TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Kemarau panjang mulai memberikan dampak nyata terhadap perkebunan tebu di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumatera Selatan.
Di Desa Panca Tunggal, Kecamatan Belitang Jaya, ratusan ribu batang tebu dilaporkan mulai mengering akibat keterbatasan pasokan air.
Kondisi tersebut membuat petani khawatir tanaman yang dalam waktu dekat memasuki masa panen justru mengalami penurunan hasil hingga terancam gagal panen.
Salah seorang petani tebu, Jojo, mengatakan, kemarau panjang mulai berdampak terhadap kondisi tanaman di lahan perkebunannya.
Minimnya pasokan air membuat sebagian tanaman tebu mengalami kekeringan sehingga pertumbuhannya tidak lagi optimal.
Menurut Jojo, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan karena tanaman tebu yang terdampak seharusnya sudah mendekati masa panen.
Namun, akibat kekurangan air yang berlangsung cukup lama, tanaman tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan.
“Pertama karena musim kemarau, kisaran kerugian sekitar Rp20 juta sampai Rp30 juta per hektare. Bisa dikatakan ini gagal panen,” ujar Jojo, Minggu (30/8/2026).
Potensi kerugian tersebut menjadi kekhawatiran serius bagi petani.
Sebab, jika tanaman tidak mampu menghasilkan panen secara optimal, biaya yang telah dikeluarkan selama proses budidaya berisiko tidak kembali.
Jojo menggambarkan kondisi tanaman di sejumlah bagian lahan yang mulai mengering.
Kekeringan membuat batang tebu tidak tumbuh maksimal dan dikhawatirkan semakin memburuk apabila kondisi tanpa hujan terus berlangsung.
"Bagi kami petani, ancaman gagal panen tidak hanya berarti berkurangnya produksi tebu. Kondisi tersebut juga berpotensi langsung menekan pendapatan karena hasil panen menjadi sumber pengembalian biaya dan pendapatan dari lahan yang mereka kelola," paparnya.
Baca juga: Kemarau Bikin Bendung Perjaya OKU Timur Berubah, Kini Jadi Spot Nongkrong hingga Berburu Senja
Jojo menyebut sedikitnya sekitar 10 hektare lahan yang dikelolanya terancam gagal panen akibat kondisi tersebut.
Padahal, tanaman tebu di lahan tersebut seharusnya sudah memasuki masa panen dalam waktu dekat.
Kondisi itu membuat petani berada dalam situasi sulit.
Tanaman membutuhkan pasokan air agar tetap bertahan dan berkembang, sementara kemarau yang berkepanjangan membuat ketersediaan air semakin terbatas.
Petani berharap ada langkah nyata untuk membantu menghadapi kondisi kekeringan, sehingga dampaknya tidak semakin meluas dan kerugian yang harus ditanggung dapat ditekan.
Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Belitang Jaya, Yusus Triayadi, mengatakan pihaknya telah mengupayakan bantuan bagi petani tebu yang terdampak kemarau.
“Kami selaku petugas sudah mengajukan efrom untuk petani tebu dan mudah-mudahan dapat segera terealisasi. Disegerakan karena sangat membantu, apalagi saat musim kemarau seperti ini,” kata Yusus.
Menurut Yusus, bantuan tersebut diharapkan dapat membantu petani yang saat ini menghadapi keterbatasan air.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk mengurangi dampak kemarau terhadap tanaman tebu.
Selain mengupayakan bantuan, Yusus juga mengingatkan petani agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan, terutama bagi mereka yang memiliki perkebunan jauh dari sumber air.
Ia meminta petani tidak melakukan pembakaran tebu secara sembarangan. Kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi merembet dan meluas ke lahan perkebunan lainnya.
“Kami juga menyarankan kepada petani tebu yang lahannya di tanah perkebunan yang jauh dari sumber air, pertama jangan membakar tebu secara sembarangan karena dapat merembet ke lahan lainnya,” ujarnya.
Yusus juga mendorong petani memaksimalkan keberadaan dam parit sebagai salah satu upaya mengurangi dampak kekeringan.
Infrastruktur tersebut dinilai perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membantu menjaga ketersediaan air bagi tanaman.
“Kemudian juga ada dam parit, harus dimaksimalkan sebaik mungkin agar dapat mengurangi dampak dari musim kemarau agar tanaman tebu tidak kering,” katanya.
Bagi petani, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana kemarau panjang mulai menekan sektor perkebunan.
Bukan hanya mengancam produktivitas tanaman, kekeringan juga berpotensi menggerus pendapatan petani yang menggantungkan hasil panen dari lahan tebu.
Petani berharap pemerintah segera menghadirkan langkah nyata, mulai dari bantuan untuk mengatasi keterbatasan air hingga solusi jangka panjang bagi lahan perkebunan yang jauh dari sumber air.
Langkah tersebut dinilai penting agar dampak kekeringan tidak semakin meluas dan ancaman gagal panen tidak semakin menekan kondisi ekonomi petani tebu di OKU Timur.
Ikuti dan gabung di saluran WhatsApps Tribunsumsel.com