UMKM Srikandi Muara Karing Perkuat Keragaman Budaya Geopark Merangin
Heri Prihartono August 30, 2026 06:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO – Geopark Merangin merupakan salah satu kawasan situs warisan dunia peninggalan bersejarah zaman purba yang diakui dan ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dan terletak di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.

Kawasan situs Geopark Merangin memiliki koleksi berupa fosil daun, kayu, akar, hewan, dan kerang-kerangan. Fosil tersebut diperkirakan telah berumur lebih dari 300 juta tahun yang tersebar di sepanjang aliran Sungai Batang Merangin dan Sungai Mengkarang.

Pada 2013, kawasan situs Geopark Merangin ditetapkan sebagai Geopark Nasional. Tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Merangin dan Pemerintah Provinsi Jambi resmi mengajukan kawasan situs Geopark Merangin ke tingkat internasional.

Setelah evaluator UNESCO Global Geopark (UGGp) melakukan serangkaian penilaian dan penelitian di lokasi situs Geopark Merangin, tepat pada 24 Mei 2023, situs Geopark Merangin secara resmi ditetapkan dan diakui di dunia internasional sebagai UNESCO Global Geopark.

Pada 10-15 Agustus 2026, dua evaluator UGGp kembali datang ke Kabupaten Merangin guna melakukan serangkaian penilaian ulang (revalidasi) ke lokasi situs Geopark Merangin.

Dua evaluator UGGp, yakni John Young Moon dari Korea Selatan dan Nicholas Lee dari Prancis, menelusuri sejumlah kawasan dan destinasi yang menjadi bagian dari kawasan Geopark Merangin. Para evaluator itu melihat secara langsung pengelolaan, konservasi, edukasi, pariwisata berkelanjutan, hingga keterlibatan dan dampak keberadaan kawasan Geopark Merangin bagi masyarakat sekitar.

Kepala UPTD Pengelolaan Objek Wisata Geopark Merangin Sundari mengatakan proses rangkaian pelaksanaan penilaian berlangsung lancar.

Namun, sejumlah catatan dan rekomendasi tetap diberikan evaluator UGGp sebagai bahan perbaikan pengelolaan Geopark Merangin ke depan.

Sundari menyebut catatan tersebut tidak bersifat signifikan hingga mengancam status Geopark Merangin.

Justru, rekomendasi evaluator menjadi momentum bagi pengelola untuk memperkuat berbagai aspek, terutama informasi di kawasan objek wisata agar wisatawan lebih mudah memahami nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya yang dimiliki Geopark Merangin.

Di balik proses penilaian dua evaluator UGGp di kawasan situs Geopark Merangin itu, ada satu harapan besar yang kini ditunggu masyarakat Merangin, yakni Geopark Merangin tetap mempertahankan kartu hijau (Green Card) UNESCO Global Geopark.

Keunikan Geopark Merangin dinilai terletak pada perpaduan geodiversitas, biodiversitas, dan keragaman budaya, termasuk hutan adat, flora dan fauna, fosil bebatuan, budaya lokal, serta produk UMKM masyarakat.

Salah satu indikator penilaian yang dilakukan oleh dua tim evaluator UGGp di kawasan Geopark Merangin ialah berkunjung dan melihat keberadaan budaya lokal serta potensi produk UMKM masyarakat di sekitar kawasan Geopark Merangin.

Bagaimana penilaian dua evaluator UGGp melihat keberadaan budaya lokal dan potensi produk UMKM di sekitar kawasan Geopark Merangin?

Berikut petikan wawancara Jurnalis Tribun Jambi Frengky Widarta bersama Ketua Kelompok Srikandi Muara Karing UMKM Rumah Batik dan Ecoprint Geopark Merangin, Meria Diastuti, yang terletak di Desa Merkeh, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi, dalam program Mojok Tribun Jambi.

