Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
Penyeberangan ini menjadi jalur utama dan paling cepat bagi anak-anak di Desa Budiharja untuk sampai ke sekolahnya. Mereka menyeberangi Waduk Saguling menggunakan rakit bambu dengan mempertaruhkan keselamatannya, terutama jika debit air sungai mendadak naik.
Pemandangan anak-anak naik rakit pun ramai di media sosial salahsatunya diunggah akun instagram @folkbandungbarat.
Baca juga: Menantang Risiko di Waduk Saguling, Rakit Bambu Jadi Alat Transportasi ke Sekolah
KDM pun angkat bicara dan mengaku telah secara langsung dihubungi oleh Bupati Bandung Barat, Jeje Ismail.
"Awalnya mau oleh kami (Provinsi Jabar) dibangun (jembatan) tapi bupatinya sudah langsung menghubungi, karena saya langsung posting dan PU turun hari ini. Bupati (Bandung Barat) telpon saya, pak Gubernur jangan oleh gubernur, oleh bupati saja, ya saya bilang terima kasih," kata KDM ditemui di Hotel Horison, Sabtu (29/8/2026) sore.
Pengamat Kebijakan Publik dari Unpar Bandung, Kristian Widya Wicaksono menyoroti fenomena yang viral itu yang menilainya suatu indikasi adanya persoalan dalam perencanaan pembangunan daerah, khususnya bila akses berbahaya menuju sekolah telah berlangsung lama dan diketahui pemerintah, namun belum mendapatkan penanganan jelas.
"Jika suatu wilayah sudah lama miliki akses berbahaya dan pemerintahnya tahu masalah itu, tapi tak memasukkannya sebagai skala prioritas, maka persoalannya bukan lagi sekadar keterbatasan anggaran, melainkan ada masalah dalam penentuan prioritas pembangunan dan kualitas pengambilan keputusan," katanya.(*)
Baca juga: Siswa Harus Seberangi Waduk Saguling ke Sekolah, Pengamat: Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab