SURYA.co.id, JOMBANG — Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ikut meningkatkan aktivitas ziarah ke makam KH Abd Wahab Hasbullah.
Ribuan peziarah memadati kompleks makam tokoh pendiri NU tersebut, bahkan jumlahnya disebut melonjak hingga lebih dari empat kali lipat dibanding hari biasa.
Pada Sabtu (29/8/2026), rombongan peziarah datang silih berganti ke makam Mbah Wahab.
Mereka tidak hanya berasal dari kalangan muktamirin atau peserta Muktamar NU, tetapi juga simpatisan dan warga Nahdliyin dari berbagai daerah.
Sebagian peziarah datang menggunakan rombongan besar. Mereka kemudian mengaji dan memanjatkan doa serta tahlil di depan makam Mbah Wahab.
"Selama Muktamar ini jumlah peziarah sangat banyak," kata Syaiful, juru kunci Makam Mbah Wahab, kepada SURYA.co.id di lokasi, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Syaiful, makam Mbah Wahab sejatinya memang selalu ramai peziarah setiap hari.
Dalam kondisi normal, jumlah kendaraan yang datang bisa mencapai sekitar 50 bus dalam sehari.
Baca juga: Di Muktamar NU Jombang, PAN Buka Posko Makan hingga Layanan Kesehatan
Namun, jumlah tersebut belum termasuk rombongan yang menggunakan kendaraan elf maupun kendaraan pribadi.
"Terutama, di akhir pekan. Itu belum yang pakai elf, kendaraan pribadi itu banyak sekali. Ya sekarang malah lebih, gak bisa dihitung. Sampai parkirannya gak cukup," ucap Syaiful.
Lonjakan peziarah terjadi seiring berlangsungnya Muktamar ke-35 NU yang dipusatkan di kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Lokasi makam yang berada di kompleks pesantren membuat banyak peserta dan warga NU yang datang ke Muktamar menyempatkan diri berziarah.
Rombongan peziarah tampak bergantian memasuki area makam. Aktivitas doa dan tahlil menjadi bagian dari rangkaian ziarah yang dilakukan para pengunjung.
Meningkatnya jumlah peziarah juga tidak terlepas dari posisi Mbah Wahab dalam sejarah Nahdlatul Ulama.
KH Abd Wahab Hasbullah lahir di Tambakberas, Jombang, pada 31 Maret 1888.
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam proses berdirinya NU bersama KH Hasyim Asy'ari dan KH Bisri Syansuri.
Selain kiprahnya dalam organisasi, Mbah Wahab juga dikenal sebagai pencipta lagu Yaa Lal Wathan. L
agu tersebut kemudian lekat dengan tradisi NU dan membawa pesan mengenai kecintaan terhadap tanah air.
Yaa Lal Wathan ditulis Mbah Wahab pada 1934.
Pesan mengenai nasionalisme dalam lagu tersebut membuat karya Mbah Wahab tetap dikenal hingga kini.
Mbah Wahab wafat pada Rabu, 29 Desember 1971, dalam usia 83 tahun.
Atas jasa dan perjuangannya bagi agama, bangsa, dan negara, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Mbah Wahab pada 7 November 2014.
Salah seorang peziarah, Huda, mengatakan dirinya termasuk orang yang cukup sering berziarah ke makam Mbah Wahab.
Pria asal Lamongan tersebut memiliki kedekatan dengan kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas karena pernah menimba ilmu di pesantren tersebut.
Karena itu, momentum Muktamar ke-35 NU menjadi kesempatan baginya untuk kembali berziarah ke makam Mbah Wahab.
"Mbah Wahab itu adalah tokoh inspirator dari berdirinya Nahdlatul Ulama. Beliau sekaligus pendiri dan sekaligus penggerak," ungkap Huda.
Menurut Huda, perjuangan Mbah Wahab masih relevan untuk menjadi teladan bagi warga Nahdliyin hingga sekarang.
Salah satunya adalah kemampuan Mbah Wahab dalam membangun konsolidasi dan menggerakkan berbagai elemen hingga terbentuknya Nahdlatul Ulama.
"Bagaimana melakukan konsolidasi untuk membentuk Nahdlatul Ulama ini," tandas Huda.
Bagi para peziarah, kunjungan ke makam Mbah Wahab di tengah Muktamar ke-35 NU bukan sekadar aktivitas ziarah.
Momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk mengenang kembali sejarah, perjuangan, serta nilai-nilai yang diwariskan salah satu tokoh penting NU tersebut.