Dampak Kemarau Panjang di Pontianak, Pasokan Air Isi Ulang Langka dan Konsumsi Melonjak Drastis
Rivaldi Ade Musliadi August 30, 2026 03:42 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Musim kemarau panjang yang melanda Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), memicu kelangkaan pasokan air bersih di tingkat depot air minum isi ulang. 

Keterlambatan distribusi air baku dari tempat pengisian pusat (anjungan) membuat para pemilik depot kesulitan memenuhi melonjaknya permintaan air minum masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa yang mendominasi kawasan pemukiman indekos.

Secara geografis, Jalan Sepakat 2 di kawasan Kecamatan Pontianak Tenggara ini berjarak sangat dekat dengan pusat Kota Pontianak, yakni hanya sekitar 4 kilometer hingga 6 kilometer saja, atau dapat ditempuh dalam kurun waktu 10 hingga 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor. 

Kawasan ini dikenal padat penduduk karena dihuni oleh ribuan mahasiswa dari universitas terkemuka di Kalbar.

Konsumsi Air Melonjak 7.000 Liter Per Hari dan Terparah Selama 9 Tahun

Pemilik depot air minum isi ulang di Jalan Sepakat 2, Ahmad Faisal (41), mengungkapkan bahwa antrean panjang pengisian armada tangki di tingkat anjungan menjadi penyebab utama tersendatnya pasokan air ke unit depot miliknya.

Selama musim kemarau berlangsung, tingkat konsumsi air masyarakat mengalami kenaikan drastis hingga menyentuh 7.000 liter per hari sejak sore hari, jauh melampaui kondisi normal yang biasanya hanya berkisar 3.000 hingga 4.000 liter per hari.

• Dampak Kemarau Panjang di Pontianak, Warga Antre Panjang Beli Air Isi Ulang Akibat Air PDAM Asin

"Semenjak musim kemarau ini air sudah susah. Menurut informasi, kendalanya di sana antre di tempat pengisiannya, di anjungan," ujar Ahmad Faisal saat diwawancarai Tribunpontianak.co.id di tempat usahanya di Jalan Sepakat 2, Pontianak Tenggara, Minggu, 30 Agustus 2026.

Faisal yang telah menekuni usaha depot air minum selama 9 tahun ini menilai kondisi kelangkaan air pada musim kemarau kali ini merupakan yang terparah yang pernah ia rasakan. 

Keterlambatan distribusi dari armada pengantar menyebabkan pasokan stok di depotnya kerap habis sebelum dapat melayani seluruh pesanan warga.

"Kelangkaan air saat ini paling parah. Banyak pelanggan yang tidak bisa tercover atau diantari karena airnya sudah habis duluan. Pengirimannya sedikit, jadi tidak bisa langsung dua kali pengantaran sehari," tambahnya.

Selain dipicu faktor cuaca kering ekstrem, kelangkaan sempat diperparah oleh gangguan jaringan distribusi perpipaan PDAM akibat pengerjaan perbaikan pipa beberapa waktu lalu. 

Kondisi tersebut sempat memaksa sebagian warga memanfaatkan air galon untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), meski saat ini kondisi pasokan PDAM dilaporkan sudah kembali pulih.

Menghadapi tantangan cuaca ini, Faisal berharap adanya kemudahan retribusi serta langkah intervensi dari pemerintah daerah agar proses pengiriman air baku dari tempat pengisian utama ke depot-depot air minum di pemukiman warga dapat kembali lancar dan terdistribusi secara merata.

Profil Singkat Depot Air Minum Isi Ulang

Depot Air Minum (DAM) atau yang biasa disingkat DAMIU (Depot Air Minum Isi Ulang) merupakan unit usaha mikro pengolahan air baku menjadi air minum dalam bentuk curah yang dijual langsung kepada konsumen.

Regulasi & Sertifikasi: Operasional usaha depot air minum isi ulang diatur ketat oleh Kementerian Kesehatan melalui Permenkes RI Nomor 43 Tahun 2014 tentang Higiene Sanitasi Depot Air Minum. 

Setiap depot wajib mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi serta melampirkan hasil uji laboratorium kualitas air secara berkala (meliputi parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi).

Sistem Teknologi Pengolahan: Depot air minum umumnya memanfaatkan teknologi filtrasi multi-tahap, seperti tabung filter pasir silika dan karbon aktif, catridge filter mikron, serta sterilisasi menggunakan sinar Ultraviolet (UV) atau sistem Ozonisasi guna memastikan air bebas dari bakteri patogen dan mikroorganisme berbahaya.

Fungsi Sosial-Ekonomi: Keberadaan depot air minum isi ulang menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat kelas menengah ke bawah dan kalangan mahasiswa di kawasan perkotaan. 

Harganya yang ekonomis menjadikannya alternatif utama saat pasokan air hujan menipis atau ketika air perpipaan terdampak krisis intrusi air asin di musim kemarau. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.