TRIBUNTRENDS.COM - Perjalanan Citra Scholastika di industri musik ternyata dimulai sejak usianya masih sangat muda. Jauh sebelum dikenal publik seperti sekarang, Citra sudah berani mencoba peruntungan dengan mengikuti audisi Indonesian Idol ketika baru berusia 15 tahun.
Langkah pertamanya di ajang pencarian bakat tersebut tidak langsung berjalan mulus. Citra sempat mengalami eliminasi sebelum akhirnya kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perjuangannya.
Dari panggung Indonesian Idol, nama Citra perlahan semakin dikenal. Ia kemudian berhasil melaju hingga menjadi runner-up, sebuah pencapaian yang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan karier musiknya.
Namun, menjadi dikenal lewat ajang pencarian bakat bukan berarti perjalanan Citra setelahnya selalu mudah. Ia masih harus menghadapi berbagai tantangan ketika mencoba mempertahankan eksistensi dan membangun popularitas di tengah persaingan industri musik.
Kisah tersebut ia bagikan saat berbincang bersama Ferdy Tahier dalam acara All You Can Hear. Dalam kesempatan itu, Citra mengungkap sejumlah fase yang pernah dilewatinya selama berkarier sebagai penyanyi.
Salah satu keputusan besar dalam perjalanan tersebut adalah ketika Citra memilih keluar dari manajemen yang sebelumnya menaunginya. Keputusan itu sekaligus membuka babak baru dalam kariernya sebagai musisi.
Setelah tidak lagi berada di bawah manajemen, Citra memilih menjalani karier secara mandiri. Ia kini menempatkan dirinya sebagai penyanyi indie dan berusaha membangun kembali perjalanan bermusiknya dengan caranya sendiri.
Pilihan tersebut menjadi bagian dari proses panjang Citra dalam menemukan arah karier yang sesuai dengan dirinya. Dari seorang remaja yang mencoba peruntungan lewat audisi Indonesian Idol, ia kini tumbuh menjadi musisi yang lebih mandiri dalam menentukan langkah.
Baca juga: Nemu Formulir di Koran Kehujanan, Citra Scholastika Daftar Indonesian Idol, Tak Kecewa jadi Juara 2
Citra juga mengungkap kenyataan bahwa menjadi runner-up Indonesian Idol tidak serta-merta membuat kariernya langsung melejit. Pada masa awal setelah kompetisi, ia harus menunggu karena perhatian utama manajemen saat itu diberikan kepada pemenang pertama.
"Pertama-pertama enggak, Kak. Karena kan di tahun-tahun pertama itu harus juara satu dulu yang dioptimalkan gitu. Dan menurut aku ya memang selayaknya seperti itu," ujar Citra Scholastika, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube Ferdy ELEMENT, Minggu (30/8/2026).
Citra mengaku bahkan harus menunggu sekitar satu tahun sambil berharap mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan karier di industri musik.
"Jadi aku balik ke Jogja dengan keadaan yang kayak ya aku nunggu aja, nunggu kabar baik aja terus," ujarnya.
Ia kemudian bergabung dengan label yang berada dalam manajemen yang sama dan mulai mempersiapkan karya musik.
Salah satu lagu yang kemudian melekat dengan nama Citra Scholastika adalah Everybody. Namun, Citra mengungkap lagu tersebut tidak langsung sukses setelah dirilis.
Menurutnya, dibutuhkan waktu cukup panjang hingga lagu tersebut benar-benar dikenal masyarakat.
"Lagu itu dirilis ternyata enggak langsung berhasil. Nunggu setahun juga untuk sampai akhirnya lagu itu benar-benar terdengar," katanya.
Citra menyebut promosi lagu tersebut bahkan berlangsung hingga sekitar dua tahun. Manajemen kemudian melakukan berbagai strategi promosi, termasuk memperkuat identitas dan popularitas Citra sebagai penyanyi.
"Menurut aku usaha itulah yang membawa akhirnya Everybody bisa naik," ujarnya.
Setelah Everybody mulai dikenal, Citra kemudian merilis lagu Pasti Bisa. Lagu tersebut juga mendapat sambutan besar dan memperkuat namanya di industri musik Indonesia.
Kesuksesan album pertama membuat Citra kembali diminta menyiapkan album berikutnya. Namun, ia mengakui proses pengerjaan album kedua dilakukan terlalu cepat.
Bahkan, menurut pengakuannya, album tersebut dikerjakan hanya dalam waktu sekitar dua minggu.
"Kita mengerjakan album dalam waktu 2 minggu," kata Citra.
