TRIBUNPALU.COM - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus menggenjot potensi sektor perkebunan lokal.
Langkah ini dilakukan melalui kerja sama bersama Badan Kerja Sama Internasional Jerman (GIZ).
Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan dan pengembangan komoditas kakao.
Upaya tersebut diarahkan agar kakao milik petani tidak sekadar menjadi hasil panen mentah.
Komoditas unggulan ini didorong memiliki nilai tambah tinggi hingga menembus rantai industri global.
Penguatan sektor pertanian ini menjadi bagian dari program berkelanjutan di Kecamatan Palolo.
Kawasan Palolo dikenal memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan perkebunan di Kabupaten Sigi.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus utama pengembangan berada di Desa Baku-Bakulu.
Baca juga: Dubes Jerman Tinjau Potensi Palolo Sigi, Kakao Jadi Komoditas yang Dilirik
Desa Baku-Bakulu berjarak sekitar 34 kilometer dari pusat Kota Palu.
Akses menuju lokasi dapat ditempuh melalui Jalan Poros Palu-Palolo atau Jalan Trans Palu-Napu.
Waktu tempuh normal menuju desa tersebut memakan waktu sekitar 54 menit dengan kendaraan.
Baca juga: Perubahan KUA-PPAS 2026 Disepakati, Gubernur Sulteng Pastikan Anggaran Berpihak kepada Rakyat
Penguatan komoditas ini dilakukan secara menyeluruh dari sektor hulu hingga ke hilir.
Perhatian tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah produksi di tingkat kebun semata.
Kualitas hasil panen juga disesuaikan dengan standar ketat yang dibutuhkan industri pasar.
Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, menyebut pendampingan GIZ mencakup seluruh tahapan.
Pendampingan diberikan mulai dari teknik budi daya hingga proses penanganan pascapanen.
“Jadi GIZ mengintervensi dari tingkat budi daya hingga pascapanen yakni fermentasi, pengeringan, dan sortir biji kakao. Peningkatan mutu di tingkat hulu merupakan syarat mutlak agar komoditas lokal siap diolah menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi di tingkat hilir,” kata Samuel kepada tribunpalu.com, Minggu (30/8/2026).
Intervensi mencakup proses fermentasi, pengeringan, hingga pemilahan biji kakao secara ketat.
Selain aspek teknis, ribuan petani kakao Sigi juga difasilitasi sertifikasi keberlanjutan.
Sertifikasi tersebut membuka jalan bagi kakao lokal untuk menembus pasar skala besar.
“Tentunya sertifikasi ini membuka jalan bagi komoditas kakao di Sigi untuk menembus rantai pasok industri skala besar dan pasar internasional dengan standar ekologi yang ketat,” ujarnya, Ketua KONI Kabupaten Sigi itu.
Pasar internasional kini menerapkan standar ekologi dan kriteria keberlanjutan yang sangat ketat.
Petani juga dibekali kemampuan manajemen bisnis agrikultur dan keterampilan negosiasi harga.
Baca juga: 188 KK Terdampak Banjir di Kasimbar Parigi Moutong, 1 Jembatan Putus
Hal ini bertujuan agar petani memiliki posisi tawar yang kuat saat berhadapan dengan pembeli.
Model kemitraan Public Private Partnership turut dibangun untuk menghubungkan petani dan swasta.
Skema ini memastikan hasil panen langsung terserap industri tanpa bergantung pada tengkulak.
Dukungan GIZ di Sulteng kini mencakup 82 demplot, 118 nursery, dan 9.492 petani penerima manfaat.
Pengembangan kakao di Palolo diselaraskan dengan posisinya sebagai kawasan penyangga TNLL.
Dengan ekosistem terpadu ini, kakao Sigi siap bertransformasi dari kebun menuju pasar internasional.(*)