Pertama, pembongkaran lapak pedagang kaki lima (PKL) di sekitar RSUP Dr M Djamil Padang, Sabtu (29/8/2026), menyisakan kekecewaan bagi para pedagang.
Mereka mengaku belum mendapat kepastian lokasi berjualan yang baru, namun lapak sudah lebih dulu dibongkar.
Kedua, warga Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, mengeluhkan fasilitas air PDAM, Sabtu 29/8/2026).
Sejumlah warga mengaku air PDAM selalu tidak keluar dari keran pada siang hari dan membuat mereka kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketiga, tembok penahan perbukitan di kawasan Pandam Pakuburan Turki di kawasan Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), disulap menjadi ruang kreativitas bagi para seniman mural.
Sebanyak 18 bidang tembok di kawasan tersebut dihiasi beragam lukisan yang mengangkat kebudayaan, sejarah, hingga destinasi wisata Kota Padang.
Baca selengkapnya verikut ini:
Pembongkaran lapak pedagang kaki lima (PKL) di sekitar RSUP Dr M Djamil Padang, Sabtu (29/8/2026), menyisakan kekecewaan bagi para pedagang.
Mereka mengaku belum mendapat kepastian lokasi berjualan yang baru, namun lapak sudah lebih dulu dibongkar.
Pedagang sate, Ratna Jumita (35), mengatakan para pedagang sebenarnya telah beberapa kali mengikuti mediasi dengan pihak rumah sakit maupun pemerintah kecamatan. Namun, menurutnya, belum ada kesepakatan terkait lokasi pemindahan.
"Respons kami sangat kecewa, karena sudah beberapa kali mediasi. Mediasi dari Rumah Sakit M Djamil sendiri, mediasi di kantor camat sendiri, hasilnya nihil. Hasilnya hanya merugikan kami semua pedagang," kata Ratna saat ditemui TribunPadang.com di lokasi, Sabtu (29/8/2026).
Ratna mengatakan pedagang sebelumnya ditawarkan untuk pindah ke kawasan Jati 2. Namun, para pedagang menolak karena potensi pembeli di lokasi baru tersebut sepi.
Baca juga: 5 Nilai Kehidupan Dalam Tradisi Marandang, Bukan Sebatas Kuliner
"Siapa yang akan membeli di sana? Yang jualan di lokasi ini bukan orang-orang baru, tapi sudah 40 tahun dan 50 tahun berdagang di sini. Orang penduduk asli sini semuanya yang jualan," ujarnya.
Ratna menilai keberadaan PKL di sekitar rumah sakit justru membantu masyarakat, terutama keluarga pasien yang membutuhkan makanan dengan mudah dan cepat.
"Peran kami di sini sangat dibutuhkan oleh pengunjung rumah sakit. Sangat dibutuhkan oleh penjaga pasien karena kalau kami tidak ada mereka dapat makan dari mana?" katanya.
Baca juga: Tiga Minggu Air PDAM Mati, Warga Sawahan Padang Terpaksa Mandi di Masjid hingga Beli Galon
Menurutnya, keluarga pasien dan penjaga pasien menjadi pelanggan utama para pedagang di kawasan tersebut. Mereka membutuhkan tempat makan yang mudah dijangkau selama berada di rumah sakit.
Karena itu, Ratna meminta pemerintah tidak hanya mempertimbangkan kenyamanan publik, tetapi juga nasib pedagang yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan di lokasi tersebut.
"Boleh untuk kenyamanan publik, tapi tolong perhatikan juga masyarakat yang sudah lama bekerja di sini, mencari nafkah di sini," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Padang Chandra Eka Putra mengatakan pembongkaran tersebut merupakan bagian dari penertiban lapak PKL di Jalan Jati, tepatnya di akses masuk menuju RSUP Dr M Djamil Padang.
Menurut Chandra, penertiban tidak dilakukan secara mendadak. Pihaknya mengaku telah melakukan sosialisasi kepada para PKL sebelum pembongkaran.
"Dapat kami jelaskan hari ini kami melakukan penertiban lapak PKL yang ada Jalan Jati, ke akses masuk RSUP Dr M Djamil Padang," kata Chandra kepada TribunPadang.com, Sabtu (29/8/2026).
"Sebelum melakukan proses penertiban ini, kita sudah melakukan proses sosialisasi cukup panjang. Baik itu tingkat kelurahan hingga tingkat kecamatan kepada masyarakat sekitar sini atau PKL untuk melakukan pembongkaran," sambungnya.
