TRIBUNLOMBOK.COM - Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal mengajak masyarakat memperkuat doa dan zikir di tengah bencana yang terjadi silih berganti di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurutnya, bencana perlu menjadi pengingat untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tanpa mengabaikan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Pesan itu disampaikan saat menghadiri Tabligh Akbar Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, Pengajian dan Tawajjuh Majelis Dzikir Al-Hisnul Mani’ di Lapangan Umum Jatisela, Johar Pelita, Gunungsari, Sabtu (29/8/2026).
Hadir dalam kegiatan itu Sekda NTB Abul Chair, Pimpinan Majelis Dzikir Al-Hisnul Mani’ NW TGH M. Jamiluddin Syahid Al-Yazidi, Ketua BAZNAS NTB Muhammad Iqbal Murad, para tuan guru, ustaz, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus, dan jemaah.
Dalam kesempatan itu, Gubernur mengajak jemaah mendoakan keselamatan Indonesia, khususnya NTB. Ia mengatakan berbagai kejadian bencana beberapa waktu terakhir perlu menjadi bahan perenungan.
“Pasti ada pesan Allah di dalam bencana-bencana ini. Salah satu pesannya adalah supaya kita semua semakin memperkuat ingat kepada Allah, memperkuat melalui zikir,” kata Gubernur Iqbal.
Ia mencontohkan gempa di Flores yang merusak hampir seluruh bangunan di salah satu kecamatan. Pemerintah Provinsi NTB turut mengirimkan bantuan dan disebut sebagai tim pertama dari luar daerah yang tiba di lokasi serta membuka dukungan logistik.
Selain itu, Gubernur juga menyinggung kebakaran yang menghanguskan satu dusun di Desa Sade, Lombok Tengah, serta kebakaran di Kalimantan dan Sumatra.
“Bencana dapat datang sewaktu-waktu sehingga kesiapan masyarakat perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Menurut Gubernur, kesiapan tidak hanya soal menghadapi dampak bencana, tetapi juga kekuatan batin. Doa dan zikir menjadi bagian ikhtiar memohon perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sekaligus membangun kesadaran spiritual.
“Doa yang terbaik buat Indonesia, doa yang terbaik buat NTB. Mudah-mudahan NTB dan rakyat NTB dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Sekda NTB Abul Chair mengatakan menjaga masyarakat butuh peran pemerintah dan kekuatan sosial-keagamaan. Pemerintah menjalankan tanggung jawab melalui kebijakan dan pelayanan, sementara ulama, tuan guru, pesantren, dan majelis zikir membangun hati dan akhlak masyarakat.
“Pemerintah bisa membangun jalan dan hukum, tetapi para ulama, tuan guru, pesantren, dan majelis zikir ikut membangun hati dan akhlak masyarakat,” katanya.
Pimpinan Majelis Dzikir Al-Hisnul Mani’ NW TGH M. Jamiluddin Syahid Al-Yazidi menambahkan menghadapi bencana butuh ikhtiar lahir dan batin. Majelisnya terus mengajarkan tiga amalan utama, memperbanyak istigfar, zikir, dan salawat kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.
“Ini tugas kita. Tidak secara langsung kita membantu secara alat, tetapi kita membantu secara rohani,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan zikir dan doa bersama untuk keselamatan Indonesia dan NTB sebagai bagian ikhtiar memohon perlindungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Baca juga: Maulid 2026: Teladani Rasulullah, Akhlak Jadi Fondasi Peradaban