Sudah Tiga Hari Kena ISPA, Siswa SMP di Palembang Sakit Demam dan Batuk hingga tidak Masuk Sekolah
Fadhila Rahma August 30, 2026 03:46 PM

 

SRIPOKU.COM , PALEMBANG -Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, mulai dirasakan dampaknya oleh warga. Terkhsus pada usia anak anak.

Salah satunya Kenzo (13), siswa kelas 8 SMP Xaverius 3 Sekojo, Palembang, Sumatera Selatan.

Menurut ibunya Kenzo,  Dewi (43),sudah beberapa  hari Kenzo tidak masuk sekolah lantaran mengalami demam dan pusing yang disertai keluhan pada tenggorokan.

Kondisinya tidak kunjung membaik meski sebelumnya telah diberikan obat parasetamol.

Melihat kondisi tersebut, Dewi (43), ibu Kenzo, kemudian membawa anaknya berobat ke Puskesmas Kalidoni.

PASIEN ISPA --- Medis Ruang ISPA Puskesmas Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan, memeriksa pasien yang terpapar asap karhutla, Sabtu (29/8/2026). Sejak beberapa hari ini kualitas udara kota Palembang akibat asap karhutla  masuk ke level sudah sangat tidak sehat lagi. Jumlah pasien yang mengalami keluhan ISPA meningkat, sehari mencapai 25 pasien.
PASIEN ISPA --- Medis Ruang ISPA Puskesmas Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan, memeriksa pasien yang terpapar asap karhutla, Sabtu (29/8/2026). Sejak beberapa hari ini kualitas udara kota Palembang akibat asap karhutla masuk ke level sudah sangat tidak sehat lagi. Jumlah pasien yang mengalami keluhan ISPA meningkat, sehari mencapai 25 pasien. (Dok Pribadi/SYAHRUL HIDAYAT)

Setelah menjalani pemeriksaan, Kenzo diketahui mengalami radang tenggorokan dan gangguan saluran pernapasan yang berkaitan dengan paparan udara tidak sehat.

“Keluhan ke saya itu cuman demam agak mual, pusing. Kemarin sebelum ke sini, saya kasih paracetamol karena saya lihat demam aja, tapi sudah tiga hari tidak turun turun. Makanya saya langsung ke Puskesmas Kalidoni,” jelas Dewi kepada Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Sabtu (29/8/2026) pagi.

Ketika ditanya apakah teman teman sekolah Kenzo juga ada menunjukan gejala yang sama, ibu warga Kalidoni ini menjawab tidak tahu pasti. “Kabarnya banyak teman Kenzo yang minta izin tidak masuk sekolah. Keluhannya sama, batuk dan pilek,” ungkap Dewi.

Kondisi Kenzo menjadi salah satu gambaran dampak memburuknya kualitas udara di Palembang di tengah kabut asap karhutla yang semakin pekat dalam beberapa pekan terakhir.

Keluhan serupa juga mulai banyak ditemukan di sejumlah fasilitas kesehatan tingkat pertama di Kota Palembang.

Pantauan Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di sejumlah puskesmas, di antaranya Puskesmas Gandus, Karyajaya, OPI dan Kalidoni, menunjukkan adanya peningkatan kunjungan warga dengan keluhan yang mengarah pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Keluhan yang banyak disampaikan pasien antara lain batuk, pilek, demam hingga radang tenggorokan.

Peningkatan kunjungan tersebut mulai terlihat ketika kabut asap semakin pekat pada awal Agustus 2026.

Di Puskesmas Kalidoni, misalnya, kunjungan pasien ISPA saat ini rata-rata mencapai 25 orang per hari.

Penanggung Jawab Program ISPA Puskesmas Kalidoni, Tian Belawati, mengatakan sekitar 50 persen pasien yang datang merupakan anak-anak.

Jumlah kunjungan bahkan sempat melonjak hingga 52 pasien dalam sehari ketika kualitas udara berada pada kondisi terburuk.