Chandra menyebut berdasarkan pendataan, terdapat sekitar 13 lapak PKL di lokasi tersebut. Seluruh lapak akan ditertibkan.
"Lebih kurang yang kami data ini ada 13 lapak PKL. Semuanya akan kita tertibkan," jelasnya.
Terkait lokasi pemindahan, Chandra mengatakan pihak kecamatan nantinya akan melakukan sosialisasi kepada para pedagang mengenai lokasi baru.
"Makanya kami bilang, untuk solusinya biar pihak kecamatan menjelaskan (pemindahan PKL)," katanya.
Baca juga: Satpol PP Bongkar 13 Lapak PKL di Akses RSUP M Djamil Padang
Ratna membenarkan bahwa pembahasan mengenai penertiban memang telah dilakukan sebelumnya. Namun, dia mengatakan para pedagang belum menyepakati pemindahan ke Jati 2.
"Pembongkaran bukan mendadak sih, sudah didiskusikan tapi tidak dapat kesepakatan sebelumnya," katanya.
Ratna juga mengaku telah berkomunikasi dengan pihak kecamatan mengenai lokasi baru tersebut. Namun, menurutnya, masih terdapat persoalan terkait penerimaan warga di Jati 2.
"Katanya disediakan tempat baru di Jati 2, cuma untuk RT dan RW di Jati 2 sendiri pun tidak menyetujui itu," ujarnya.
Dia juga mempertanyakan keberadaan pembeli jika para pedagang dipindahkan dari kawasan rumah sakit.
"Umumnya pelanggan kami adalah penjaga pasien yang butuh makan pagi-pagi di sana. Rasanya ini bukan solusi untuk kebaikan bersama," katanya.
Baca juga: Breaking News Satpol PP Bongkar Lapak PKL di Sekitar RSUP M Djamil Padang
Ratna menyebut persoalan utama bagi pedagang adalah belum adanya tempat yang benar-benar siap untuk mereka berjualan kembali.
Dia mengatakan sebelumnya sempat ada pembicaraan agar pedagang ditempatkan di dalam area rumah sakit, di sekitar kolam dan di balik pagar rumah sakit. Namun, hingga pembongkaran dilakukan, lokasi tersebut disebut belum terealisasi.
"Langsung dilakukan. Karena belum disediakan tempatnya. Katanya disediakan tempatnya, tapi tempat untuk kami pindah itu nggak disediakan, tenda saja belum ada di Jati 2 lokasi baru," ungkapnya.
Akibatnya, menurutnya para pedagang kebingungan hendak membawa peralatan dan barang dagangan mereka.
"Tempat tidak ada untuk memindahkan barang, melanjutkan penjualan. Terus mau ke mana? Barangnya dibawa ke rumah, sedangkan dagangan kami sudah dalam keadaan siap dijual," katanya.
Ratna juga menyebut adanya informasi mengenai uang pengganti sebesar Rp1,5 juta untuk setiap toko. Namun, dia mengatakan hal tersebut juga belum memberikan kepastian.
"Walaupun katanya ada uang pengganti Rp1.500.000 per toko, tapi itu belum pasti juga," ujarnya.
Ratna berharap Wali Kota Padang dapat mencarikan solusi yang tidak hanya memenuhi kepentingan penataan kawasan, tetapi juga menjaga keberlangsungan usaha para pedagang.
Dia mengusulkan agar pedagang tetap dapat berjualan di kawasan rumah sakit dengan lokasi yang ditata dan disiapkan secara resmi.
"Harapan kami kepada Wali Kota Padang, yuk kita sama-sama senang. Kami mau solusi yang senang bagi kami, senang juga bagi Bapak," katanya.
Baca juga: Agenda Fadly Amran Hari Ini: Jalan Sehat, Kunjungi Goa Kelelawar hingga Buka Malamang Food Festival
Menurut Ratna, jika memang pedagang harus membayar sewa untuk lokasi baru, besaran biaya juga perlu disesuaikan dengan kemampuan pedagang.
"Kalau memang perlu disewa, tapi tolong harganya disesuaikan, karena kami juga pedagang di sini, pedagang PKL yang mungkin penghasilannya tidak besar," tuturnya.
Pembongkaran lapak PKL dimulai sekitar pukul 08.10 WIB. Puluhan personel Satpol PP Kota Padang melakukan pembongkaran secara manual dengan didampingi kepolisian, pihak kecamatan, kelurahan dan Dinas Perhubungan.
