Tama Yuri Rilis Album Perdana 'Biar Aku Dianggap Beruntung', Ceritakan Tiga Fase Perjalanan Hidup
Hari Susmayanti August 29, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberuntungan kerap dilihat dari apa yang tampak di permukaan. Seseorang dianggap beruntung ketika hidupnya terlihat baik, sementara cerita tentang jatuh bangun yang dilalui untuk sampai di titik tersebut sering kali tidak terlihat.

Gagasan itulah yang coba dibawa Tama Yuri melalui album perdananya, 'Biar Aku Dianggap Beruntung'. Album penuh yang resmi dirilis pada 28 Agustus 2026 ini merangkum perjalanan emosional dalam tiga fase, yakni fase cegil, fase terpuruk, dan fase penerimaan.

Sebanyak 11 lagu dalam album tersebut disusun untuk menggambarkan perjalanan seseorang dalam menghadapi cinta, luka, kehilangan arah, hingga akhirnya mampu menerima keadaan.

Fase cegil atau ketika seseorang terjebak dalam perasaan cinta yang begitu dalam dituangkan melalui lagu 'Canggung', 'Dua Sisi', dan 'Tetap Cinta Selamanya Cinta'.

Sementara itu, fase terpuruk hadir melalui 'Duri', 'Hari yang Berat', 'Biasa Saja', dan 'Katanya Rela'. Lagu lagu tersebut menjadi bagian dari cerita tentang masa ketika kehidupan terasa berat dan seseorang kehilangan arah.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju fase penerimaan melalui 'Bukan Salahku', 'Sudut Pandang', 'Good Shower', dan 'Biar Aku Dianggap Beruntung'.

Judul 'Biar Aku Dianggap Beruntung' dipilih karena dianggap mampu mewakili benang merah dari seluruh lagu dalam album tersebut.

Bagi Tama, kalimat itu menggambarkan pilihan seseorang untuk tetap menjalani hidup dengan senyum, meski berkali kali menghadapi luka dan berbagai persoalan.

“Untuk semua hal pahit yang datang, aku taburin gula biar tetep terasa manis, dan terus tersenyum walau dunia di sekeliling menggerus. Sampai akhirnya aku dianggap beruntung”, ujar Tama Yuri menjelaskan makna judul albumnya.

Album ini juga menjadi ruang bagi Tama untuk menuangkan pengalaman yang tidak selalu mudah diceritakan secara langsung.

Ia berharap lagu lagunya dapat menemani pendengar ketika berada dalam situasi sulit sekaligus membuat mereka merasa lebih baik setelah mendengarkannya.

“Album ini lahir dari pengalamanku yang sulit diceritakan juga. Aku pengen pendengar ngerasa relate dan ngerasa dipahami. Aku juga pengen buktiin kalau album independen bisa punya suara yang didengar di seluruh Indonesia. Aku juga membawa semangat bahwa perempuan berhakbpunya suara, berhak lelah, berhak mencintai dengan caranya sendiri, dan tetap berdiri di tengahnsemua itu," ujarnya.

Dalam proses produksinya, Tama Yuri melibatkan sejumlah produser, yakni Fareeq Angkasa, Awal Awe, Milfarasi, serta Usaha Terbaik Kita.

Kolektif produser tersebut terdiri dari Yabes Yuniawan, Ikhwan Hastanto, dan Lintang Larasati.

Seluruh proses pengerjaan album dilakukan di Yogyakarta. Tama dibantu sejumlah pihak dalam proses perekaman instrumen, pengarahan vokal, pengisian vokal latar, hingga penataan dan penyelarasan suara.

Pengecualian terdapat pada lagu 'Katanya Rela' yang proses penataan dan penyelarasan suaranya dikerjakan di Jakarta.

Kehadiran album ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan bermusik Tama Yuri yang mulai dijalani secara serius sejak 2023. Penyanyi penulis lagu yang tumbuh besar di Singkawang, Kalimantan Barat, tersebut mengawali debutnya melalui EP 'Candramawa'.

Sejak kecil, Tama terbiasa mengikuti sang ibu yang harus berpindah pindah tempat dari Palembang, Jakarta hingga Bandung karena pekerjaan. Perpindahan tersebut membuatnya melihat beragam warna kehidupan sejak usia dini.

Berbagai pengalaman itu kemudian ikut memberi pengaruh dalam proses Tama menciptakan musik. Setelah menyadari besarnya mimpi yang ingin dikejar, ia memilih merantau dan menjalani perjalanan sebagai penyanyi sekaligus penulis lagu dengan lebih serius.

Di luar musik, Tama juga aktif melalui berbagai platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Aktivitas tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk membagikan karya, tetapi juga menjadi cara bagi Tama untuk mengajak pendengar masuk lebih jauh ke dalam dunia kreatif yang dibangunnya.

Melalui musik, konten harian, dan berbagai kolaborasi, Tama ingin menunjukkan bahwa perjalanan mengejar mimpi membutuhkan konsistensi sekaligus keberanian.

Setelah perilisan album, Tama juga menyiapkan sebuah aktivasi berupa workshop membuat zine di Jakarta. Kegiatan tersebut nantinya akan mempertemukan Tama dengan sejumlah pendengar untuk membuat zine sambil ditemani lagu lagu dari album terbarunya.

“Rencana aku mau bikin workshop di Jakarta setelah album ini rilis, bareng beberapa pendengar. Kita bakal bikin zine ditemani lagu-laguku. Nanti tiap peserta bisa bawa pulang merchandiseneksklusif yang dibuat dari hasil refleksi mereka”, pungkas Tama Yuri.

Album 'Biar Aku Dianggap Beruntung' kini dapat didengarkan melalui seluruh layanan streaming digital. Lewat 11 lagu di dalamnya, Tama mengajak pendengar melihat keberuntungan dari sudut pandang yang berbeda.

Menjadi beruntung, bagi Tama, tidak selalu berarti menjalani hidup tanpa luka. Ada kalanya keberuntungan justru hadir dari pilihan untuk tetap berjalan, menerima apa yang telah terjadi, dan menemukan cara untuk tersenyum di tengah perjalanan.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.