Bisa dijelaskan bagaimana pertama kali lahir ide membentuk kelompok UMKM Srikandi Muara Karing muncul di Desa Merkeh ini?

"Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Frengky dan Tribun Jambi yang telah menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke kelompok UMKM Srikandi Muara Karing Produksi Batik dan Ecoprint yang terletak di Desa Merkeh, Kecamatan Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, Jambi ini."

"Saya mengucapkan terima kasih kepada tim evaluator UGGp kemarin yang telah datang berkunjung ke kelompok Srikandi Muara Karing guna melihat produk-produk batik dan ecoprint di Desa Merkeh yang masuk ke dalam kawasan Geopark Merangin."

"Ide-ide pertama kali untuk membentuk kelompok Srikandi Muara Karing berawal dari saat saya melihat perempuan-perempuan di Desa Merkeh kegiatannya dari siang hingga menjelang sore hanya duduk-duduk santai, ngobrol-ngobrol biasa. Saat itu saya menawarkan bagaimana, ibu-ibu kalau kita membentuk kelompok yang bermanfaat dan ada hasilnya dan bernilai jual secara ekonomi. Lantas saya berpikir ide produk apa yang bisa kita jual. Lalu, kami berinisiatif untuk membuat produk batik dan ecoprint."

"Kelompok Srikandi Muara Karing ini mulai terbentuk di akhir tahun 2023 dan sudah melakukan produksi batik dan ecoprint selama kurang lebih tiga tahun hingga sekarang."

Bisa dijelaskan, Ibu, bagaimana proses pembuatan produk batik cap cetak dan produk ecoprint di Kelompok Srikandi Muara Karing di Desa Merkeh ini?

"Di Kelompok Srikandi Muara Karing ini kami memiliki dua produk, pertama itu produk batik dan yang kedua itu produk ecoprint. Untuk produk batik cap cetak, kita memiliki beberapa motif, di antaranya motif biji parah (biji buah pohon karet), motif lengkuas, kunyit. Nah, kenapa kami berinisiatif membuat motif itu, karena di Desa Merkeh ini pada umumnya penghasilan masyarakat desanya dari rempah-rempah, seperti lengkuas dan kunyit, dan dari menderes pohon karet."

"Kemudian untuk produk ecoprint, dari pembuatan motifnya, berdasarkan kondisi dari alamnya karena Desa Merkeh ini masuk ke dalam kawasan Geopark Merangin. Banyak sekali jenis daun, bunga yang bisa dijadikan motif di dalam kain. Ecoprint ini merupakan teknik mencetak motif dari daun atau bunga yang diletakkan di atas kain, ditata dan diproses hingga menjadi hasil motif ecoprint yang unik."

"Sedangkan untuk produk batik cap cetak, proses pembuatan batik cap ini, pertama dasar kain harus di-skoring dulu, untuk menghilangkan kotoran atau zat lainnya yang berasal dari pabrik, dicuci dengan sabun khusus, kemudian dicap sesuai pesanan motif. Setelah dicap kemudian dicuci lagi dasar kainnya. Setelah dasar kain setengah kering, barulah masuk tahap pewarnaan. Dalam proses pengerjaan pewarnaannya, itu ada banyak proses pewarnaan. Pertama itu pewarnaan dua warna di dasar kainnya. Kalau untuk pewarnaan tiga warna itu harus ditembok dulu untuk menghasilkan warna menjadi tiga warna yang lebih bagus lagi."

"Nah, untuk proses pembuatan produk ecoprint, awal prosesnya, sehari sebelum kita produksi, dasar kainnya harus di-skoring dan dimordan dulu. Mordan itu pemberian obat-obat alami agar hasil cetakan dari daun atau bunga itu dapat menempel pada dasar kain."

