Mengenal Bedah Robotik untuk Kanker Prostat, Begini Cara Kerjanya
Wahyu Aji August 30, 2026 04:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bedah robotik digunakan untuk membantu dokter menangani sejumlah kasus urologi, termasuk kanker prostat dan kista ginjal, dalam kegiatan proctorship bedah robotik urologi di Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS).

Kegiatan tersebut merupakan penyelenggaraan keempat program proctorship yang melibatkan Mayapada Healthcare bersama Apollo Hospitals India. Pelaksanaan bedah robotik urologi berlangsung di MHJS pada 26-27 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, dokter spesialis urologi MHJS, dr Syamsu Hudaya, Sp.U, Subsp.Onk(K), FICRS dan dr Stevano Lucianto Hotasi Sipahutar, Sp.U, FICRS, bersama tim multidisiplin menangani dua pasien dengan kasus berbeda.

Kasus pertama adalah kanker prostat yang ditangani melalui prosedur radikal prostatektomi. Kasus kedua berupa kista ginjal berukuran besar yang juga ditangani menggunakan sistem da Vinci Xi Robotic-Assisted Surgery.

Dokter Spesialis Urologi dr Syamsu Hudaya menjelaskan sistem robotik dalam operasi berfungsi sebagai alat bantu bagi dokter, bukan menggantikan peran dokter.

“Teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter, tetapi menjadi perpanjangan tangan yang membantu meningkatkan visualisasi, kontrol, dan fleksibilitas selama tindakan,” kata Syamsu.

Bagaimana Bedah Robotik Bekerja?

Pada bedah robotik, dokter mengendalikan instrumen operasi melalui sistem kendali. Dokter dapat melihat area tindakan dengan visualisasi tiga dimensi dan menggerakkan instrumen secara lebih terkontrol.

Kemampuan tersebut dapat membantu ketika dokter melakukan operasi pada bagian tubuh dengan ruang yang sempit atau struktur anatomi yang kompleks.

Teknologi robotik juga dapat digunakan dalam pendekatan bedah minimal invasif. Dalam prosedur tertentu, tindakan dilakukan melalui beberapa sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan instrumen bedah.

Menurut Syamsu, pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi trauma akibat pembedahan pada kondisi tertentu.

“Yang terpenting, teknologi ini harus memberikan manfaat nyata bagi pasien, seperti membantu mengurangi trauma pembedahan dan perdarahan, mendukung pemulihan yang lebih baik,” ujarnya.

Namun, manfaat dan hasil operasi tidak dapat disamaratakan pada setiap pasien. Kondisi kesehatan, jenis penyakit, tingkat keparahan, lokasi kelainan, serta metode operasi yang dipilih dapat memengaruhi hasil dan masa pemulihan.

Dokter Tetap Memegang Kendali

Penggunaan robot dalam prosedur bedah tidak berarti robot melakukan operasi secara mandiri.

Dokter tetap menentukan rencana tindakan, mengendalikan instrumen, dan mengambil keputusan klinis selama operasi berlangsung.

Karena itu, kemampuan dokter dan tim medis tetap menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi tersebut.

Dalam proctorship di MHJS, tim dokter Indonesia bekerja bersama Prof. (Dr.) Sanjai Kumar Addla, MRCS, MD, FRCS (Urol), pakar bedah uro-onkologi dan bedah robotik dari Apollo Hospitals Jubilee Hills, Hyderabad, India.

Program tersebut menjadi sarana pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai teknik bedah robotik urologi.

Sanjai diketahui memiliki pengalaman melakukan lebih dari 1.000 prosedur robotik. Dalam kegiatan tersebut, ia berperan sebagai proktor yang mendampingi tim medis.

Tidak Semua Pasien Membutuhkan Bedah Robotik

Meski teknologi robotik dapat digunakan untuk sejumlah prosedur urologi, metode tersebut bukan pilihan yang otomatis diperlukan bagi seluruh pasien.

Pemilihan teknik operasi tetap bergantung pada diagnosis dan kondisi masing-masing pasien.

Dokter perlu mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti jenis dan lokasi penyakit, kondisi umum pasien, kompleksitas tindakan, serta manfaat dan risiko dari metode yang tersedia.

Pada kanker prostat, misalnya, radikal prostatektomi merupakan salah satu pilihan penanganan pada pasien tertentu. Sementara itu, tindakan pada ginjal juga disesuaikan dengan jenis kelainan dan kondisi pasien.

Dengan demikian, penggunaan sistem robotik merupakan salah satu pilihan teknologi dalam pembedahan, bukan pengganti pertimbangan medis.

Pentingnya Kompetensi dan Keselamatan Pasien

Chief Medical Officer Mayapada Healthcare, dr Dini Handayani, MARS, FISQua, FIPC, mengatakan teknologi harus berjalan bersama kompetensi tenaga kesehatan dan proses pelayanan yang baik.

Menurut dia, penggunaan teknologi robotik membutuhkan pelatihan terstruktur, kolaborasi multidisiplin, serta protokol medis yang mendukung keselamatan pasien.

“Teknologi robotik saja tidak cukup; teknologi harus didukung kompetensi dokter, pelatihan terstruktur, kolaborasi multidisiplin, dan standar internasional,” kata Dini.

Ia juga menyebut penerapan protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) dapat menjadi bagian dari upaya mendukung proses pemulihan setelah operasi.

Bagi pasien yang mempertimbangkan bedah robotik, informasi mengenai prosedur, manfaat, risiko, alternatif tindakan, hingga perkiraan pemulihan perlu dibicarakan bersama dokter.

Baca juga: Tak Perlu ke Luar Negeri, Teknologi Robotik Da Vinci XI Bantu Operasi Kanker Prostat Lebih Aman

Keputusan penggunaan teknologi robotik pada akhirnya harus didasarkan pada kebutuhan medis dan kondisi masing-masing pasien.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.