Nilai Program MBG Tak Perlu, Hasto Kristiyanto Dorong Pemerintah Pakai Resep Warisan Bung Karno
Joko Widiyarso August 29, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM,YOGYA — Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak diperlukan apabila pemerintah mengoptimalkan sosialisasi resep makanan warisan Presiden Soekarno, Mustika Rasa, untuk membangun kemandirian pangan di tingkat desa. 

Hal tersebut disampaikan Hasto saat menyoroti akar masalah tengkes (stunting) yang justru kerap dipicu oleh pergeseran gaya hidup modern, di sela-sela Festival Pariwisata Kuliner Mustika Rasa di Alun-alun Selatan, Yogyakarta, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Hasto, penyelesaian masalah gizi buruk seharusnya berakar pada pemberdayaan potensi lokal masyarakat desa, bukan sekadar memberikan program bantuan yang bersifat turun dari atas (top-down). 

Pendekatan dari atas tersebut dinilainya rentan memicu penyimpangan. Hasto menegaskan, buku Mustika Rasa yang digagas Bung Karno sudah merangkum secara lengkap kandungan gizi dan protein dari bahan pangan lokal yang mudah ditanam oleh rakyat.

"Itulah suatu resep untuk mendidik rakyat agar kita memiliki gizi yang cukup dan semuanya bisa ditanam, bisa didapat dari sumber-sumber sekitar kita. Kalau buku Mustika Rasa itu disosialisasikan dengan baik, sebenarnya program MBG tidak perlu. Karena setiap desa itu bisa mandiri secara pangan. Hanya sayang sekali, pendekatan-pendekatan program untuk rakyat itu sering kali top-down. Dan kemudian muncullah berbagai penyimpangan. Padahal, kalau kita lakukan pemberdayaan dari paling bawah dengan berbekal Mustika Rasa, itu rakyat bisa berdikari dalam mencukupi kebutuhan gizinya," papar Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menyoroti fenomena stunting di Indonesia. Ia memandang hal ini sebagai anomali di era modern, yang banyak disebabkan oleh kelalaian orang tua dalam menyediakan makanan bernutrisi akibat terdistraksi gaya hidup instan. Ia juga mengkritik pergeseran status sosial yang mengagungkan makanan impor yang minim gizi.

"Sebenarnya istilah stunting ini juga terjadi di era modern ketika ibu-ibu sering kali melupakan kecukupan makanan yang bergizi bagi anak-anaknya. Lebih diberikan makanan instan. Dan sering kali kritik yang diberikan, lebih asyik menonton sinetron daripada memberikan makanan yang cukup bagi anak-anaknya," tegas Hasto.

Ia menambahkan, "Nah, sudah lama kita sering kali melupakan seluruh khazanah kuliner kita, dari sumber makanan kita dari yang lokal dan kemudian bergizi karena ada proses pergeseran alam modern. Sepertinya makanan yang memiliki status sosial itu kalau kita makan makanan impor. Padahal itu kan banyak yang junk food juga."

Gizi dari alam

Untuk membuktikan bahwa kemandirian gizi bukan hal yang mustahil, Hasto membagikan kisah masa kecilnya di desa, yang sejalan dengan pengalaman Bung Karno yang lahir dari keluarga miskin namun tetap mampu memenuhi gizi dari alam sekitar.

"Saya ketika di desa, masa kecil saya sudah biasa namanya setiap hari itu mencari daun kedikir, kemudian kemangi, kemudian makan daun kepek, kelor. Dan kemudian sayur-sayuran yang bisa diproduksi di sekitarnya, ditanam di sekitarnya sehingga kita mandiri. Telur itu kita beternak sendiri dari ayam buras, ayam-ayam kampung. Kecil saya memelihara ayam, dan kemudian dari situlah kebutuhan gizi itu dipenuhi. Dan juga sumber pangan yang jauh lebih bervariasi. Makan umbi-umbian, setiap pagi kita bakar, kemudian jagung, sayur-sayuran bisa kita petik sendiri," urainya.

Dalam festival yang merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta, jajaran legislatif, dan PDI Perjuangan ini, kemandirian pangan tersebut direalisasikan melalui keterlibatan sekitar 100 stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain menjadi ajang penggalangan dana bagi korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT), acara ini menampilkan beragam inovasi kuliner tradisional, salah satunya es krim berbahan dasar umbi kimpul yang diapresiasi langsung oleh Hasto.

"Bahkan ada es krim yang dibuat dari kimpul. Tadi kami minta untuk dipatenkan dan kemudian dipromosikan. Karena kalau ini kita buat dalam skala produksi yang lebih banyak, itu akan meningkatkan keekonomiannya. Dan ini sangat-sangat enak sekali ketika kita coba kimpul menjadi es krim. Kemudian juga makanan seperti brongkos, itu suatu hal yang sangat menarik," puji Hasto.

Sebagai penutup, Hasto menyampaikan instruksi Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri kepada seluruh kader untuk terus mempromosikan kekayaan kuliner desa. Melalui langkah tersebut, PDI Perjuangan mengajak rakyat Indonesia untuk kembali berdikari dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga dari pekarangan sendiri, termasuk dengan mendorong anak-anak mulai membiasakan diri memelihara ayam ternak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.