Dinas Lingkungan Hidup: Hasil Uji Kualitas Udara Tarakan Berdasar ISPU Bertahan di Kategori Sedang
Amiruddin August 30, 2026 02:32 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kondisi kekeringan dan dampak karhutla masih dilaporkan terjadi, setelah Tarakan sempat dilanda hujan dua hari kemarin. 

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tarakan juga telah memperbarui hasil pemantauan kualitas udara di Kota Tarakan, Sabtu (29/8/2026) sore.

Berdasarkan hasil pembacaan Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien DLH Kota Tarakan pada pukul 18.00 WITA, nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat 74.

Angka tersebut menempatkan kualitas udara Tarakan dalam kategori sedang, sebagaimana disampaikan Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati DLH Kota Tarakan, Chaizir Zein.

Dalam data pemantauan tersebut, PM2.5 menjadi parameter dengan nilai 74, sementara PM10 berada pada angka 60.

Adapun parameter lainnya tercatat, SO2 sebesar 1, CO sebesar 2, O3 sebesar 28, NO2 sebesar 13 dan HC sebesar 5.

 

 Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, Chaizir Zain.
KUALITAS UDARA TARAKAN - Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, Chaizir Zain. Pihak DLH Tarakan ungkap hasil uji kualitas udara di Tarakan berdasarkan ISPU masih bertahan di kategori sedang. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

 

Baca juga: Penyebab Kolam Pendingin Bakal Dibangun di Jalan Amal Lama Tarakan yang Terdampak Karhutla Batu Bara

Kondisi meteorologi saat pengukuran juga menunjukkan kelembapan udara 79,53 persen, tekanan udara 1.008 mBar, dan suhu udara 28 derajat Celsius.

Chaizir Zein menjelaskan data tersebut merupakan hasil pemantauan alat yang bekerja secara real time.

Menurutnya, pemantauan kualitas udara tidak dilakukan hanya ketika ada laporan atau keluhan masyarakat.

“Pengambilan sampel secara real time 24 jam itu melalui alat yang dipasang di belakang kantor bernamaAir Quality Monitoring System (AQMS),” ujar Chaizir Zein.

AQMS  yang dimiliki DLH Tarakan memungkinkan kualitas udara dipantau selama 24 jam.

Data yang dibaca alat tersebut kemudian terkoneksi dengan sistem pemantauan dan dapat dilihat melalui platform ISPUNET. 

Sistem tersebut bekerja secara otomatis sehingga data kualitas udara terus diperbarui berdasarkan hasil pembacaan alat.

Hal ini membuat kondisi kualitas udara di wilayah yang masuk dalam jangkauan alat dapat diketahui tanpa harus menunggu pengambilan sampel secara manual.

Chaizir menyebut salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pemantauan saat ini adalah keberadaan PM2.5.

Ia menjelaskan PM2.5 sendiri merupakan partikulat berukuran sangat kecil.

Menurut Chaizir, partikulat tersebut dapat berasal dari debu maupun asap dan memiliki kemampuan masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.

“Kalau PM 10 itu ukurannya agak besar.

PM 10 itu hanya sampai di bulu hidung kita.

Tapi kalau PM 2,5 itu bisa masuk sampai paru-paru,” jelas Chaizir Zein

Selain menjelaskan kondisi terbaru kualitas udara, Chaizir mengungkapkan mengenai kemampuan alat pemantauan yang dimiliki DLH Tarakan.

AQMS yang dipasang di belakang kantor DLH tersebut memiliki jangkauan pemantauan sekitar radius 2,5 kilometer dari titik pemasangan.

Dengan jangkauan tersebut, wilayah yang dapat terpantau mencakup sejumlah kawasan di sekitar titik alat, termasuk hingga arah Pantai Amal dan kawasan GTM.

“Ini sampai Pantai Amal, sampai Kawasan Ratu Intan.  

Jadi 2,5 KM itu kalau kita tarik garis lurus, radius sampai dengan perempatan GTM dia bisa ngukur kualitas udara,” bebernya.

Chaizir menegaskan jarak tersebut merupakan radius berdasarkan garis lurus, bukan jarak tempuh melalui jalan.

