Liputan6.com, Jakarta - Kulit pisang yang biasanya berakhir di tempat sampah, rupanya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk cair yang ampuh. Namun, membuat dan menggunakannya tidak bisa dilakukan sembarangan karena proses fermentasi, penyaringan, pengenceran, hingga takaran memerlukan aturan khusus. Jika penggunaannya tidak sesuai, pupuk cair justru berisiko mengganggu kondisi tanaman.
Meski begitu, proses fermentasi sebenarnya bisa dilakukan dengan bahan dan peralatan sederhana di rumah yang cenderung lebih aman. Hasilnya beberapa jenis tanaman, termasuk cabai bisa tumbuh dan menghasilkan buah.
Bagi yang penasaran cara membuat pupuk cair dari kulit pisang, berikut Liputan6 hadirkan langkah mudahnya, dirangkum sebagai salah satu metode berkebun di rumah, Sabtu (29/8).

Kulit pisang dapat berasal dari beberapa buah yang sudah dikonsumsi. Pilih kulit yang belum bercampur dengan minyak, garam, saus, atau sisa makanan lain karena bahan tersebut dapat mengubah kondisi cairan selama penyimpanan. Kulit kemudian dipotong menjadi bagian kecil agar lebih mudah tercampur dengan bahan lain.
Bahan yang diperlukan terdiri atas kulit pisang, air, gula merah atau gula pasir, serta wadah yang memiliki penutup. Jumlah bahan dapat disesuaikan dengan ukuran wadah yang tersedia. Untuk pemula, sebaiknya membuat dalam jumlah sedikit terlebih dahulu agar prosesnya mudah diamati.
Setelah semua bahan masuk ke wadah, aduk hingga kulit pisang dan gula tercampur dengan air. Jangan mengisi wadah sampai penuh karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas. Sisakan ruang di bagian atas wadah agar tekanan tidak menumpuk.
Tutup wadah, tetapi periksa secara berkala selama penyimpanan. Jika wadah terasa mengembang, buka penutup secara perlahan untuk mengeluarkan gas, kemudian tutup kembali. Proses ini membantu menjaga wadah tetap aman selama cairan disimpan.

Lama fermentasi kulit pisang dapat berbeda bergantung pada bahan, suhu tempat penyimpanan, dan kondisi campuran. Untuk penggunaan rumahan, cairan dapat disimpan selama beberapa hari hingga beberapa minggu sambil diperiksa secara berkala. Tidak perlu terburu-buru menggunakan cairan sebelum prosesnya selesai.
Selama penyimpanan, perubahan warna dan aroma dapat terjadi. Cairan hasil fermentasi umumnya memiliki aroma khas yang berbeda dari air biasa. Jika muncul bau busuk yang menyengat, lapisan jamur yang tidak biasa, atau kondisi campuran terlihat bermasalah, sebaiknya cairan tidak digunakan pada tanaman.
Setelah fermentasi selesai, pisahkan cairan dari potongan kulit pisang. Gunakan saringan untuk mendapatkan cairan yang tidak membawa banyak ampas. Ampas yang tersisa dapat dicampurkan ke kompos atau dimasukkan ke media pengolahan sampah organik.
Cairan yang sudah disaring sebaiknya dimasukkan ke botol atau wadah bersih. Beri tanda tanggal pembuatan agar waktu penyimpanan mudah diketahui. Wadah juga sebaiknya tidak dibiarkan terbuka karena debu dan kotoran dapat masuk ke dalam cairan.

Pupuk cair hasil fermentasi tidak sebaiknya langsung dituangkan dalam jumlah banyak ke tanaman cabai. Cairan perlu dicampur dengan air terlebih dahulu. Pengenceran membantu mengurangi risiko cairan terlalu pekat ketika mengenai tanah atau bagian tanaman.
Pemberian dapat dilakukan dengan menyiramkan cairan yang sudah diencerkan ke tanah di sekitar tanaman, bukan membasahi seluruh daun. Gunakan secukupnya dan amati respons tanaman setelah pemberian. Jika tanaman menunjukkan perubahan yang tidak diinginkan, hentikan sementara penggunaannya.
Waktu pemberian perlu diperhatikan agar perawatan tanaman cabai tetap berjalan teratur. Pupuk cair dapat diberikan ketika tanah tidak sedang terlalu basah. Jika tanah baru saja terkena hujan atau mendapat banyak air, pemberian dapat ditunda hingga kondisi tanah kembali sesuai untuk penyiraman.
Tanaman cabai juga membutuhkan cahaya matahari, air, ruang tumbuh, dan media tanam yang mendukung. Ketika tanaman mulai berbunga, perawatan perlu dilakukan secara konsisten karena pembentukan buah dipengaruhi banyak faktor. Fermentasi kulit pisang untuk pupuk cair tidak dapat menjamin tanaman langsung menghasilkan buah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menggunakan wadah tanpa ruang udara, memasukkan kulit pisang yang tercampur bahan makanan lain, atau menggunakan cairan tanpa pengenceran. Kondisi tersebut dapat membuat proses tidak berjalan sesuai harapan dan meningkatkan risiko masalah ketika cairan diberikan kepada tanaman.
Penggunaan pupuk cair terlalu sering juga perlu dihindari. Tanaman cabai tidak hanya membutuhkan tambahan dari pupuk, tetapi juga perawatan pada media, air, cahaya, dan bagian tanaman. Jika salah satu kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, penambahan pupuk belum tentu menyelesaikan masalah.

Fermentasi kulit pisang untuk pupuk cair dapat digunakan sebagai bagian dari perawatan tanaman cabai, tetapi tidak ada jaminan bahwa penggunaannya akan membuat tanaman langsung berbuah. Tanaman tetap memerlukan kondisi tumbuh yang sesuai agar dapat melewati tahap pertumbuhan, pembungaan, dan pembentukan buah.
Karena itu, hasil penggunaan pupuk cair sebaiknya dilihat bersama kondisi tanaman secara keseluruhan. Jika tanaman tumbuh tetapi belum berbunga, periksa kebutuhan cahaya, air, media tanam, serta kondisi daun dan batang. Jika sudah berbunga tetapi buah tidak berkembang, perhatikan kembali cara penyiraman dan kondisi tanaman.
Dengan cara tersebut, fermentasi kulit pisang untuk pupuk cair dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kebiasaan merawat tanaman dan mengurangi sisa organik dari dapur. Penggunaannya tetap perlu dilakukan secukupnya dan disesuaikan dengan kondisi tanaman cabai.
Bisa. Kulit pisang dapat difermentasi bersama air dan gula, kemudian cairannya disaring dan diencerkan sebelum digunakan.
Waktunya dapat berbeda, tetapi umumnya membutuhkan beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung kondisi bahan dan penyimpanan.
Pupuk cair dapat menjadi bagian dari perawatan, tetapi waktu berbuah juga dipengaruhi cahaya, air, media tanam, dan kondisi tanaman.
Sebaiknya diencerkan sebelum diberikan ke tanaman untuk menghindari penggunaan cairan yang terlalu pekat.
Cairannya sebaiknya disaring terlebih dahulu dan digunakan setelah diencerkan, sedangkan ampasnya dapat dimanfaatkan untuk kompos.