TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR — Perubahan pola transaksi masyarakat mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang pasar rakyat di Bali beradaptasi dengan sistem pembayaran digital.
Perluasan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi salah satu bagian dari perubahan tersebut, termasuk di pusat perdagangan yang selama ini banyak mengandalkan transaksi tunai.
Kebutuhan digitalisasi pembayaran memiliki konteks yang cukup kuat di Bali. Selain menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat lokal, pasar rakyat dan sentra kerajinan juga terhubung langsung dengan sektor pariwisata.
Baca juga: Mulai 1 Oktober 2026, Pedagang Tidak Dikenakan Biaya Transaksi QRIS dari Pembeli
Arus wisatawan domestik dan mancanegara menciptakan kebutuhan terhadap metode pembayaran yang lebih beragam, termasuk bagi pedagang yang berhadapan dengan konsumen dari berbagai daerah dan negara.
Namun, digitalisasi pembayaran bagi UMKM bukan sekadar menyediakan kode QR. Pedagang juga perlu memahami cara menggunakan sistem pembayaran, memastikan transaksi berhasil, serta memahami aspek keamanan dan pencatatan dana yang masuk.
Konteks tersebut terlihat dalam sejumlah program digitalisasi pembayaran yang digelar di beberapa wilayah Bali sepanjang Agustus 2026.
Program yang melibatkan pelaku industri pembayaran, perbankan, dan Bank Indonesia tersebut menyasar masyarakat serta pedagang di Denpasar, Karangasem, dan Gianyar.
Salah satu rangkaian kegiatan, QRIS Bali Summer Run di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran non-tunai kepada masyarakat luas.
"Kami manfaatkan keramaian di acara ini buat turun langsung ke pengunjung, bukan sekadar pasang banner terus diam. Tim di booth kami ajak orang coba langsung transaksi QRIS, biar mereka ngerasain sendiri semudah apa prosesnya," kata Wisnu, Business Development Manager Karvelo dalam keterangan dikutip, Minggu (30/8/2026).
Perluasan pembayaran digital kemudian diarahkan ke pasar rakyat melalui program Pasar Rakyat Bali Go Digital di Pasar Bebandem, Karangasem belum lama ini.
Pasar tradisional menjadi salah satu titik penting dalam digitalisasi karena aktivitas transaksinya berlangsung setiap hari dengan nilai transaksi relatif kecil dan melibatkan banyak pedagang.
Bagi kelompok usaha seperti ini, hambatan adopsi tidak selalu berkaitan dengan akses terhadap teknologi. Kebiasaan menggunakan uang tunai dan pemahaman terhadap sistem pembayaran digital juga menjadi faktor yang menentukan.
Branch Manager Nobu Bali Sunset Christophorus Damian Lainama mengatakan pasar tradisional memiliki potensi transaksi yang besar, tetapi pemanfaatan pembayaran digital masih perlu diperluas.
"Dari sisi kami di perbankan, pasar tradisional seperti Bebandem ini sebenarnya potensi transaksinya besar, cuma belum banyak tersentuh digital," katanya.
Pengalaman pedagang menunjukkan bahwa kebutuhan konsumen turut mendorong perubahan tersebut.
Made Sudiarta, pedagang di Pasar Bebandem, mengatakan penggunaan QRIS membantu melayani pembeli yang memilih pembayaran menggunakan ponsel.
"Dulu kalau pembeli nanya bisa bayar pakai HP apa nggak, saya cuma bisa bilang belum bisa. Sekarang setelah ada alat ini, ternyata gampang banget, tinggal scan saja, uangnya langsung masuk ke rekening," ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital di tingkat pedagang kecil pada akhirnya bergantung pada manfaat yang dirasakan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Pariwisata Mendorong Perubahan Transaksi
Karakter ekonomi Bali yang erat dengan pariwisata membuat digitalisasi pembayaran memiliki dimensi berbeda dibandingkan pasar yang hanya melayani konsumen lokal.
Salah satu contohnya terlihat di Pasar Seni Sukawati, Gianyar. Sentra perdagangan kerajinan dan suvenir tersebut banyak berinteraksi dengan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
Program digitalisasi di Pasar Seni Sukawati menjadi bagian dari Baligivation (Bali Digital Innovation Festival) 2026 yang berlangsung pada 22 Juni hingga 22 Agustus 2026.
Pedagang ukiran kayu di Pasar Seni Sukawati I Wayan Merta mengatakan pilihan pembayaran digital dapat membantu wisatawan yang tidak membawa banyak uang tunai rupiah.
"Turis asing itu biasanya bawa uang tunai rupiah secukupnya saja, tidak banyak. Dengan QRIS begini, mereka jadi lebih leluasa belanja," katanya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pembayaran di kawasan wisata bukan hanya berkaitan dengan perubahan teknologi, tetapi juga kemampuan UMKM lokal mengikuti pola konsumsi wisatawan yang semakin beragam.
Tantangan Setelah Digitalisasi
Perluasan QRIS ke pasar rakyat memperlihatkan bahwa digitalisasi sistem pembayaran mulai bergerak dari pusat perdagangan modern ke lapisan usaha yang lebih dekat dengan masyarakat.
Namun, ukuran keberhasilan digitalisasi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah pedagang yang memiliki QRIS. Tantangan berikutnya adalah memastikan metode pembayaran tersebut benar-benar digunakan dalam transaksi sehari-hari dan menjadi bagian dari kebiasaan usaha.
Bagi UMKM, transaksi digital juga berpotensi menghasilkan catatan pembayaran yang lebih terdokumentasi. Dalam jangka panjang, data tersebut dapat membantu pengelolaan keuangan usaha, meski manfaatnya tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mengelola dan memanfaatkan informasi transaksi.
Di Bali, keberhasilan adopsi pembayaran digital juga akan berkaitan erat dengan karakter konsumennya. Tingginya aktivitas pariwisata membuat pedagang berhadapan dengan konsumen yang memiliki preferensi pembayaran beragam.
Karena itu, tantangan digitalisasi bukan lagi semata memperkenalkan QRIS kepada pedagang, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar digunakan dan memberikan manfaat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Versi ini menurut saya lebih aman secara editorial karena fokusnya bergeser dari siapa yang menggelar program dan apa fasilitasnya menjadi mengapa digitalisasi dibutuhkan, bagaimana pedagang mengadopsinya, dan apa tantangan setelah QRIS tersedia.