"Setelah dimordan dan kering, dasar kain dibasahi kembali dengan air kapur atau air tawas. Setelah dimordan, barulah daun atau bunga ditata di atas kain, sesuai eksperimen dari ibu-ibu kelompok Srikandi Muara Karing ini. Setelah itu ditutup dengan plastik dan diinjak-injak dulu, dan setelah itu kain dikukus selama dua jam. Tujuan dasar kain dikukus ini agar hasil atau warna dari getah daun, bunga dapat menempel di dasar kain."

"Setelah dikukus, dasar kain dibuka saat masih panas. Di situ kita merasa senang bisa melihat motif daun atau bunga yang beraneka ragam warna, jenis daun dan bunga menempel di dasar kain."

Apa saja produk yang dihasilkan dari dasar kain batik cap cetak dan ecoprint di Kelompok Srikandi Muara Karing ini?

"Untuk hasil produk batik cap dan ecoprint dari kelompok Srikandi Muara Karing kami ini, tergantung permintaan dari konsumen yang ingin memesan. Pernah kami membuat dalam bentuk tas, dompet, selendang, bahan kain baju seperti baju, rok, dress, sarung, tekuluk, jilbab, kain sarung dan lacak."

Berapa jumlah pegawai di dalam Kelompok UMKM Srikandi Muara Karing ini?

"Dapat saya jelaskan dalam kelompok UMKM Srikandi Muara Karing ini, kita tidak ada yang menjadi bos atau menjadi karyawan. Kita itu sama statusnya dalam kelompok. Dalam kelompok, satu orang memegang fungsi dan perannya masing-masing. Ada yang khusus pewarnaan, khusus di mordan, yang batik cap ada lima orang, kemudian ecoprint ada lima orang."

Sudah berproduksi selama tiga tahun, bagaimana proses pendampingan yang dilakukan oleh dinas terkait terhadap Kelompok Srikandi Muara Karing ini?

"Awal setelah terbentuk kelompok ini, tentunya kita harus punya modal awal. Modal awalnya dari dana swadaya berasal dari iuran dari kelompok untuk membeli kelengkapan dan alat-alat pendukung. Setelah produk batik dan ecoprint jadi pertama kali, Pemerintah Desa Merkeh melihat produk itu. Barulah pemerintah desa menganggarkan dari dana desa untuk membuat pelatihan khusus bagi Kelompok Srikandi Muara Karing dengan mengundang pelatih dari Jambi pada tahun 2023."

"Dari BP Geopark Merangin ada memberikan bantuan kelengkapan alat pendukung untuk memproduksi batik cap dan ecoprint. Untuk dinas terkait sementara ini hanya pernah berkunjung ke kelompok kami, saat ini belum ada memberikan bantuan."

Apa tantangan dan hambatan yang dirasakan saat dua evaluator UGGp berkunjung ke Kelompok Srikandi Muara Karing?

"Tentunya, pertama, kami sangat senang sekali saat dikunjungi oleh dua evaluator UGGp yang berasal dari Korea Selatan dan Perancis kemarin. Kami sangat bersyukur sekali."

"Untuk tantangannya, tentunya dalam menyambut tamu dua tim evaluator UGGp, dalam hal ini pihak Pemdes Merkeh dan pihak PT KMA yang ikut membantu kelompok kami dalam menyambut tim evaluator."

"Saat prosesi penyambutan, mereka dua evaluator sangat antusias, senang dan happy sekali. Apalagi melihat produk ecoprint mereka sangat senang, karena ada kaitan erat dengan alam Geopark Merangin. Mereka mengatakan ada kaitannya produk ecoprint dengan kelestarian alam."

"Dua evaluator tersebut mengatakan sangat perlu melanjutkan untuk membuat produk yang lebih besar lagi, perlu pelatihan lagi agar produk ecoprint bisa lebih baik dan bagus lagi ke depannya. Menurutnya, yang menarik bahan-bahan produk ecoprint ini berasal dari daun dan bunga yang berasal dari alam di sekitar kawasan Geopark Merangin."

