Liputan6.com, Moskow - Pemimpin Soviet Vladimir Lenin ditembak dua kali oleh Fanya Kaplan, anggota Partai Revolusioner Sosialis Rusia, setelah berpidato di sebuah pabrik di Moskow pada 30 Agustus 1918.
Dikutip dari History.com, Minggu (30/8/2026), Lenin mengalami luka parah tetapi selamat dari serangan tersebut. Upaya pembunuhan itu kemudian memicu gelombang pembalasan oleh kaum Bolshevik terhadap kelompok Revolusioner Sosial dan para lawan politik lainnya.
Ribuan orang dieksekusi ketika Rusia semakin terjerumus ke dalam perang saudara.
Lenin lahir dengan nama Vladimir Ilich Ulyanov pada 1870. Ketertarikannya terhadap perjuangan revolusioner muncul setelah kakak laki-lakinya dieksekusi pada 1887 karena terlibat rencana pembunuhan terhadap Tsar Alexander III.
Setelah menempuh pendidikan hukum dan menjalani praktik sebagai pengacara di Petrograd, yang kini bernama St. Petersburg, Lenin mulai bergaul dengan kalangan revolusioner Marxis.
Pada 1895, ia turut mengorganisasi kelompok-kelompok Marxis di ibu kota Rusia ke dalam Perserikatan Perjuangan Pembebasan Kelas Pekerja. Organisasi tersebut berupaya menggalang dukungan dari kalangan pekerja untuk gerakan Marxis.
Lenin dan sejumlah pemimpin organisasi itu ditangkap pada Desember 1895. Ia dipenjara selama satu tahun sebelum diasingkan ke Siberia selama tiga tahun.
Setelah masa pengasingannya berakhir pada 1900, Lenin pergi ke Eropa Barat dan melanjutkan aktivitas revolusionernya. Pada masa itulah ia mulai menggunakan nama samaran Lenin.
Dua tahun kemudian, ia menerbitkan pamflet berjudul What Is to Be Done?, yang mengemukakan pandangan bahwa sosialisme di Rusia hanya dapat diwujudkan melalui partai yang disiplin dan beranggotakan para revolusioner profesional.

Di 1903, ia bertemu dengan para Marxis Rusia lainnya di London dan mendirikan Partai Buruh Sosial-Demokrat Rusia (RSDWP). Namun, sejak awal sudah terjadi perpecahan antara kaum Bolshevik Lenin (kelompok mayoritas), yang mendukung militerisme dan kaum Menshevik (kelompok minoritas), yang mendukung gerakan demokratis menuju sosialisme.
Kedua kelompok ini semakin saling berseberangan dalam kerangka RSDWP, dan Lenin meresmikan perpecahan tersebut pada konferensi Partai Bolshevik tahun 1912.
Setelah meletusnya Revolusi Rusia tahun 1905, Lenin kembali ke Rusia. Revolusi tersebut, yang aksi utamanya merupakan pemogokan di seluruh Kekaisaran Rusia, berakhir ketika Tsar Nicholas II menjanjikan reformasi, termasuk pemberlakuan konstitusi Rusia dan pembentukan badan legislatif hasil pemilihan umum.
Namun, setelah ketertiban dipulihkan, sang Tsar membatalkan sebagian besar reformasi tersebut. Pada tahun 1907 Lenin kembali menjalani pengasingan.
Lenin menentang Perang Dunia I, yang dimulai pada tahun 1914, sebagai konflik imperialis dan menyerukan kepada para prajurit proletar untuk mengarahkan senjata mereka kepada para pemimpin kapitalis yang mengirim mereka ke parit-parit maut. Bagi Rusia, Perang Dunia I adalah bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jumlah korban di pihak Rusia lebih besar daripada yang diderita oleh negara manapun dalam perang-perang sebelumnya.
Sementara itu, perekonomian terganggu parah lantaran biaya perang yang sangat besar, dan di Maret 1917, kerusuhan dan pemogokan meletus di Petrograd akibat kelangkaan makanan. Pasukan militer yang kehilangan semangat bergabung dengan para pemogok, dan pada 15 Maret, Nikolai II terpaksa turun tahta, yang menandai berakhirnya berabad-abad pemerintahan Tsar.

Pasca Revolusioner Februari (dinamakan ini karena Rusia menggunakan kalender Julian), kekuasaan dibagi antara Pemerintah Provinsi yang tidak efektif dan soviet, atau “dewan,” yang terdiri dari komite-komite tentara dan pekerja.
Setelah terjadinya Revolusi Februari, pihak berwenang Jerman mengizinkan Lenin dan para letnannya melintasi Jerman dalam perjalanan dari Swiss menuju Swedia menggunakan gerbong kereta api tertutup.
Berlin berharap (dengan tepat) bahwa kembalinya para sosialis antiperang ke Rusia akan melemahkan upaya perang Rusia yang saat itu masih berlanjut di bawah Pemerintah Provinsi. Lenin menyerukan agar soviet menggulingkan Pemerintah Provinsi, dan ia dikecam sebagai “agen Jerman” oleh para pemimpin pemerintahan tersebut.
Pada bulan Juli, ia terpaksa melarikan diri ke Finlandia, tapi seruannya tentang “perdamaian, tanah, dan roti” mendapat dukungan luas yang terus meningkat, dan kaum Bolshevik berhasil meraih suara mayoritas di Soviet Petrograd. Di bulan Oktober, Lenin kembali secara diam-diam ke Petrograd dan pada 7 November, Garda Merah yang dipimpin kaum Bolshevik menggulingkan Pemerintahan Sementara serta memproklamasikan kekuasaan soviet.
Lenin menjadi diktator de facto negara Marxis pertama di dunia. Pemerintahan yang dipimpinnya menandatangani perjanjian damai dengan Jerman, menasionalisasi industri, dan membagikan tanah. Namun, mulai 1918, pemerintahannya harus menghadapi perang saudara yang dahsyat yang melawan pasukan pendukung Tsar.
Di 1920, pasukan pendukung Tsar berhasil dikalahkan, dan pada tahun 1922 Uni Republik Sosialis Soviet (URSS) didirikan.
Setelah Lenin meninggal di awal tahun 1924, jasadnya diawetkan dan disemayamkan di mausoleum di dekat Kremlin Moskow. Petrograd berganti nama menjadi Leningrad sebagai penghormatan kepadanya. Setelah terjadi perebutan kekuasaan, teman revolusionernya Joseph Stalin menggantikan Lenin sebagai pemimpin Uni Soviet.