Pantauan TribunPadang.com, para pedagang terlihat mengamankan barang dagangan serta seng dan kayu dari lapak mereka. Sementara material dan sampah sisa pembongkaran dibersihkan petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang.
Warga Sawahan Dalam IV, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang, mengeluhkan fasilitas air PDAM, Sabtu 29/8/2026).
Sejumlah warga mengaku air PDAM selalu tidak keluar dari keran pada siang hari dan membuat mereka kesusahan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu warga, Habil, mengatakan kondisi air PDAM yang selalu mati sudah terjadi sejak tiga minggu pada Bulan Agustus 2026.
Akibatnya, ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan. Mulai dari memasak, mencuci, hingga buang air besar dan kecil.
"Sudah tiga minggu ini air selalu mati, dari pagi hingga malam tidak hidup-hidup. Biasanya mulai hidup pukul 22.00 WIB, sampai pukul 04.00 WIB dini hari," ucapnya.
Baca juga: Satpol PP Bongkar 13 Lapak PKL di Akses RSUP M Djamil Padang
Kata dia, untuk memenuhi kebutuhan air untuk keesokan harinya, Habil harus menampung air ke dalam baskom berukuran besar saat keran air hidup.
Hanya saja, pasokan air yang ditampung tak mampu bertahan hingga keran air hidup kembali.
"Terkadang sudah ditampung banyak, tapi selalu tidak cukup sampai keran air hidup lagi. Mau tidak mau, kadang harus menggunakan air galon untuk buang air," pungkasnya.
Sama halnya, warga lainnya bernama Veriani mengaku sangat kesusahan dengan air PDAM yang selalu mati setiap harinya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa memanfaatkan air dari masjid terdekat di Sawahan Dalam IV.
"Sudah lama seperti ini, kurang lebih tiga minggu. Kadang saya harus ke masjid untuk mengambil air," jelasnya.
Baca juga: Breaking News Satpol PP Bongkar Lapak PKL di Sekitar RSUP M Djamil Padang
Tak hanya itu, Veriani harus meminta anak-anaknya mandi di masjid. Sebab ketika pagi hingga malam hari, air selalu mati di daerahnya.
Sedangkan untuk kebutuhan memasak dan yang lainnya, ia terpaksa menggunakan air galon setiap harinya.
"Kalau masak, pakai air galon, begitu juga dengan mencuci piring. Banyak uang habis membeli air galon, sesekali ke masjid," tambahnya.
Warga lainnya yang bernasib sama, Novia Harida, mengatakan sangat kesusahan akibat air PDAM yang selalu mati di daerahnya.
Ia tidak mengetahui secara pasti mengapa di Sawahan Dalam IV kondisi tersebut terjadi. Bahkan kurang lebih tiga minggu, belum ada upaya dari pihak terkait.
"Sampai saat ini belum juga diperbaiki, saya tidak tahu masalahnya. Kami sebagai warga sangat kesusahan akibat air mati ini," pungkasnya.
Tembok penahan perbukitan di kawasan Pandam Pakuburan Turki di kawasan Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), disulap menjadi ruang kreativitas bagi para seniman mural.
Sebanyak 18 bidang tembok di kawasan tersebut dihiasi beragam lukisan yang mengangkat kebudayaan, sejarah, hingga destinasi wisata Kota Padang.
Lomba mural ini digelar sebagai salah satu upaya memanfaatkan ruang publik agar tidak sekadar menjadi fasilitas pelengkap, tetapi juga dapat menjadi tempat interaksi, berkesenian, sekaligus memperkuat daya tarik kawasan.
Pantauan TribunPadang.com, Sabtu (29/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, puluhan peserta terlihat sibuk menyelesaikan karya masing-masing.
Kanvas mereka bukan berupa papan atau media khusus, melainkan dinding penahan perbukitan yang berada di bawah kawasan Pandam Pekuburan Kampung Turki.
Baca juga: Awalnya Cuma FOMO dan Demi Konten Medsos, Ujung-ujungnya Ketagihan Jogging Sore di Pantai Padang
Berbagai gambar mulai memenuhi dinding tersebut. Sebagian peserta mengangkat identitas Minangkabau, seperti Rumah Gadang dan Tari Piriang, sementara peserta lainnya menggambarkan sejumlah ikon dan destinasi yang ada di Kota Padang.
Ada pula mural yang menampilkan paralayang, barongsai, pacu sampan, Batu Malin Kundang, Teluk Bayur, hingga slogan Program Unggulan Padang Rancak.
