Hujan di OKU dan Lahat Bantu Tekan Karhutla, Terdeteksi ada 287 Titik Hotspot di Sumsel
Slamet Teguh August 29, 2026 04:32 PM

 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai menunjukkan penurunan.

Penurunan tersebut dipengaruhi hujan yang mengguyur sejumlah wilayah, khususnya Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) dan Lahat, pada Jumat (28/8/2026).

Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan penurunan jumlah hotspot menjadi indikasi positif di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.

"Titik hotspot karhutla mulai terpantau turun karena ada hujan kemarin Jumat di OKU dan Lahat," kata Sudirman saat dikonfirmasi, Sabtu (29/8/2026).

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Sumsel hingga Sabtu (29/8/2026) pukul 05.00 WIB, terdeteksi sebanyak 287 titik hotspot di Sumsel.

Sebaran hotspot terbanyak berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dengan 101 titik, Banyuasin 53 titik, Muara Enim 48 titik, Musi Banyuasin 28 titik, OKU Timur 15 titik, Ogan Ilir 14 titik, PALI 7 titik, Lahat 5 titik, Musi Rawas 5 titik, OKU Selatan 5 titik, Musi Rawas Utara 4 titik, dan OKU 2 titik.

Sementara itu, akumulasi hotspot di Sumsel sepanjang 2026 hingga 28 Agustus mencapai 19.438 titik berdasarkan data Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dari sisi kejadian, BPBD Sumsel mencatat sebanyak 2.001 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 28 Agustus 2026. Indikasi luas lahan yang terbakar mencapai 1.926 hektare.

Kabupaten OKI menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 354 kejadian. Selanjutnya Musi Banyuasin 237 kejadian, Ogan Ilir 229 kejadian, Banyuasin 220 kejadian, Muara Enim 193 kejadian, Palembang 163 kejadian, dan PALI 151 kejadian.

Baca juga: Kebakaran Lahan di Lubuklinggau Melonjak Tajam, Damkar Lubuklinggau Siaga 24 Jam

Meski jumlah hotspot mulai menurun, BPBD Sumsel tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, potensi hujan belum merata di seluruh wilayah Sumsel, sementara kondisi kemarau masih berpotensi memicu kembali terjadinya kebakaran.

Selain melakukan patroli darat dan udara serta memantau sebaran hotspot, penanganan karhutla dilakukan melalui operasi pemadaman darat, pemadaman udara menggunakan helikopter water bombing, sosialisasi pencegahan karhutla, serta kesiapsiagaan personel di wilayah rawan.

"Kita tetap melakukan pemantauan dan penanganan di wilayah yang masih terdapat karhutla. Penurunan hotspot ini tentunya sangat membantu dalam upaya pengendalian karhutla," ujar Sudirman.

Di sisi lain, kualitas udara di sejumlah daerah masih perlu diwaspadai. Data DLHP Provinsi Sumsel pada 29 Agustus 2026 pukul 06.00 WIB mencatat ISPU Palembang berada di angka 159 atau masuk kategori tidak sehat.

Kondisi serupa terjadi di Musi Rawas dengan ISPU 160 dan PALI 174, yang juga berada dalam kategori tidak sehat.

BPBD Sumsel mengimbau masyarakat, terutama yang berada di wilayah rawan karhutla, untuk tidak melakukan pembakaran lahan.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.

 

 

 

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.