Muktamar NU ke-35 dan Masa Depan Rumah Besar Nahdlatul Ulama
Dewi Haryati August 29, 2026 05:07 PM

TRIBUNBATAM.id - Rumah Besar Nahdlatul Ulama saat ini sedang melangsungkan sebuah musyawarah besar (Muktamar) forum musyawarah tertinggi para Ulama yang juga dihadiri oleh jutaan warga nahdliyin.

Sebagaimana rumah besar tentunya begitu kompleks persoalan dan dasar pemikiran seorang nahdliyin baik sebagai seorang nahdliyin kultur maupun pengurus struktur organisasi.

Maka pandangan Muktamar menjadi sempit jika dianggap sebagai sebuah seremonial pemilihan pengurusan baru, tapi harus lebih ditekankan kepada kebutuhan organisasi dan masyarakat Indonesia secara umum sehingga Ketua Umum terpilih ada produk dan bukan tujuan dari Muktamar.

Dinamika dan ragam perubahan tentunya menjadi konsensus yang penting diperhatikan dalam memilih figur pemimpin baru untuk sebuah rumah besar, karenanya kompleksitas persoalan dan tantangan pada tahun 1926 dimana NU lahir tentunya tidak sama dengan 2026.

Lahir dari kepedulian para Alim Ulama dalam mengelola ekosistem pesantren yang lebih luas, Nahdlatul Ulama juga konsisten memberikan kontribusi yang lebih besar kepada bangsa dan negara dari berbagai aspek keilmuan dan nilai kemanusiaan.

Hal yang demikian ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengurus rumah besar Nahdlatul Ulama.

Menurut saya sebagai seorang pengasuh Pondok Pesantren di Bali, dimana muslim menjadi minoritas di sini tentunya memiliki harapan besar agar figur pemimpin rumah besar Nahdlatul Ulama dapat memahami kebutuhan besar serta berdampak kepada masyarakat Indonesia secara umum bukan lagi terkonsentrasi hanya kepada jamiyah dan kelompok tertentu.

Alhamdulillah sudah muncul ke permukaan figur-figur ahli terbaik saat ini yang bisa mengemban amanah sebagai pengurus baru rumah besar Nahdlatul Ulama menurut pandangan saya pribadi.

Terdapat nama-nama Ulama Alim yang ahli dalam bidangnya maju dalam muktamar NU. Ada Ulama Jawa Timur dan pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) yang juga cucu dari dzuriah pendiri Nahdlatul Ulama.

Sebagai Kiai Pesantren tulen dan figur yang dapat mengkoordinir Kiai-Kiai Pesantren dan istiqamah merawat santri tentunya beliau sangat layak untuk duduk menjadi Katib Aam PBNU karena sejalan dengan konsentrasi dan keilmuan.

Dari ragam kompleksitas kebutuhan dan tantangan NU di masa depan juga hadir figur Dr. KH. Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin seorang Ulama Muda yang cukup visioner di kalangan Nahdlatul Ulama.

Sebagai Kiai Muda yang aktif dalam banyak kegiatan dakwah organisasi, beliau juga salah satu inisiator dan penggerak lahirnya Hari Santri Nasional 22 Oktober yang telah disahkan lewat Keppres No.22 tahun 2015.

Gus Rozin juga aktif membahas tentang perkembangan ekonomi digital pesantren, climate change, AI, juga memiliki hubungan relasi kenegaraan yang kuat mulai mengemban amanat menjadi Dewan Ketahanan Pangan Nasional, menjadi Stafsus Presiden Bidang Keagamaan, mengawal lahirnya Undang-undang Pesantren, menjadi panitia seleksi calon anggota Ombudsman hingga dipercaya menjadi tim penyusun pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia.

Dari banyaknya kapabilitas dan bagusnya rekam jejak Gus Rozin, tentunya beliau masuk dalam kelayakan untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Dalam kebutuhan Rais Aam PBNU tentunya menunggu kesepakatan dan mufakat dari sembilan Alim Ulama Sepuh di AHWA yang dapat lebih arif dalam menentukan siapa Ulama Sepuh yang akan duduk menjadi Rais Aam PBNU.

Namun dengan dinamika kehidupan dan kebutuhan jamiyah menurut saya akan menjadi berkah jika Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj yang mampu menjadi figur Bapak dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Banyak penilaian dan pertimbangan yang menjadi dasar kebutuhan Jamiyah. (*)


Penulis: H. Ainun Ni’am, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlotul Huffadz, Tabanan, Bali

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.