Karena jika dihitung berdasarkan panjang jalan hasilnya berbeda apalagi di Tarakan banyak jalan berbelok.
 
"Tapi kalau kita hitung radius, kan alat ini kerjanya berdasarkan radius.

Jadi kita ambil titik koordinat yang ada di DLH. 

Kemudian kita tarik 2,5 KM. Itu sudah radiusnya memutar dari pusatnya di DLH,” lanjutnya.

Baca juga: Jalan Amal Lama Ditutup Imbas Karhutla Batu Bara, Warga Terpaksa Putar Jauh Lewat Jalur Alternatif

Dengan cakupan tersebut, satu unit AQMS belum dapat menggambarkan kualitas udara di seluruh wilayah Kota Tarakan.

Untuk mengetahui kondisi kualitas udara di luar radius tersebut, diperlukan pemasangan alat pemantau tambahan.

“Kalau misalnya kita mau mengukur kualitas udara di luar dari radius itu kita harus pasang alat lagi,” kata Chaizir.

Pemasangan alat di luar jangkauan radius juga sudah dilaksanakan kemarin salah satunya Pantai Amal yang hasilnya sempat menunjukkan status berwarna kuning.

“Aabila memang kejadian, sudah ada kejadian yang benar-benar ibaratnya luar biasa atau ada permintaan,” ujar Chaizir Zein.

Chaizir mengatakan cakupan pemantauan AQMS juga mencakup empat sektor yang menjadi perhatian dalam pengawasan kualitas udara.

Mulai dari permukiman, perkantoran, lalu lintas dan industri. 

Keempat sektor tersebut menjadi bagian penting dalam pemantauan kualitas udara karena aktivitas di masing-masing kawasan dapat memengaruhi kondisi udara.

“Karena 4 lokasi ini menjadikan 4 lokasi titik pantau wajib.

Di pengambilan sampel kualitas udara,” jelasnya.

Selain PM10 dan PM2.5, sistem tersebut juga dapat memantau sejumlah parameter gas.

Ada SO, CO, O3, Ozone, NO. Semuanya itu 6 parameter.

Adapun perangkat lainnya, DLH punya  PM 10 dan PM 2,5 yang bisa dilakukan mobile alias dipasang di mana saja.

Namun, tidak seluruh parameter gas memiliki alat tersendiri yang dimiliki DLH Tarakan.

“Kalau untuk SO dan NO itu kita nggak ada,” katanya.

Lebih detail ia membahas untuk AQMS yang digunakan DLH Tarakan telah tersedia sejak 2023 dan merupakan bantuan pemerintah pusat melalui kementerian terkait.

Chaizir menjelaskan alat tersebut kemudian mulai dioperasikan untuk mendukung pemantauan kualitas udara secara daring.

Pemasangan AQMS merupakan bagian dari sistem pemantauan kualitas udara yang dilakukan pemerintah secara lebih luas di Indonesia.

“Kementerian yang pasang.

Jadi seluruh Indonesia ini tadi data-data yang ini dari kementerian. Ini sudah dipasang semua nih seluruh Indonesia,” ujarnya.

Untuk Kalimantan Utara, Chaizir Zein menyebut alat serupa tersedia di Tarakan dan Tanjung Selor. 

Untuk wilayah lainnya di Kaltara belun dijatahkan.

Data hasil pemantauan AQMS tersebut terkoneksi langsung dengan ISPUNET sehingga masyarakat dapat ikut memantau perkembangan kualitas udara secara realtime.

ISPUNET juga bisa di-download di Playstore.

DLH Tarakan juga telah menyampaikan kepada masyarakat agar ikut memanfaatkan sistem tersebut untuk mengetahui kondisi udara secara langsung.

Dengan sistem tersebut, masyarakat tidak perlu menunggu laporan manual untuk mengetahui perubahan kualitas udara di wilayah yang berada dalam cakupan alat.

“Kami juga sudah nyampaikan pas pertama itu masyarakat bisa mengakses untuk memantau kualitas udara di Tarakan. Real time,” pungkas Chaizir Zein

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.