"Saya sempat kaget ketika dua evaluator UGGp melihat proses pembuatan produk batik cap dan produk ecoprint kelompok kami. Mereka sangat antusias untuk ikut membuat produk ecoprint, seperti ikut menata daun di atas dasar kain, ikut menginjak-injak dasar kain ecoprint dengan menari bahagia dan senang melihat proses pembuatan produknya. Harusnya 30 menit waktu mereka berkunjung, namun jadi 1 jam 30 menit mereka berada di kelompok Srikandi Muara Karing karena merasa senang melihat produk batik dan ecoprint kami."

Sejak tahun 2023 hingga sekarang sudah berapa banyak produk batik dan ecoprint yang dibuat oleh Kelompok Srikandi Muara Karing ini?

"Alhamdulillah, dari tahun 2023, awalnya waktu itu pertama kali produk dipesan oleh Pak Kades, digunakan pada saat kegiatan upacara bendera. Kemudian keluarga Pak Kades, aparatur desa dan masyarakat juga memesan produk kami. Waktu pertama itu ada sekitar 10-15 pcs. Untuk harga produk ecoprint untuk produk basic kisaran di harga 200-300 ribu, untuk produk pewarna alam di kisaran harga 300-500 ribu."

"Dari tahun 2023 total produk yang dihasilkan kelompok kami hingga sekarang untuk produk batik cap itu sekitar 1.000 pcs, dan untuk produk ecoprint itu sekitar 100-150 pcs. Produk batik cap paling diminati karena digunakan pemesan untuk dijadikan dasar pembuatan baju, sarung, tekuluk, selendang."

Apa kendala dalam mengelola Kelompok Srikandi Muara Karing untuk memproduksi batik dan ecoprint ini?

"Kendala kami saat sekarang ini terkendala masalah anggaran, karena untuk memproduksi batik ini, harga bahan baku membuat produk batik lumayan mahal harganya, seperti dasar kain dan pewarna batik. Sementara ini anggaran kami selain dari iuran kelompok, kami dibantu oleh Pemdes Merkeh mulai dari tahun 2023 hingga sekarang, mulai dari bantuan peralatan hingga uang untuk membeli bahan baku. Saat ini anggaran didapat, jika produk kami terjual barulah hasil uang penjualan produk kami belikan bahan baku lagi."

"Kami juga mendapatkan bantuan dalam bentuk modal pinjaman dari PT KMA, karena direkturnya orang Desa Merkeh, dan anggaran bantuan dari Pemdes Merkeh. Selain itu, BP Geopark Merangin dan Universitas Jambi juga ada memberikan bantuan berupa alat penunjang untuk membuat produk batik cap dan produk ecoprint."

Apa harapan Kelompok Srikandi Muara Karing kepada Pemerintah ke depannya?

"Harapan saya, karena produksi kelompok kami ini semakin hari semakin meningkat, kami berharap kepada pemerintah untuk memberikan bantuan modal, agar kami dapat memproduksi produk dengan skala banyak. Sekarang ini yang kami produksi hanya berdasarkan pesanan dari konsumen yang memesan. Saya berharap sekiranya ada bantuan dana dari dinas terkait, karena kelompok kami ini termasuk UMKM yang memberdayakan perempuan di Desa Merkeh bertujuan membantu meningkatkan pendapatan perekonomian keluarganya."

"Saya juga berharap kepada pemerintah memberikan bantuan pelatihan berupa pembuatan produk batik dan ecoprint, packing produk, hingga proses pemasaran produk bisa berupa bentuk kegiatan studi banding kepada kelompok kami guna meningkatkan pengetahuan dalam memproduksi batik dan ecoprint supaya ke depan dapat meningkatkan kualitas produk kelompok kami."

(Tribunjambi.com/Frengky Widarta)

Baca juga: Daftar 3 Pejabat Eselon II Pemkab Merangin yang Baru Dilantik serta Jabatannya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.