Oleh: Anton Kibar - Penyintas Budaya Bangka Belitung
BATMAN adalah representasi hidup dari kontinuitas kebudayaan bahari Babel, meskipun mediumnya berubah. Pada masa prasejarah tertinggal gambar cadas pada dinding-dinding gua, era sejarah ada tinggalan pahatan aksara di atas prasasti. Pada diri Batman menjelma menjadi gerak tari dan lantunan lagu dengan landasan jiwa yang tetap sama, yakni hubungan mendalam manusia Babel dengan semesta bahari.
Berakhirnya Zaman Es yang oleh para ahli geologi ditetapkan sebagai akhir Pleistosen-awal Holosen di sekitar 11.800 tahun yang lalu merupakan tonggak perubahan yang menimbulkan dampak sangat kompleks. Salah satu dampak yang paling mendasar dari kenaikan permukaan air laut adalah perubahan paleogeografi Nusantara. Kawasan yang semula satu daratan, berubah menjadi kepulauan, membentuk Indonesia seperti sekarang.
Pada masa tersebut , terlihat ada intensifikasi dan ekstensifikasi pemanfaatan gua-gua atau ceruk alam sebagai tempat tinggal. Hunian gua tersebar luas di kepulauan Nusantara. Kita dapat membuat daftar yang panjang hunian gua, sebagian di antaranya adalah ada di Gua Harimau-Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Situs prasejarah yang terkenal dengan temuan kerangka manusia purba dan gambar cadas.
Tidak seperti di Gua Harimau, Sumatera Selatan, temuan bukti arkeologi prasejarah di Babel masih banyak mengalami kekosongan. Bukti yang berkaitan dengan lingkungan masa lalu -ketika Babel masih terhubung dengan Sumatra dan Benua Asia daratan- adalah penemuan fosil geraham gajah yang dipublikasikan oleh Martin Tahun 1887. Umurnya ditaksir tidak terlalu tua, berkisar antara paruh kedua Pleistosen AtasHolosen (60-5 ribu tahun lalu).
Pun demikian, temuan gambar cadas berwarna merah pada dinding-dinding Gua Bukit Batu Kepale Bangka Selatan adalah temuan penting, karena menjadi bukti kuat bahwa kebudayaan prasejarah di Babel dalam hal budaya seni cadas ternyata sudah ada dan kemungkinan besar dibuat oleh masyarakat prasejarah atau setidaknya di masa protosejarah.
Untuk sementara klasifikasi gambar cadas di Gua Bukit Batu Kepale, dapat disimpulkan dalam dua kategori umum. Pertama, pola gambar cadas non-figuratif, terdiri atas imaji garis-garis linear paralel dan subparalel, garis lengkung, garis berpotongan, kisikisi, dan garis bergelombang. Kategori kedua berupa motif figuratif, menyerupai makhluk manusia (antropomorfik).
Keterbatasan bukti temuan arkeologis di lokasi, dalam penelitian tim BRIN Pusat akan melakukan studi ke sisi etnografinya di lokasi sekitar temuan. Tujuannya bagaimana mendapat gambaran mengenai kebudayaan masyarakat setempat, bisa dari syair-syair, tarian dan kebudayaan lainnya. Tak menutup kemungkinan dari tradisi lisan, seperti syair terselip keterkaitan atau keterhubungan dengan masa lalu itu.
Dalam rumusan UNESCO, tradisi lisan mencakup kesusastraan lisan, teknologi tradisional, pengetahuan folk di luar pusat istana dan perkotaan, unsur religi dan kepercayaan folk di luar batas formal agama-agama besar, dan kesenian folk. Tradisi lisan (cerita) memuat wacana yang disampaikan secara lisan, mengikuti tata cara/adat istiadat yang telah menjadi pola umum suatu masyarakat seperti uraian geneologi suatu suku, mitos, legenda, dongeng (cerita kepahlawanan). Tradisi lisan juga melingkupi aspek sastra, seni dan budaya yang meliputi sistem genealogi, kosmologi, sejarah, filsafat, sistem pengetahuan.
Dari gambar cadas di Gua Bukit Batu Kepale yang diduga memiliki “kekerabatan” dengan gambar cadas di Gua Harimau Sumatera Selatan bisa menjadi petunjuk awal, bahwa Babel telah dihuni leluhur bangsa Indonesia yang saat itu telah menguasai seni, sebelum masuknya pengaruh budaya India yang membawa Babel ke ambang masa sejarah abad ke 6-7 Masehi dengan temuan Prasasti Kota Kapur.
