TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Riau mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Salah satunya dirasakan Atuk Akmal, warga Kulim, Kota Pekanbaru. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan tersebut mengaku sudah empat hari menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Pekerjaannya yang mengharuskan beraktivitas di luar ruangan membuat Atuk Akmal tidak bisa menghindari paparan udara yang bercampur asap. Di tengah kondisi kabut asap yang tebal, ia tetap bekerja seperti biasa.
Sepulang bekerja, kondisi tubuhnya mulai menurun. Atuk Akmal merasakan pusing, badan meriang, batuk yang tidak kunjung berhenti hingga pilek yang semakin parah.
Karena kondisinya semakin memburuk, keluarga akhirnya membawa Atuk Akmal berobat ke klinik. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyatakan dirinya menderita ISPA dan meminta Atuk beristirahat serta mengurangi aktivitas di luar rumah.
Dokter juga menyarankan Atuk Akmal rutin mengonsumsi obat dan memperbanyak minum air putih. Namun, gangguan kesehatan akibat paparan asap ternyata tidak hanya dialaminya.
Anak, istri dan cucunya juga mengalami keluhan berupa batuk dan pilek. Bahkan, menurut Atuk, sejumlah tetangga di lingkungan tempat tinggalnya juga mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan paparan asap.
"Nampak biasa saja di luar, tapi warga sudah menderita dan sudah banyak sakit. Yang tidak berobat di rumah saja banyak juga," ujar Atuk Akmal.
Ia menilai jumlah warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat asap kemungkinan lebih banyak dibandingkan data yang tercatat pemerintah. Sebab, tidak semua warga yang sakit datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
"Data pemerintah itu kan yang datang berobat saja. Banyak juga warga tidak berobat, namun sudah sakit ISPA juga," katanya.
Kondisi yang dialami Atuk Akmal tersebut terjadi ketika kasus ISPA menjadi perhatian di tengah kabut asap karhutla yang mempengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah Riau.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau, tercatat sebanyak 1.960 kunjungan pasien ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan kabupaten dan kota selama periode 19 hingga 26 Agustus 2026.
Bahkan, pada Rabu (26/8/2026), tercatat 634 kunjungan kasus ISPA dalam satu hari yang masuk dalam laporan Dinkes Riau.
Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan angka tertinggi, yakni 563 kasus, disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak 535 kasus.
Selanjutnya Kabupaten Siak mencatat 198 kasus, Kampar 195 kasus, Kuantan Singingi 181 kasus, Rokan Hulu 114 kasus, Rokan Hilir 68 kasus, Bengkalis 51 kasus, Indragiri Hulu 28 kasus dan Kota Dumai 27 kasus.
Jika dijumlahkan, Pekanbaru dan Pelalawan menyumbang 1.098 kasus, atau lebih dari separuh total kunjungan ISPA yang dilaporkan selama periode tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Zulkifli, mengatakan angka tersebut merupakan kunjungan pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang tersebar di kabupaten dan kota se-Riau.
Meski jumlah kunjungan mencapai 1.960 kasus, Zulkifli memastikan seluruh pasien yang tercatat sejauh ini masih dapat ditangani tenaga kesehatan di daerah.
"Ini merupakan kunjungan pasien dan sudah tertangani oleh petugas kesehatan di kabupaten dan kota se-Riau. Tidak ada pasien yang sampai dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat inap," kata Zulkifli, Kamis (27/8/2026).
Dinkes Riau terus meningkatkan kewaspadaan karena peningkatan kasus ISPA tersebut terjadi bersamaan dengan kabut asap akibat karhutla dan memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah.
"Agar tidak terjadi peningkatan kasus, kami terus mengedepankan langkah preventif dengan mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar," ujarnya.
Selain langkah pencegahan, Dinkes Riau juga memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas di daerah diminta menyiagakan tim pelayanan kegawatdaruratan serta memastikan ketersediaan oksigen untuk pertolongan awal bagi pasien yang mengalami sesak napas.
"Di Puskesmas sudah ada tim layanan emergency. Oksigen juga sudah disiapkan dan distandby-kan sebagai pertolongan pertama bagi pasien yang mengalami sesak napas," kata Zulkifli.
Dinkes Riau juga mengingatkan masyarakat menjaga kualitas udara di dalam rumah. Ketika kabut asap semakin pekat, warga dianjurkan mengurangi bukaan pintu maupun jendela agar asap dari luar tidak mudah masuk ke dalam rumah.
Perhatian lebih juga diminta diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit saluran pernapasan. Kelompok tersebut dianjurkan sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk.
Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan bergizi.
Warga diingatkan tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan setelah terpapar kabut asap. Keluhan seperti sesak napas, mata perih maupun mual perlu segera mendapatkan perhatian, terutama apabila kondisi tidak kunjung membaik.
Sementara itu, Atuk Akmal berharap pemerintah bergerak cepat melakukan pemadaman karhutla yang menyebabkan kabut asap di berbagai wilayah Riau.
Ia mengaku bersyukur hujan sempat mengguyur Kota Pekanbaru dan sejumlah daerah lainnya di Riau dalam beberapa hari terakhir. Namun, menurutnya, bau menyengat akibat asap masih terasa jelas hingga saat ini.
"Mudah-mudahan pemerintah benar-benar peduli dengan kondisi masyarakat. Asap ini harus segera ditangani, karena dampaknya bukan hanya mengganggu aktivitas, tapi sudah membuat masyarakat jatuh sakit," harapnya.
( Tribunpekanbaru.com / Nasuha Nasution)