TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Bambang Setiyawan (59), seorang pedagang cermin, menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam kericuhan yang terjadi setelah demonstrasi 27 Agustus di depan Gedung DPR.
Bambang meninggal dunia setelah menjadi korban kericuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Putra almarhum, Yoga Noval (29), mengungkapkan pesan sang ayah yang hingga kini terus diingatnya.
Yoga mengaku tidak memiliki firasat sebelum peristiwa yang menimpa ayahnya tersebut.
"Kalau untuk firasat, ibu yang ngerasain. Kalau saya nggak ada," kata Yoga kepada Tribunnews, Jumat (28/8/2026).
Menurut Yoga, sang ayah selalu berpesan agar dirinya berbuat baik kepada orang lain dan membantu siapa pun yang membutuhkan.
"Baik sama orang, bantuin orang kalau orang butuh bantuan. Terus sering beramal kalau punya uang lebih," ungkapnya.
Semasa hidup, Bambang bekerja menjalankan usaha kios yang menjual kaca.
Setelah sang ayah meninggal dunia, Yoga mengatakan usaha tersebut kemungkinan akan diteruskan oleh dirinya bersama sang ibu.
"Kemungkinan saya atau ibu yang melanjutkan. Mau tidak mau harus diurus," ucapnya.
Kronologi Bambang Setiyawan Jadi Korban Demo 27 Agustus
Yoga juga menceritakan bahwa sebelum menjadi korban kericuhan, ayahnya sempat membantu mengantar seorang tetangga yang sedang sakit ke rumah sakit.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah kericuhan demonstrasi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.
Awalnya, seorang tetangga mencari Bambang karena sedang sakit dan meminta ditemani ke rumah sakit.
Saat itu, kondisi tetangga tersebut sudah lemas.
"Saya, bapak, dan tetangga itu bertiga. Saya antar ke rumah sakit Pelni," ucap Yoga.
Setelah tiba di rumah sakit, Yoga kemudian pulang terlebih dahulu ke rumah.
Ia sempat meminta ayahnya untuk menghubungi jika ingin pulang agar bisa dijemput.
"Saya bilang ke bapak, kalau mau pulang nanti kabarin saja nanti dijemput. Tetapi bapak pulang jalan kaki karena katanya tidak ada angkot," ucapnya.
Sekitar pukul 22.00 WIB, Bambang tiba di rumah dan sempat bertemu dengan istrinya, Sudarsih.
Namun, tidak lama kemudian Bambang kembali keluar rumah.
"Bapak sudah ganti baju kemudian keluar katanya mau ke rumah sakit Pelni lagi," imbuhnya.
Sekitar pukul 22.00 WIB, terjadi kericuhan setelah seorang anak bernama Fatur disebut ditangkap oleh massa aksi.
Menurut Yoga, ayahnya sempat mundur dan masuk kembali ke rumah dalam kondisi aman.
Namun, Bambang kembali keluar rumah karena hendak menyalakan lampu di toko kaca miliknya.
"Lalu terdengar teriakan ada yang mari dua (orang).
"Saya bersama teman kemudian ke depan untuk mengecek, saya lihat ada darah," terangnya.
Setelah melihat kejadian tersebut, Yoga bersama keluarganya kemudian mencari keberadaan Bambang.
Yoga dan kakaknya mencari informasi mengenai keberadaan sang ayah di sejumlah rumah sakit di Jakarta.
Hingga sekitar pukul 04.00 WIB, kakaknya mengirimkan sebuah video kepada Yoga.
"Sekitar pukul 4 pagi, abang saya mengirim video. Dia bilang, 'Coba lihat, ini bapak bukan?'
"Saya lihat videonya. Awalnya masih ragu, tetapi setelah saya pause dan lihat wajahnya, ternyata memang bapak," ucap Yoga.
Yoga kemudian mengetahui bahwa jasad ayahnya berada di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr Mintohardjo, Jakarta Pusat.
Jasad Bambang selanjutnya dipindahkan ke RS Polri, Jakarta Timur.
Yoga kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada kakak dan ibunya.
Ia mengatakan kondisi jasad ayahnya ditemukan dengan sejumlah luka.
"Sesampainya di rumah saya langsung teriak 'Mama, Bapak udah nggak ada,'" tandas Yoga.
Baca juga: 19 Rumah Terbakar di Cempaka Putih Tadi Siang Berdampak pada 59 Orang
Baca juga: Daftar 10 Tersangka Karhutla di Provinsi Jambi per 29 Agustus 2026
Baca juga: Satu Mobil Pelat Merah di Batang Hari Kabarnya Kecelakaan dengan Pemotor di Muara Bulian