Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Nasib memilukan dialami satu keluarga di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Selama lebih dari setahun, 4 jiwa terpaksa bertahan hidup di sebuah gubuk kayu berukuran hanya 2x3 meter setelah rumah mereka roboh diterjang cuaca ekstrem.
Mereka adalah pasangan suami istri bernama Endan Suwandi (44) dan Asri Sri Rahayu (37), warga RT 01/RW 06, Dusun Empangsari, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang.
Di gubuk kecil yang dibangun bersama warga itu, Endan dan Asri tinggal bersama dua putra kembar mereka.
Gubuk kecil itu menjadi tempat tidur sekaligus tempat berlindung bagi keluarga mereka. Tepat di sampingnya terdapat dapur sederhana dengan tungku kayu yang digunakan untuk memasak sehari-hari.
Baca juga: Agenda Akhir Pekan di Pangandaran 30 Agustus 2026, Ada Kajian bersama Ust. Agam Fachrul
Kondisi itu terpaksa mereka jalani setelah rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal seketika ambruk pada Juli 2025.
Saat itu, hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Kalipucang selama lebih dari sepekan dan disertai angin kencang.
Kondisi cuaca ekstrem membuat bangunan rumah Endan tidak mampu bertahan hingga akhirnya roboh dan rata dengan tanah.
"Waktu itu hujan terus menerus ada seminggu lebih disertai angin. Kejadiannya, atap dan semua rumah ambruk. Itu sekitar bulan Juli 2025," ujar Endan kepada Tribun Jabar di halaman gubuknya, Minggu (30/8/2026) pagi.
Kini, tidak ada lagi bangunan rumah yang bisa ditempati keluarga tersebut. Di lokasi hanya terlihat sebuah tenda bantuan bertuliskan BNPB.
Tenda itu pun tidak digunakan sebagai tempat tinggal. Berbagai perabot rumah tangga, pakaian, serta barang-barang lainnya disimpan di dalamnya.
Sementara untuk tempat tidur, keluarga ini memilih membangun gubuk sederhana dari kayu karena khawatir jika harus tinggal di dalam tenda terlalu lama.
"Sementara ini kita tinggal di gubuk yang sudah dibangun bersama warga setempat. Karena enggak punya modal, kita bikin gubuk untuk tempat tinggal sementara. Tadinya mau di tenda, tapi takut ada ular. Akhirnya bikin gubuk pakai kayu ukuran dua ke tiga meter," katanya.
Sejak rumahnya roboh, bantuan memang beberapa kali datang. Endan mengaku sempat menerima bantuan berupa bahan pangan atau sembako, tenda, hingga kasur lipat.
Sejumlah pejabat pun disebut sudah datang melihat langsung kondisi keluarganya. Bahkan, anggota DPRD dan Bupati Pangandaran sempat mendatangi lokasi.
Namun, bantuan untuk membangun kembali rumah hingga kini belum terealisasi."Belum, belum ada (bantuan bangun rumah), saya kurang tahu," ucap Endan.
Endan mengatakan, dirinya juga pernah mendapat janji dari seorang anggota DPRD Kabupaten Pangandaran yang disebut akan mengupayakan bantuan perbaikan rumah.
"Katanya, mau diajukan, mudah-mudahan bisa," ujarnya.
Lebih dari setahun berlalu sejak rumahnya roboh, keluarga tersebut masih harus bertahan dalam kondisi seadanya.
Persoalan ekonomi menjadi satu kendala utama. Endan sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan di bidang pekerjaan kayu.
Penghasilannya pun tidak menentu karena pekerjaan tidak selalu tersedia."Kadang dapat Rp 60 ribu, Rp 70 ribu, kadang dapat Rp 100 ribu per hari, dan kadang gak dapat kerjaan," ucap Endan.
Dengan penghasilan yang tidak menentu itu, Endan mengaku tidak memiliki kemampuan untuk membangun kembali rumahnya secara mandiri.
Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah tidak hanya datang memberikan bantuan kebutuhan pangan, tapi dapat membantu keluarganya memiliki tempat tinggal yang layak.
"Kalau bisa rumah layak. Ya, bukannya saya enggak mau usaha, saya juga pingin lebih, cuman keadaan saya tidak memungkinkan," ucapnya.(*)