TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banner bertuliskan ucapan selamat datang berdiri di pintu timur Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Jombang. Di balik pintu itu, sejumlah kasur telah disiapkan.
Bukan untuk jemaat yang hendak beribadah, melainkan untuk para peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), warga Nahdliyin, hingga jurnalis yang datang ke Jombang dan membutuhkan tempat beristirahat.
Baca juga: Live Update Muktamar NU ke-35 Jombang, Menentukan Pemimpin 2026-2031
Selama rangkaian Muktamar NU berlangsung, gereja di Jalan Adityawarman Nomor 54, Desa Kaliwungu, Jombang, itu membuka ruang penginapan secara cuma-cuma.
Para tamu bisa tidur, mandi, menggunakan Wifi, hingga menikmati kopi dan teh tanpa dipungut biaya.
Baca juga: Muktamar NU Batasi Ruang Politik Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, Tak Boleh Rangkap Jabatan
Pemandangan itu menjadi kisah kecil tentang toleransi yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk Muktamar NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Guru Injil GKJW Jombang, Pramoedito (64), mengatakan keputusan membuka gereja bagi para muktamirin merupakan bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Muktamar NU.
"Jadi GKJW Jombang membuka posko untuk tempat singgah atau tempat bermalam dari teman-teman Nahdliyin dalam rangka mendukung Muktamar ke-35 NU," ujar Pramoe saat ditemui di GKJW Jombang, Sabtu (29/8/2026).
Ruang penginapan berada di lantai II bagian belakang gereja. Sejumlah fasilitas sederhana disiapkan agar para tamu dapat beristirahat dengan nyaman setelah mengikuti aktivitas Muktamar.
Letaknya pun cukup strategis. GKJW Jombang hanya berjarak sekitar 300 meter dari Stasiun Jombang dan alun-alun kota. Sementara perjalanan menuju lokasi utama Muktamar NU di Tambakberas berjarak sekitar 5 kilometer.
Posko tersebut mulai dibuka pada Minggu (23/8/2026), beberapa hari sebelum Muktamar dimulai, dan dijadwalkan tetap melayani para tamu hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir.
Selama dibuka, tempat itu telah menjadi persinggahan orang-orang dari berbagai latar belakang. Ada peserta Muktamar dari Manado, dosen IAN dan UIN asal Kebumen, peneliti, anggota Banser, Muslimat, hingga jurnalis media nasional.
"Jumlahnya yang menginap di sini (GKJW) kurang lebih ada 18-20 orang, ada dari peserta Muktamar, warga Nahdliyin dan teman-teman media (jurnalis)," ungkap Pramoe.
Bagi GKJW Jombang, para tamu yang datang bukan sekadar orang-orang yang membutuhkan tempat untuk melepas lelah. Mereka juga menjadi bagian dari perjumpaan antara komunitas gereja dengan warga Nahdliyin.
Di ruang-ruang gereja itu, percakapan sederhana terbangun. Perbedaan identitas agama tidak menjadi penghalang untuk berbagi ruang, fasilitas, bahkan keramahan.
Baca juga: Ribuan Warga Nahdliyin Manfaatkan Muktamar NU untuk Berziarah ke Makam KH Wahab Hasbullah
Keterbukaan GKJW Jombang terhadap warga Nahdliyin bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Menurut Pramoe, hubungan antara komunitas gereja dan NU di Jombang telah terjalin cukup lama.
Nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga menjadi bagian dari cerita tersebut. Presiden keempat RI sekaligus mantan Ketua Umum PBNU itu dikenal sebagai salah satu tokoh yang kuat menyuarakan pluralisme dan kehidupan beragama yang inklusif.
"Kebetulan tempat ini dekat dengan makam Pahlawan Nasional, Gus Dur di Ponpes Tebu Ireng. Konon ceritanya, Gus Dur juga pernah mengajar di Balai Wiyoto Majelis Agung pusatnya di Malang. Kami sangat dekat sekali (NU)," ungkap Pramoe.
Kedekatan tersebut membuat Pramoe berharap Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada keputusan organisasi. Ia ingin momentum tersebut juga membawa pesan yang lebih luas mengenai kehidupan bersama di tengah keberagaman.
"Siapa pun yang terpilih nanti (Ketua Umum PBNU) bisa menciptakan kondusifitas dan kerukunan antarumat beragama, bahkan mendukung kerja sama dengan lintas agama. Sehingga, kerukunan itu bisa tercipta tidak hanya di Jombang tapi juga di seluruh Indonesia. Rukun dan sejahtera, harapan kami dari GKJW Jombang," tutupnya.
Baca juga: Di Sela Muktamar ke-35 NU, Kiai Maruf Amin dan Gus Kikin Ziarah Bersama di Tebuireng
Inisiatif membuka tempat singgah tersebut digerakkan Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang bersama sejumlah komunitas dan rumah ibadah lintas agama.
Selain GKJW Jombang, dukungan juga datang dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jombang, Badan Kerja Sama Antar Gereja (BAMAG) Jombang, serta Klenteng Gudo.
Koordinator JANUR Jombang, Aan Anshori, mengatakan penyediaan tempat bermalam tersebut merupakan bentuk dukungan komunitas lintas agama kepada siapa pun yang datang dengan niat baik untuk menyukseskan Muktamar NU.
Peserta Muktamar dan warga Nahdliyin juga ditempatkan di Pastori GKI Jombang serta Guest House BAMAG di Dusun Weru, Desa Mojo Ngapit.
Secara keseluruhan, sekitar 47 orang telah ditampung di tiga lokasi tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah, mulai Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat hingga Kalimantan Tengah.
Para tamu juga memiliki latar belakang beragam, dari muktamirin, Muslimat, Banser, jurnalis, aktivis hingga akademisi.
Bagi Aan, keterlibatan komunitas lintas agama dalam menyambut peserta Muktamar menjadi gambaran bahwa toleransi dapat hadir melalui tindakan yang sederhana.
"Gerakan bersama ini menjadi cerminan nyata dari semangat kebangsaan, dan menegaskan posisi Jombang sebagai Kota Santri sekaligus Kota Toleransi," pungkas Aan.
Di tengah perdebatan dan padatnya agenda Muktamar ke-35 NU, kisah dari sebuah gereja di Jombang itu menawarkan cerita yang jauh lebih sederhana: sebuah pintu dibuka, kasur disiapkan, secangkir kopi disuguhkan, dan perbedaan dibiarkan tetap menjadi perbedaan tanpa menghalangi orang untuk saling menolong.
Toleransi, di tempat itu, tidak berhenti sebagai slogan. Ia hadir dalam bentuk ruang yang dibuka dan tempat tidur yang disediakan bagi siapa saja yang membutuhkan.