Pantau Risiko Konflik dengan Manusia, Gajah Sumatera di Bentang Seblat Mukomuko Dipasangi GPS Collar
Ricky Jenihansen August 29, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) liar di Bentang Alam Seblat (BAS), Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, dipasangi perangkat pemantau GPS Collar untuk memantau posisi dan pola pergerakannya.

Berdasarkan siaran pers BKSDA Bengkulu, Kementerian Kehutanan, pemasangan dilakukan pada Sabtu (22/8/2026) di Bentang Alam Seblat, Kabupaten Mukomuko.

Data pergerakan gajah tersebut diharapkan dapat membantu merespons risiko konflik antara satwa dan manusia secara lebih cepat.

GPS Collar merupakan alat pelacak berbasis satelit berbentuk kalung yang dapat digunakan untuk memantau pergerakan hewan secara real-time.

Pada hewan besar seperti Gajah Sumatera, perangkat ini digunakan untuk memantau posisi dan pergerakan serta dapat mendukung sistem peringatan dini (early warning system) sebelum gajah mendekati permukiman.

Gajah yang dipasangi GPS Collar merupakan gajah betina dengan bobot diperkirakan sekitar 2,8 hingga 3 ton.

Sebelum perangkat dipasang, tim melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan gajah secara menyeluruh.

Sampel darah dan feses juga diambil untuk kebutuhan analisis laboratorium.

Selama proses penanganan, tim juga memantau keberadaan satu gajah betina berukuran lebih kecil yang berada tidak jauh dari lokasi.

Pantau Pergerakan Gajah

Kepala Balai KSDA Bengkulu Agung Nugroho mengatakan, pemasangan GPS Collar merupakan langkah strategis untuk mendapatkan data pemantauan yang lebih akurat dan real-time.

"Dengan mengetahui pola pergerakan kawanan gajah, kita tidak hanya dapat merespons risiko konflik satwa dan manusia secara lebih cepat, tetapi juga memperkuat mitigasi serta pengelolaan habitatnya secara bijak. Ini adalah bukti nyata komitmen BKSDA Bengkulu bersama para mitra untuk terus menjaga kelestarian Gajah Sumatera di benteng alaminya," ujarnya.

GPS Collar tersebut menjadi instrumen untuk memantau keberadaan dan pergerakan kelompok gajah secara berkala dan akurat.

Data spasial yang diperoleh dari pemantauan pola pergerakan harian gajah liar nantinya menjadi pijakan bagi BKSDA Bengkulu maupun pengelola kawasan untuk meningkatkan efektivitas pemantauan lapangan, merencanakan pengelolaan habitat, serta mengambil keputusan dan langkah konservasi yang presisi.

Setelah seluruh rangkaian pemasangan selesai, pemantauan intensif terhadap gajah mulai dilakukan.

GPS Collar telah aktif dan gajah tersebut terpantau bergerak aktif.

BKSDA Bengkulu juga merencanakan pemasangan GPS Collar pada kawanan gajah lainnya.

Bentang Alam Seblat Jadi Habitat Gajah Sumatera

Bentang Alam Seblat merupakan kawasan ekosistem penting di Provinsi Bengkulu yang berfungsi sebagai salah satu habitat dan benteng terakhir Gajah Sumatera.

Kawasan ini disebut memiliki luas lebih dari 150.000 hingga 300.000 hektare dan mencakup bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) serta Taman Wisata Alam (TWA) Seblat.

Bentang Alam Seblat juga bersinggungan dengan kawasan hutan produksi, area konsesi, serta perkebunan.

Kawasan ini menjadi rumah bagi puluhan Gajah Sumatera liar dan berbagai satwa dilindungi lainnya serta menghubungkan kantong-kantong habitat penting di jalur Bukit Barisan.

Gajah Sumatera sendiri merupakan subspesies gajah Asia yang hanya berhabitat di Pulau Sumatra.

Posturnya lebih kecil dibandingkan subspesies gajah India.

Populasi Gajah Sumatera semakin menurun dan termasuk dalam kategori kritis.

Kondisi tersebut menempatkan pemantauan pergerakan gajah dan pengelolaan habitat sebagai bagian dari upaya konservasi Gajah Sumatera di Bentang Alam Seblat.

Tim Angon Pantau Kawanan Gajah

Selain menggunakan GPS Collar, BKSDA Bengkulu mengoptimalkan Tim Patroli Monitoring atau Tim Angon Gajah Liar untuk melakukan pemantauan langsung secara intensif terhadap pergerakan kawanan gajah.

Tim tersebut juga melakukan pemusnahan terhadap potensi ancaman langsung, seperti jerat dan bahan-bahan berbahaya yang ditemukan di jalur pergerakan gajah.

Pemantauan melalui GPS Collar dan pemantauan langsung oleh Tim Angon Gajah Liar menjadi bagian dari upaya BKSDA Bengkulu untuk mengetahui pergerakan kawanan, mendukung mitigasi konflik satwa dan manusia, serta pengelolaan habitat Gajah Sumatera.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.