Keberadaan mural itu turut menarik perhatian masyarakat yang melintas.
Sejumlah warga terlihat berhenti untuk melihat proses pembuatan mural. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan karya tersebut sebagai latar untuk berfoto.
Ketua Pelaksana Lomba Mural, Rahmat Baitul Maqdis Siregar, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari gagasan sederhana untuk mengubah tembok pembatas yang selama ini hanya memiliki fungsi teknis menjadi bagian dari ruang publik yang lebih menarik.
Menurutnya, mural diharapkan tidak berhenti sebagai karya seni, tetapi dapat memberikan fungsi tambahan bagi kawasan Taman Aliran Kenangan.
"Melalui lomba mural ini kita berharap kawasan Taman Aliran Kenangan tersebut berkembang menjadi spot foto, ruang interaksi warga, sekaligus bagian dari pengembangan destinasi wisata di Kota Padang," kata Rahmat.
Ia menjelaskan, tema yang diangkat dalam lomba berkaitan dengan kebudayaan dan pariwisata Kecamatan Padang Selatan.
Sebanyak 18 frame mural disediakan untuk seniman yang mengikuti lomba, baik secara individu maupun dalam tim.
Peserta juga tidak dikenakan biaya untuk mengikuti kegiatan tersebut.
"Kami menyediakan 18 frame mural yang dikerjakan seniman secara individu maupun tim tanpa dipungut biaya. Kami berharap karya ini menjadi inspirasi bagi kelurahan dan kecamatan lain untuk mengubah lahan yang tidak berfungsi menjadi ruang yang lebih fungsional dan memperindah kota," ujarnya.
Wali Kota Padang Fadly Amran yang hadir sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba menilai kegiatan tersebut dapat menjadi contoh pemanfaatan ruang publik melalui aktivitas yang positif.
Menurut Fadly, taman dan ruang publik perlu dihidupkan dengan berbagai kegiatan yang dapat mendorong interaksi masyarakat.
“Pemerintah Kota Padang sangat mengapresiasi lomba mural tersebut. Kegiatan ini merupakan inisiatif yang sangat baik untuk menjaga lingkungan sekaligus menghidupkan ruang publik,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah kecamatan dan kelurahan untuk lebih kreatif melihat potensi wilayah masing-masing.
Fadly berharap ruang-ruang publik yang ada tidak hanya menjadi tempat yang dilewati masyarakat, tetapi dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang memiliki nilai sosial, seni, lingkungan, hingga pariwisata.
"Mari kita efektifkan ruang-ruang publik dengan kegiatan positif yang melibatkan masyarakat dan memberikan manfaat bagi lingkungan dan pariwisata," katanya.
Salah seorang peserta, Tommy Zulfahmi (26), memilih Pantai Air Manis sebagai objek utama dalam karya muralnya.
Menurut Tommy, kawasan tersebut memiliki nilai sejarah yang kuat melalui legenda Malin Kundang sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata yang dikenal di Kota Padang.
Ia mengatakan keikutsertaannya dalam lomba juga menjadi bentuk dukungan terhadap kegiatan seni dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HJK Padang ke-357.
“Saya memang hobi melukis dalam berbagai bentuk kesenian, yang penting positif. Untuk mural ini saya mengangkat Pantai Air Manis karena merupakan lokasi bersejarah dengan kisah Malin Kundang dan memiliki panorama yang indah,” kata Tommy.
Sementara itu, peserta lainnya, Dara Naskhia (19), mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) asal Sawahlunto, mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kegiatan tersebut.
Dara bersama rekannya, Viona, mengusung konsep komik dengan memasukkan sejumlah destinasi yang berada di kawasan Padang Selatan ke dalam karya mereka.
Menurut Dara, kegiatan seperti ini memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan sekaligus mendapatkan apresiasi atas karya yang dibuat.
“Kami sebagai seniman senang sekali karena diberi wadah dan diapresiasi. Semoga ke depan semakin banyak kegiatan seperti ini agar kami bisa mengembangkan bakat dan terus meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Karya-karya mural yang telah dibuat di kawasan tersebut diharapkan tidak hanya mempercantik dinding penahan perbukitan, tetapi juga menjadi identitas baru bagi Taman Aliran Kenangan.
Dengan menggabungkan unsur seni, budaya dan pariwisata, kawasan yang sebelumnya didominasi dinding penahan kini memiliki daya tarik visual yang dapat dinikmati masyarakat yang melintas maupun pengunjung yang datang ke lokasi.