TRIBUNKALTIM.CO — Pemerintah Iran menyatakan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz berpeluang kembali dibuka setelah Teheran mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai mekanisme lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut.
Namun, rencana pembukaan jalur itu belum bersifat otomatis.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan keputusan tersebut akan bergantung pada kesediaan Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman antara kedua negara.
Nota kesepahaman adalah dokumen yang memuat kesepakatan awal mengenai prinsip atau langkah yang akan dijalankan para pihak, meskipun tidak selalu memiliki kekuatan hukum yang sama dengan perjanjian internasional.
Baca juga: Mojtaba Khamenei 6 Bulan Tak Muncul, Warga Iran Mulai Bertanya Siapa yang Memimpin Negara
Menurut Pezeshkian, rute yang telah disepakati bersama Oman juga telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran.
Pemerintah Iran kini tengah menindaklanjuti pengaturan tersebut.
Ia mengatakan Iran menuntut Washington memenuhi sejumlah komitmen sebelum jalur tersebut dibuka kembali.
Baca juga: China Tegaskan Tak Gentar Sanksi AS, Tetap Pertahankan Kerja Sama Ekonomi dengan Iran
Di antaranya adalah pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset Iran yang dibekukan, dimulainya investasi, serta pengakhiran perang di Lebanon.
“Jika AS memenuhi komitmennya terkait pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset, dimulainya investasi, dan pengakhiran perang di Lebanon, kami juga akan membuka Selat Hormuz,” ujarnya.
Pezeshkian mengatakan pihak Amerika Serikat dalam pembicaraan juga telah menerima gagasan untuk kembali mengacu pada nota kesepahaman tersebut.
Pezeshkian mengungkapkan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah mencapai konsensus yang disebutnya “luar biasa” mengenai kesepakatan tersebut.
Sebanyak 12 dari 13 anggota dewan dilaporkan memberikan suara mendukung.
Menurut Pezeshkian, sejumlah langkah dalam kesepakatan sebelumnya telah dijalankan, mengutip Anadolu Agency, Sabtu (29/8/2026).
Ia mengatakan sanksi dan blokade sempat dicabut, sementara negosiasi mengenai pelepasan dana Iran yang dibekukan telah dimulai.
Pemerintah Iran juga disebut menyiapkan rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS.
Baca juga: Jika Iran Gabung Pakta Makkah, Ini Dampaknya bagi Arab Saudi, AS, dan Israel
Pezeshkian mengatakan Iran telah berdiskusi dengan Qatar dan Uni Emirat Arab mengenai rencana tersebut.
Namun, ia menegaskan investasi tidak dapat berjalan apabila konflik bersenjata terus berlanjut.
Pezeshkian menyebut kondisi perdagangan Iran memburuk akibat tekanan tersebut. Menurutnya, impor dan ekspor Iran turun antara 25 persen hingga 35 persen.
Ia juga mengatakan sanksi terhadap sektor perbankan dan petrokimia telah dicabut berdasarkan nota kesepahaman.
Selama periode berlakunya kesepakatan, Iran disebut telah mengekspor hampir 90 juta barel minyak.
Meski demikian, Pezeshkian mengatakan Iran ingin mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang.
Ia menilai kesepakatan tersebut gagal karena pihak Amerika Serikat tidak memenuhi komitmennya.
Iran dan Oman sebelumnya telah membahas mekanisme pengelolaan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah nota kesepahaman antara Washington dan Teheran gagal bulan lalu.
Kesepakatan tersebut sebelumnya mencakup perpanjangan gencatan senjata April dan pembukaan kembali pelayaran secara bertahap menuju tingkat sebelum perang, sembari Iran dan AS melanjutkan perundingan untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada Februari.
Iran Hadapi Tekanan Energi
Di dalam negeri, Pezeshkian mengatakan Iran saat ini menghadapi situasi yang menyerupai kondisi perang. Jalur distribusi disebut terganggu, barang-barang sulit masuk, dan pendapatan negara menurun.
“Kita sedang dalam keadaan perang,” kata Pezeshkian.
Salah satu tantangan utama adalah menjaga pasokan bensin. Namun, pemerintah Iran belum memutuskan kapan harga bensin akan dinaikkan maupun besaran kenaikannya.
Pezeshkian mengatakan salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah menerapkan tingkat harga ketiga untuk konsumsi yang melampaui kuota reguler.
Harga yang diusulkan sekitar 10.000 toman atau 0,05 dolar AS per unit, sementara rumor mengenai harga 50.000 toman disebut tidak benar.
Setiap perubahan kebijakan harga masih memerlukan konsultasi dengan lembaga peradilan dan parlemen.
Pezeshkian juga menyerukan peningkatan penggunaan transportasi umum untuk mengurangi konsumsi bahan bakar.
Pemerintah mempertimbangkan sejumlah langkah, termasuk perluasan transportasi publik, penerapan standar efisiensi kendaraan yang lebih tinggi, kerja jarak jauh, serta elektrifikasi taksi dan sepeda motor.
Ia mengatakan sejumlah infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik serta fasilitas minyak dan gas, telah menjadi sasaran serangan sehingga produksi energi mengalami penurunan. (*)