Apakah hati, roh, dan pikiran kita sudah mengalami pembaruan yang sejati?
Wanita/ Kaum Ibu memiliki peran yang sangat penting dalam keluarga, gereja, dan masyarakat.
Seorang ibu bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga pendidik pertama bagi anakanak, penolong bagi suami, serta pelayan Tuhan Allah yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi banyak orang.
Namun, kehidupan wanita pada abad ke-21 menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Kemajuan teknologi, perubahan budaya, tuntutan ekonomi, dan perkembangan media sosial telah membawa perubahan besar dalam pola hidup keluarga.
Banyak wanita harus menjalankan peran ganda sebagai ibu, istri, pekerja, dan pelayan di gereja.
Tidak sedikit yang mengalami tekanan emosional, kelelahan, kecemasan, bahkan krisis identitas karena merasa harus
memenuhi standar kesempurnaan yang dibangun oleh lingkungan dan media digital.
Media sosial sering menampilkan gambaran kehidupan yang tampak sempuma sehingga mendorong perbandingan diri, rasa tidak puas, dan tekanan psikologis.
Selain itu, meningkatnya konflik keluarga, komunikasi yang renggang, serta berkurangnya waktu berkualitas bersama keluarga menjadi persoalan nyata yang dihadapi banyak wanita masa kini.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman Tuhan Allah melalui Efesus 4:17-32, mengajak setiap wanita untuk mengalami pembaruan di dalam roh dan
pikiran, serta mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Tuhan Allah dalam kebenaran dan kekudusan.
Dalam ayat 23 ditulis: "Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru." Cara-cara hidup dunia jangan dilakukan lagi.
Firman Tuhan Allah ini mengingatkan agar orang percaya tidak lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Allah, yang pikirannya sia-sia dan hatinya menjadi keras.
Pada zaman ini, banyak nilai dunia yang bertentangan dengan firman Tuhan Allah. Kesuksesan sering diukur dari
kekayaan, penampilan, popularitas, atau pencapaian karier.
Akibatnya, banyak wanita merasa kurang berharga ketika tidak mampu memenuhi standar tersebut.
Firman Tuhan Allah mengingatkan bahwa identitas seorang wanita tidak ditentukan oleh penilaian dunia, tetapi oleh kasih Allah yang telah memilih dan menebusnya.
Jadi orang percaya perlu pembaharuan di dalam kehidupannya, dimulai dari pembaharuan roh dan pikiran.
Tanpa kebijaksanaan rohani, pola pikir dunia dapat membentuk cara pandang yang jauh dari nilai-nilai Kerajaan Allah.
Pembaruan pikiran terjadi ketika seseorang membangun kehidupan doa, membaca firman Tuhan, dan membuka
hati terhadap tuntunan Roh Kudus.
Lalu orang percaya mulai mengenakan manusia baru, dinyatakan melalui kejujuran dan kasih (ayat 25-28).
Firman Tuhan ini mengajarkan agar orang percaya meninggalkan dusta, berkata benar, mengendalikan amarah, dan hidup dengan bekerja keras agar dapat berbagi kepada sesama. Dalam kehidupan keluarga, seorang ibu adalah pembentuk suasana rumah.
Kejujuran, kesabaran, dan kasih yang ditunjukkan setiap hari akan membentuk karakter anak-anak dan memperkuat relasi
dengan pasangan.
Di tengah budaya yang cenderung individualistis, firman Tuhan Allah mengajak wanita untuk membangun keluarga
yang dipenuhi kasih, saling mengampuni, dan saling melayani.
Oleh karena itu pada ayat 29 diingatkan untuk menjaga perkataan "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun."
Perkataan seorang ibu memiliki pengaruh yang besar. Kata-kata dapat menguatkan atau melukai, membangun atau menghancurkan.
Perkataan berdampak pada hati orang yang mendengar dan dapat menimbulkan kepahitan.
Namun Firman Tuhan Allah mengajak membuang kepahitan dan hiduplah dalam pengampunan (ayat 30-32).
Jemaat dinasihatkan agar segala kepahitan, kemarahan, pertikaian, dan fitnah dibuang, lalu digantikan dengan kemurahan
hati dan pengampunan.
Banyak wanita memikul luka batin karena pengalaman masa lalu, konflik rumah tangga, atau kekecewaan terhadap orang-orang terdekat.
Jika kepahitan dipelihara, damai sejahtera akan hilang dan relasi menjadi rusak. Firman Tuhan Allah mengajarkan bahwa pengampunan bukan berarti melupakan luka, tetapi menyerahkan penghakiman kepada Tuhan Allah dan memilih
untuk tidak dikuasai oleh kebencian.
Ketika hati diperbarui oleh kasih Yesus Kristus, seorang wanita mampu menjadi pembawa damai dan pemersatu di tengah keluarga maupun gereja.
Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Di era digital, prinsip ini juga berlaku dalam komunikasi melalui media sosial, grup percakapan, atau komentar di internet.
Orang percaya dipanggil untuk menggunakan kata-kata yang membawa damai, bukan menyebarkan gosip, kebencian, atau
fitnah.
Firman Tuhan Allah mengingatkan untuk hidup dalam pembaruan hati, roh, dan pikiran melalui Yesus Kristus.
Ketika seorang wanita mengenakan manusia baru, ia akan memancairkan kasih, kesabaran, kelemahlembutan, dan hikmat
dalam menjalani setiap perannya.
Mulailah setiap hari dengan doa dan pemba baan firman agar pikiran terus diperbarui oleh Tuhan.
Bangun budaya komunikasi yang penuh kasih di dalam keluarga melalui perkataan yang menguatkan.
Gunakan media sosial dengan bijaksana sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai yang membangun.
Belajarlah mengampuni dan melepaskan kepahitan agar hati tetap dipenuhi damai sejahtera Kristus.
Jadilah teladan iman bagi anak-anak, keluarga, dan jemaat melalui kehidupan yang mencerminkan
manusia baru di dalam Yesus Kristus. Amin.
Pertanyaan Untuk Diskusi:
1. Apa yang dimaksud dengan dibaharui dalam Roh dan Pikiranmu serta Mengenakan Manusia Baru, menurut
Efesus 4:17-32 ?
2. Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan Wanitai Kaum Ibu untuk mengalami pernbaharuan hidup?
Sumber: Komisi W/KI Sinode GMIM edisi Agustus-September 2026