TRIBUN-MEDAN.COM – Beginilah dugaan penyebab bangunan Kopdes Merah Putih ambruk di Tapteng.
Pembangunan telan biaya Rp1,6 miliar.
Bangunan Kopdes Merah Putih di Tapanuli Tengah makan biaya Rp1,6 miliar ambruk.
Baca juga: Duduk Perkara Anggota TNI Diserang Masyarakat Pedalaman di Jambi, Bermula Bawa Sawit dari Area Inti
Kopdes Merah Putih yang dibangun di Tapteng dengan biaya Rp1,6 miliar roboh.
Diketahui bangunan Kopdes ini memakan biaya senilai Rp 1,6 miliar. Pengerjaannya dimulai sejak April 2026.
Amatan Tribun-medan.com di lokasi, proses pembangunan Kopdes Merah Putih Desa Simpang Labingke masih pada tahap awal.
Pondasi setinggi lebih satu meter terlihat roboh.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Sempat Ricuh, Klausul Masa Idah Politik Jadi Polemik
Akibatnya, pembangunan Kopdes Merah Putih Simpang Labingke kini terpaksa dihentikan.
Ketua Kopdes Merah Putih Simpang Labingke, Soaloan Tumanggor buka suara atas kejadian bangunan roboh tersebut.
“Kalau pembangunan anggaran sekitar Rp1,6 miliar. Kami sebagai pengurus sama sekali tidak dilibatkan,” ujar Soaloan, Jumat (28/8/2026).
Baca juga: Ambruknya Kopdes Merah Putih Rp 1,6 M di Tapteng, Warga Kecewa: Aparat yang Bekerja
Dari penjelasan Saoloan, pihaknya sempat mempertanyakan bangunan Kopdes yang kini sudah roboh hingga para pihak ketiga dari PT Agrinas Pangan Nusantara.
"Sudah pernah konfirmasi. Mereka bilang ada pihak ketiga dengan pengawasan anggota pihak TNI dan pemborong,” katanya.
Sepengetahun Saoloan, Kopdes Merah Putih di Desa Simpang Labingke dimulai sejak April 2026 dan bisa disebut sudah terlambat sesuai rencana pembangunan.
Menurutnya, robohnya banguan Kopdes tersebut dipengaruhi cuaca hujan yang begitu tinggi, sehingga tanah untuk menopang pondasi tak kuat lagi menahan.
"Namun, tidak luput juga dari masalah struktur bangunan yang kurang sesuai SOP. Itu menurut pandangan saya. Mungkin karena itu pembangunan ini sementara tidak dilanjutkan,” jelasnya.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Sempat Ricuh, Klausul Masa Idah Politik Jadi Polemik
Soaloan menegaskan, keterlibatan pengurus Kopdes selama proses pembangunan sangat terbatas. Pihaknya hanya diminta menyiapkan sejumlah dokumen administrasi.
“Kami hanya menyediakan tempat berkas seperti MoU, IMB dan sebagainya yang kami siapkan. Pernah kami sampaikan supaya kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Bangunan Kopdes ini tiba-tiba sudah dibangun seperti itu,” katanya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, setelah pihaknya menunjukkan lahan dan menyelesaikan sejumlah dokumen, komunikasi dengan pengurus koperasi praktis tidak berlanjut.
“Setelah kami menunjukkan lahan dan melakukan berkas, kami tidak ada lagi berhubungan atau dilibatkan.
Kami sudah pernah menyampaikan agar kami dilibatkan sebagai pengurus, tetapi tidak ada jawaban sama sekali,” ujarnya.
Baca juga: Kapolri Listyo Sigit: Demo 27 Agustus Ada Penumpang Gelap, Buruh Rumah Kedua Saya
Kondisi Tanah Dianggap Tak Layak
Wakil Pengawas Kopdes Merah Putih Desa Simpang Labingke, Maniur Hasugian membeberkan fakta kondisi tanah di lokasi pembangunan dianggap tidak layak.
"Karena di bawahnya ada jurang dan kemungkinan besar tanahnya labil," ujarnya.
Apa yang diungkap oleh Hasugian ini bisa terlihat jelas dengan kondisi di lapangan yang menunjukkan tanah di Kopdes tersebut dibangun dengan pondasi setinggi hampir 1 meter lebih.
Selain itu, Hasugian juga mengungkap bahwa penyebab atau kendala sehingga pembangunan Kopdes kini bernasib terpaksa dihentikan sementara.
"Inilah yang membuat kami sekarang bingung. Dulu waktu perencanaan pembangunan kami gak ada diundang. Jadi, bagaimana kami tahu apa permasalahannya," ungkapnya.
(*/Tribun-medan.com)