Alasan Nepal Tolak Bantuan SAR Asing usai Banjir Bandang Dahsyat, Korsel Tetap Negosiasi
Wahyu Gilang Putranto August 29, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Nepal menyatakan tidak memerlukan bantuan asing untuk operasi pencarian dan penyelamatan pascabanjir bandang dahsyat yang melanda pada hari Rabu (26/8/2026).

Padahal, terdapat tawaran dari beberapa negara yang warganya dilaporkan hilang dalam bencana tersebut.

Banjir tersebut menerjang berbagai wilayah, termasuk Distrik Rasuwa di dekat perbatasan China, meratakan seluruh kota, merusak pembangkit listrik tenaga air, dan menewaskan hampir 500 orang.

Ratusan warga negara asing masih dinyatakan hilang, termasuk dari Korea Selatan, yang menyatakan telah mengirimkan tim tanggap darurat ke Nepal dan akan mengerahkan tim bantuan bencana.

Namun, Kementerian Luar Negeri Nepal pada hari Jumat menegaskan bahwa pihaknya menangani sendiri upaya penyelamatan tersebut.

"Tawaran untuk membantu merupakan hal yang wajar. Badan-badan keamanan kami sedang melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Untuk saat ini, kami tidak memerlukan bantuan semacam itu," ujar Lok Bahadur Chhetri, juru bicara kementerian luar negeri, pada hari Jumat, dikutip dari Reuters.

Surat kabar The Kathmandu Post melaporkan bahwa India, China, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Sri Lanka, dan Bangladesh telah meminta izin kepada pemerintah setempat agar tim pencarian dan penyelamatan mereka dapat membantu operasi tersebut.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut Nepal telah mengindikasikan belum berencana menerima tim penyelamat asing.

"Korea Selatan akan terus bernegosiasi dengan Nepal terkait hal tersebut," tambah kementerian tersebut.

Seoul telah menjanjikan bantuan kemanusiaan sebesar $1 juta melalui organisasi-organisasi internasional, demikian disampaikan menteri luar negerinya melalui platform X.

Sembilan warga negara Korea Selatan yang bekerja di pembangkit listrik tenaga air dilaporkan hilang dan 10 lainnya terdampar, menurut kementerian luar negeri setempat pada hari Rabu.

Baca juga: Banjir Bandang Nepal, Militer Kerahkan Helikopter Selamatkan 100 Orang Terjebak di Terowongan PLTA

Sensitivitas Wilayah Tibet

Dinesh Bhattarai, mantan duta besar Nepal untuk PBB di Jenewa, mengatakan keengganan pemerintah menerima tim SAR asing kemungkinan terkait dengan lokasi Distrik Rasuwa yang terdampak banjir, yang berbatasan langsung dengan wilayah Tibet di China, salah satu isu teritorial paling sensitif bagi Beijing. Nepal telah lama bersikap sangat berhati-hati dalam menjaga hubungan diplomatik dengan negara tetangganya yang jauh lebih besar tersebut.

"Mereka mungkin telah mempertimbangkan sensitivitas lokasi wilayah tersebut dan memutuskan untuk tidak menerima tim asing," ujar Bhattarai kepada Reuters.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Nepal, Chhetri, membantah hal tersebut dan menegaskan bahwa keputusan itu tidak ada kaitannya dengan sensitivitas China, melainkan murni karena tim penyelamat Nepal mampu menangani operasi tersebut sendiri.

"Selama masih ada secercah harapan, upaya semaksimal mungkin harus dilakukan," kata Li, menurut laporan Xinhua.

Ia lebih lanjut menginstruksikan komando penyelamatan untuk "strengthen coordination and communication on emergencies involving foreign nationals or foreign parties" serta bekerja sama dengan otoritas asing untuk mendata korban hilang dan menangani dampak bencana.

Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai alasan Nepal menolak bantuan pencarian dan penyelamatan dari pihak asing.

Media pemerintah China melaporkan bahwa Presiden China Xi Jinping telah menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Nepal pada hari Jumat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.