"Angka ini sempat melonjak hingga 52 pasien dalam sehari pada tiga hari sebelumnya saat kualitas udara berada di titik terparah akibat arah angin yang membawa asap dari kebakaran lahan di Sematang Borang," kata Tian.

Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang cukup banyak mengalami keluhan saluran pernapasan selama kondisi udara memburuk.

Peningkatan pasien juga terjadi di Puskesmas Gandus, Kota Palembang. Penanggung Jawab ISPA Puskesmas Gandus, Alfiday Lamria Sinaga, mengatakan rata-rata terdapat sekitar 15 pasien ISPA yang datang setiap hari dari berbagai kelompok usia.

Angka tersebut meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya yang berada di kisaran 40 hingga 50 pasien per bulan.

Peningkatan mulai terlihat lebih tajam sejak 3 Agustus 2026 ketika kabut asap mulai pekat.

Bahkan, pasien bayi berusia di bawah satu tahun yang sebelumnya relatif jarang ditemukan kini mulai datang hampir setiap hari.

“Keluhannya masih relatif ringan, demam batuk pilek. Sementara pasien lansia umumnya namun sebagian di antaranya memiliki penyakit penyerta atau komorbid sehingga tetap membutuhkan perhatian,” jelasnya.

Sementara itu, Dokter Fungsional Ruangan Infeksi Puskesmas OPI, dr Nisrina Qonita, mengatakan kunjungan pasien dengan keluhan ISPA berada di kisaran 15 orang per hari.

Nisrina didampingi Kepala Tata Usaha Puskesmas OPI, Kurnia Rahayu Sawitri, mengatakan pelayanan kesehatan juga diperkuat melalui jejaring fasilitas kesehatan di tingkat bawah.

Jejaring tersebut mencakup posyandu dan empat puskesmas pembantu (pustu) yang berada di kawasan Jakabaring, 15 Ulu dan Tuan Kentang.

Langkah tersebut dilakukan agar warga yang mengalami keluhan kesehatan dapat segera mendapatkan pelayanan tanpa harus menunggu kondisi semakin berat.

Peningkatan kunjungan di sejumlah puskesmas tersebut sejalan dengan data kasus ISPA di Kota Palembang.

Dalam kurun waktu 20 hari pada Agustus 2026, tercatat 9.313 kasus ISPA.

Anak-anak dan balita menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena relatif rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.

Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta.

Mengantisipasi dampak kabut asap, Pemerintah Kota Palembang meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan.

Walikota Palembang H Ratu Dewa menginstruksikan seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kesiagaan selama kondisi kualitas udara memburuk.

Jejaring pelayanan kesehatan yang melibatkan puskesmas, pustu, posyandu hingga perangkat RT dan RW di setiap kelurahan juga diaktifkan.

Selain mempercepat penanganan warga yang sakit, jaringan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya paparan asap karhutla.

Sejumlah tenaga kesehatan yang ditemui di puskesmas mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kabut asap masih pekat.

Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang perlu lebih dibatasi aktivitasnya di luar rumah.

Jika terpaksa keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai serta menutup pintu dan jendela rumah untuk mengurangi masuknya asap.

Warga juga diminta memperbanyak minum air putih dan menjaga asupan makanan bergizi.

Selain itu, masyarakat perlu menerapkan etika batuk dengan menutup mulut menggunakan lengan bagian dalam, bukan telapak tangan.

Apabila mengalami batuk, demam, sesak napas atau keluhan lainnya yang tidak kunjung membaik, warga diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Terlebih jika muncul sesak napas atau kondisi semakin memburuk.

Di tengah kabut asap karhutla yang masih menyelimuti Palembang, kewaspadaan menjadi langkah penting agar gangguan kesehatan tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Yang harus dilakukan dalam penangan ISPA di rumah yaitu banyak minum, istirahat yang cukup, makanan yang sehat dan bergizi, dan pakai masker saat di luar rumah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.