Ia menilai proses tersebut membuat pengerjaan album kurang detail dan kurang terstruktur. Citra mengaku saat itu tim terlalu percaya diri karena popularitasnya sedang berada di puncak.
"Di situlah kita berantakan produksinya," ujarnya.
Citra pun secara terbuka mengakui album keduanya tidak mampu mengulang kesuksesan album pertama.
"Album kedua flop total," kata Citra, sebelum kemudian menjelaskan bahwa penjualan album tersebut sebenarnya tetap ada, hanya jauh berada di bawah pencapaian sebelumnya.
Meski demikian, karier panggung Citra tetap berjalan. Ia mengaku masih memiliki banyak pekerjaan off air dan kesempatan tampil bersama berbagai musisi.
Citra mengatakan aktivitas manggungnya masih cukup ramai hingga sekitar 2018. Namun pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa paling sulit karena industri pertunjukan musik ikut berhenti.
"Kalau ditanya yang paling benar-benar flop atau yang berhenti ya pas pandemi," ujarnya.
Setelah pandemi, Citra mulai memikirkan kembali perjalanan karier dan karya musiknya. Ia menyadari bahwa selama bertahun-tahun dirinya terlalu fokus pada pekerjaan panggung dan kurang produktif merilis lagu baru.
"Aku lupa bahwa sebenarnya untuk aku bisa dikenal dan bisa dapat semua ini ya karena aku punya lagu," katanya.
Kini, Citra Scholastika tidak lagi berada di bawah manajemen lamanya. Ia memilih mencoba menjalani perjalanan sebagai musisi independen.
Keputusan tersebut bukan karena ingin berhenti dari dunia musik. Sebaliknya, Citra ingin mempelajari berbagai proses kreatif dan produksi secara mandiri.
"Sangat berani untuk waktu aku berpisah dengan manajemen aku yang lama, aku sangat jelas bahwa aku mau jalan sendiri. Aku bukan mau berhenti nyanyi," ujar Citra.
Ia menegaskan perpisahannya dengan manajemen berlangsung baik. Bahkan, orang-orang yang pernah bekerja bersamanya masih memberikan dukungan terhadap karya-karyanya.
"Aku berharap dimulai baik, udahnya juga, perpisahannya pun baik," katanya.
Setelah memilih jalur independen, Citra mulai mengerjakan berbagai hal sendiri. Ia mengaku terlibat langsung dalam proses produksi musik hingga persiapan materi pendukung.
Salah satu karya yang dirilisnya adalah single berjudul Tilik Jogja. Lagu tersebut menjadi bagian dari langkah Citra untuk kembali aktif merilis karya.
"Aku pikir lagu ini cuma buat jadi penghantar gitu loh untuk kayak Citra comeback dimulai dari ini," ujarnya.
Citra mengakui menjalani proses secara mandiri bukan perkara mudah. Ia baru menyadari bahwa industri musik tidak hanya berkaitan dengan menciptakan lagu.
"Karena banyak yang harus dikerjain, ternyata musik itu ya industri ya, enggak cuma harus bikin musiknya aja, industrinya, promonya, marketing plan-nya, semuanya harus jalan semua," katanya.
Dalam perbincangan tersebut, Ferdy Tahier juga mengungkap ketertarikannya untuk memproduseri sebuah lagu bagi Citra. Ia mengaku menyukai karakter vokal Citra dan melihat semangat penyanyi tersebut dalam terus berkarya.
"Mau enggak kalau gua produserin, gua bikinin lagu?" tanya Ferdy.
Citra langsung menyambut tawaran tersebut dengan antusias.
"Mau banget," jawab Citra.
Ferdy kemudian mengatakan telah memiliki gambaran mengenai konsep lagu yang ingin dibuat. Ia berharap dapat menghadirkan karya yang berbeda dari lagu-lagu yang sebelumnya pernah dibawakan Citra.
"Kalau memang udah enggak ada kontrak apa pun, mungkin karena gua salah satu yang suka suara lu," kata Ferdy.
Citra pun mengaku sangat antusias dengan kemungkinan kolaborasi tersebut. Baginya, perjalanan panjang sejak mengikuti Indonesian Idol hingga kini menjadi musisi independen merupakan proses yang penuh pelajaran.
Dari seorang remaja yang mengikuti audisi pertamanya dengan formulir dari koran yang kehujanan, Citra Scholastika kini masih terus menjaga semangatnya untuk berkarya dan menemukan babak baru dalam perjalanan musiknya.
(TribunTrends)