Wisata Bukit Kaba Rejang Lebong Bakal Dikembangkan, Mulai dari Paralayang hingga Agrowisata
Ricky Jenihansen August 29, 2026 03:54 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Bukit Kaba atau Gunung Kaba merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian sekitar 1.953 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang ada di Kabupaten Rejang Lebong.

Sekitar 3.000 wisatawan tercatat mengunjungi kawasan Bukit Kaba setiap bulan dalam setahun terakhir.

Jumlah tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rejang Lebong karena sebagian besar pengunjung ternyata bukan berasal dari daerah setempat.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bukit Kaba menyebut sekitar 80 persen wisatawan berasal dari luar Kabupaten Rejang Lebong.

Mayoritas di antaranya bahkan datang dari luar Provinsi Bengkulu.

Bagi Pemkab Rejang Lebong, tingginya kunjungan tersebut menjadi peluang untuk memperluas aktivitas wisata sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Bukit Kaba.

Plt Bupati Rejang Lebong, Hendri Praja, mengatakan potensi Bukit Kaba tidak harus berhenti pada aktivitas pendakian dan berkemah saja.

Untuk itu, Pemkab Rejang Lebong mulai membahas sejumlah alternatif kegiatan yang dapat dikembangkan.

Namun, yang jelas tetap memperhatikan status kawasan sebagai Taman Wisata Alam (TWA) yang berada dalam kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu.

“Potensi yang ada tentu akan kita lihat dan kita kembangkan bersama, tetapi tetap memperhatikan kewenangan BKSDA karena kawasan ini merupakan kawasan konservasi,” sampai Hendri.

Paralayang Jadi Potensi yang Mulai Diuji

Salah satu potensi yang kini mendapat perhatian adalah wisata paralayang.

Komite Paralayang Indonesia (KPI) Kabupaten Rejang Lebong sebelumnya telah melakukan uji coba penerbangan dari kawasan puncak Bukit Kaba menuju Desa Sumber Urip.

Uji coba tersebut menjadi salah satu dasar untuk melihat kemungkinan pengembangan wisata dirgantara di kawasan Bukit Kaba.

Hendri mengatakan, berdasarkan laporan pengurus paralayang, lokasi tersebut dinilai layak untuk dikembangkan sebagai site paralayang.

“Laporan dari pengurus paralayang, areal Bukit Kaba layak dijadikan lokasi untuk wisata paralayang. Berarti sudah ada beberapa site di Kabupaten Rejang Lebong ini untuk dijadikan lokasi wisata paralayang,” ujarnya.

Namun, Pemkab Rejang Lebong belum dapat menetapkan pola pengembangan wisata paralayang secara sepihak.

Pasalnya, kawasan Bukit Kaba merupakan TWA yang berada di bawah kewenangan BKSDA Provinsi Bengkulu.

Karena itu, pembahasan lebih lanjut akan dilakukan antara pemerintah daerah dengan BKSDA untuk menentukan bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan di kawasan tersebut.

“Tinggal lagi seperti apa komunikasi lanjutan antara Pemkab dan BKSDA untuk pengembangan wilayah tersebut,” kata Hendri.

Kaki Bukit Kaba Juga Punya Potensi

Pemkab Rejang Lebong juga melihat peluang pengembangan wisata di desa-desa yang berada di sekitar Bukit Kaba.

Salah satunya Desa Sumber Urip yang memiliki aktivitas pertanian dan potensi kearifan lokal masyarakat.

Potensi tersebut dinilai dapat dikemas menjadi bagian dari perjalanan wisata sehingga kunjungan wisatawan tidak hanya terpusat pada aktivitas pendakian di kawasan Bukit Kaba.

Konsep yang mulai dibicarakan antara lain agrowisata dan ekowisata.

Dengan pola tersebut, masyarakat di desa penyangga diharapkan dapat ikut memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

"Terkait ini tentunya pembahasan mengenai pengembangan potensi tersebut akan dilakukan bersama Pokdarwis dan volunteer Bukit Kaba," papar Hendri.

Pemkab juga ingin memperoleh referensi dari daerah lain yang telah mengembangkan kawasan wisata pegunungan.

Pokdarwis Akan Studi Banding ke Gunung Kerinci

Salah satu langkah yang disiapkan adalah studi banding Pokdarwis Bukit Kaba ke kawasan Gunung Kerinci pada bulan depan.

Kegiatan tersebut akan dilakukan secara mandiri.

Dalam studi banding itu, Pokdarwis akan mempelajari pengelolaan kawasan pendakian serta melihat kemungkinan pengembangan jenis wisata lain yang dapat menjadi referensi bagi Bukit Kaba.

“Kita berharap bisa membawa banyak hasil dari studi banding tersebut. Termasuk bagaimana pengembangan wisata paralayang dari puncak Sumatera tersebut,” ungkap Hendri.

Menurutnya, pengalaman dari kawasan wisata lain dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum Pemkab Rejang Lebong menentukan konsep pengembangan TWA Bukit Kaba.

Pokdarwis Minta Dukungan Pemerintah

Ketua Pokdarwis Bukit Kaba, Yulian Adi Pratama, mengatakan pihaknya siap terlibat dalam rencana pengembangan wisata tersebut.

Menurut Adi, Pokdarwis bersama volunteer selama ini telah ikut mengelola berbagai aktivitas di kawasan Bukit Kaba.

Ia menilai dukungan pemerintah daerah diperlukan agar pengelolaan dan pengembangan potensi wisata dapat dilakukan secara lebih terarah.

“Kami siap mendukung program pemerintah daerah dalam pengembangan potensi wisata di Bukit Kaba. Selama ini Pokdarwis bersama teman-teman volunteer juga terus berupaya untuk mengembangkan kawasan ini,” ujar Adi.

Adi berharap dukungan pemerintah tidak hanya diberikan untuk pengembangan destinasi.

Tetapi juga terhadap aktivitas pengelolaan yang selama ini telah dilakukan Pokdarwis dan volunteer.

“Kami berharap dukungan penuh dari pemerintah daerah terhadap pengelolaan kawasan TWA Bukit Kaba yang selama ini sudah dilakukan oleh Pokdarwis dan volunteer,” katanya.

Pengembangan Bukit Kaba selanjutnya akan dibahas bersama instansi dan pihak terkait, terutama BKSDA Provinsi Bengkulu.

Koordinasi tersebut diperlukan agar setiap rencana pengembangan wisata tetap sesuai dengan ketentuan pengelolaan kawasan konservasi.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.