Era Sejarah-Prasasti Kota Kapur
Sekitar abad ke-7 Masehi, Selat Malaka sudah menjadi jalur pelayaran penting dan ramai karena menghubungkan kawasan India, Kepulauan Nusantara, dan Cina. Hal ini yang membuat munculnya sejumlah konsentrasi permukiman di sepanjang jalur pelayaran yang kemudian ikut berperan di dalam kegiatan perdagangan maritim tersebut.
“.. Ma-yi-tung (=Bangka) letaknya di sebelah barat Kau-lan (=Belitung) di Laut Selatan. Pulau ini terdiri dari pegunungan yang tinggi dan dataran yang dipisahkan oleh sungai-sungai kecil. Udaranya agak hangat. Penduduk pulau tinggal di kampung-kampung. Laki-laki dan wanita rambutnya diikat, memakai kain panjang dan sarung yang berbeda warnanya. Ladangnya sangat subur dan memproduksi lebih banyak dari negeri lain. Hasil dari pulau ini adalah garam yang dipanen dari air laut yang diuapkan dan arak yang dibuat dari aren. Selain itu, hasil yang diperoleh dari pulau ini adalah katun, lilin kuning, kulit (cangkang) penyu, buah pinang, dan kain katun (mungkin yang dimaksud adalah kain tenun) yang dihias dengan motif bunga. Barang-barang yang diimpor dari tempat lain adalah pot tembaga, besi tuangan, dan kain sutra dari berbagai warna.”
Riwayat penelitian di Pulau Bangka terkait dengan perkembangan Hindu-Buddha di Nusantara telah dimulai sejak ditemukan Prasasti Kota Kapur pada tahun 1892 Masehi. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1993 yang melaporkan adanya tinggalan arkeologis benteng tanah di kawasan Situs Kota Kapur. Selain benteng tanah, penelitian juga berhasil mengidentifikasi reruntuhan candi, fragmen tembikar, keramik asing, dermaga dan temuan yang dianggap cukup penting adalah temuan fragmen arca Wisnu yang berasal dari abad ke 6/7 Masehi.
Bukti-bukti arkeologis tersebut merupakan petunjuk bahwa sekurang-kurangnya sejak abad ke 6/7 Masehi di Kota Kapur tinggal sekelompok masyarakat yang telah mengenal pengaruh budaya India dengan indikatornya berupa arca-arca batu dan runtuhan bangunan suci. Secara logika, tidak mungkin tiba-tiba ada pengaruh budaya asing yang masuk ke tempat tersebut tanpa ada daya tariknya.
Batman lahir di Pulau Kalang Bau, Pulau Belitung, pada tahun 1942, anak keenam dari sembilan bersaudara dari pasangan Salim dan Dayang Ama’. Sebagai anak Suku Laut atau juga disebut Suku Sekak atau Sawang dari garis keturunan sang ibu. Generasi pertama Bapak Lece’ (Kakek Batman), keturunan kedua Dayang Ama’ (Ibu Batman), generasi ketiga Bapak Jam (Paman Batman), serta generasi keempat Batman sendiri.
Di tengah gempuran modernisasi, Batman tetap setia mendedikasikan hidupnya dengan menjaga serta merawat nilai-nilai kesenian leluhurnya, campak dalong. Membuka ruang untuk mewariskan ilmu dan keahliannya kepada generasi muda, keluarga maupun orang lain di kediamannya.
Dengan segala keterbatasan, tak mudah bagi seorang Batman yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan, di sisi lain sebagai penerus adat dan tradisi Suku Laut harus menjaga warisan kesenian pendahulunya. Mengingat era berubah begitu cepat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat menggerus keberlangsungan seni tradisi dan budaya leluhurnya.
Pada masa anak-anak sampai remaja, keluarga Batman senatiasa berpindah tempat dari satu pulau ke pulau lainnya di perairan Babel. Dari Pulau Belitung sebagai tanah kelahirannya, kemudian berpindah mendiami gugusan pulau-pulau sekitar Pulau Lepar, selanjutnya ke Pulau Semujur dan akhirnya menetap di Dusun Kedimpel Desa Bhaskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, hingga akhir hayatnya, akhir Maret 2025.
Penganugerahan gelar Maestro Seni Tradisi Campak Dalong yang disandang Batman bukan sekadar apresiasi terhadap keterampilan seni pertunjukan, tetapi juga sebuah pengakuan atas keberhasilannya menjadi jembatan waktu yang menjaga agar memori peradaban manusia Kepulauan Bangka Belitung terdahulu tidak terkikis oleh zaman. Semoga! (*)