Karhutla di Kuantan Babu Inhu Meluas, Petugas Jalan Kaki Hingga 1,5 Km Kejar Kepala Api
Sesri August 30, 2026 05:18 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kuantan Babu, Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) masih membutuhkan penanganan serius. Hingga Minggu (30/8/2026) proses pemadaman sudah memasuki hari ketiga.

Informasi terbaru dikabarkan bahwa api aktif dilaporkan telah merembet hingga masuk ke kawasan hutan primer dengan tegakan kayu.

Api yang membakar kawasan Kuantan Babu bukan titik kebakaran yang berdiri sendiri. Penjalaran api diketahui berasal dari kebakaran di Sungai Guntung Hilir, kemudian bergerak hingga memasuki kawasan hutan di Kuantan Babu.

Kondisi tersebut membuat petugas menambah kekuatan personel dan peralatan untuk membantu operasi pemadaman.

Satu regu tambahan beserta peralatan operasi pemadaman lengkap diperbantukan dari Manggala Agni Daops Sumatera V Dumai menuju lokasi Kuantan Babu.

Tim di lapangan kini berusaha mengejar dan menyekat kepala api agar penjalarannya tidak semakin jauh masuk ke kawasan hutan.

Baca juga: Karhutla Desa Bokor Masih Sisakan Titik Api, BPBD Meranti Lanjutkan Pemadaman

"Api aktif sekarang sudah masuk ke bagian hutan primer dengan tegakan kayu. Penjalarannya berasal dari titik kebakaran Sungai Guntung Hilir. Jadi sekarang fokus tim bagaimana kepala api ini bisa disekat supaya tidak terus menjalar," kata Koordinator Wilayah Manggala Agni Riau, Edwin Putra, Minggu (30/8/2026).

Edwin menjelaskan, upaya menghentikan api tidak mudah. Akses menuju posisi kepala api menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi petugas.

Dari titik yang bisa dijangkau kendaraan, personel masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer untuk mencapai lokasi kepala api.

Peralatan pemadaman juga harus dibawa menuju titik operasi. Kondisi tersebut membuat penanganan membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak, sementara petugas harus berpacu dengan pergerakan api.

"Untuk sampai ke kepala api, tim harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Aksesnya memang menjadi kendala. Sementara kita harus secepat mungkin sampai ke depan penjalaran api untuk melakukan penyekatan," ujarnya.

Situasi semakin menantang karena angin bertiup cukup kencang di lokasi. Dalam kebakaran lahan dan hutan, angin dapat mempercepat pergerakan api dan membuat arah penjalarannya berubah. 

Kondisi ini membuat petugas harus terus mengamati perkembangan kebakaran sembari menentukan titik yang aman untuk melakukan penyekatan. Luas kawasan yang terbakar di Kuantan Babu hingga laporan terakhir masih dalam proses penghitungan.

Selain sulitnya akses dan angin kencang, persoalan lain yang dihadapi tim adalah keterbatasan sumber air.

Air menjadi kebutuhan utama petugas dalam melakukan pemadaman langsung maupun membasahi area yang sudah dilewati api agar tidak kembali terbakar.

Ketika sumber air berada jauh dari kepala api, operasi menjadi semakin sulit karena petugas harus memikirkan bagaimana air dapat dialirkan hingga mencapai sasaran.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, dukungan alat berat diturunkan ke lokasi. Alat berat digunakan untuk membuka akses jalan menuju area operasi sekaligus membantu pembuatan embung. Embung tersebut nantinya dapat digunakan sebagai sumber air yang lebih dekat dengan lokasi kebakaran.


"Kendalanya bukan hanya akses. Sumber air di sekitar lokasi juga terbatas dan angin cukup kencang. Karena itu ada dukungan alat berat untuk membuka akses sekaligus membuat embung supaya tim punya sumber air yang lebih dekat," jelasnya.

Dengan sumber air yang lebih dekat, petugas diharapkan dapat memangkas jarak penyaluran air menuju kepala api sehingga pemadaman bisa dilakukan lebih efektif.

Melihat perkembangan kebakaran, kekuatan personel di Kuantan Babu kemudian ditambah. Sebanyak satu regu Manggala Agni Daops Sumatera V Dumai diperbantukan atau BKO ke lokasi dengan membawa peralatan operasi pemadaman.

Personel tambahan tersebut bergabung dengan tim yang lebih dahulu berada di lapangan.

Fokus utama mereka masih sama, yakni melakukan penyekatan terhadap kepala api dan menghentikan penjalaran kebakaran.

Langkah penyekatan menjadi penting karena posisi api aktif sudah memasuki hutan primer. Selama kepala api masih bergerak, potensi kebakaran menjalar ke kawasan yang lebih luas tetap ada.

Di tengah penanganan Kuantan Babu, Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat juga masih bekerja di sejumlah lokasi karhutla lainnya.

Perkembangan lebih positif terlihat di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan. Hingga Sabtu kemarin operasi di Kerumutan telah memasuki hari kesembilan. Kondisi lokasi kebakaran dilaporkan sudah tersekat dan perkembangan pengendalian menunjukkan tren positif.

Operasi kini memasuki tahapan mopping up atau pendinginan. Meski api di permukaan sudah semakin terkendali, pekerjaan petugas belum selesai. Tim masih mencari dan memadamkan bara yang tersembunyi di bawah lapisan gambut maupun akar pohon.

Bara seperti ini perlu dipastikan benar-benar padam karena berpotensi kembali memunculkan api ketika kondisi panas dan kering.

Petugas juga menggunakan drone untuk mengamati kawasan pascakebakaran dari udara. Hasil pemantauan kemudian diperiksa kembali secara visual melalui jalur darat.

Tim menggunakan kendaraan roda dua sejauh akses memungkinkan, kemudian berjalan kaki menuju titik-titik yang menjadi sasaran pemantauan. Kegiatan mopping up di Kerumutan dijadwalkan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya.

Operasi lainnya berlangsung di Kertajaya, Kecamatan Kempas, Kabupaten Indragiri Hilir. Hingga Minggu (30/8/2026), pemadaman telah memasuki hari ketujuh.

Kondisi di lokasi mulai menunjukkan perkembangan positif karena sebagian besar kepala api sudah berhasil disekat. Namun petugas belum meninggalkan lokasi karena masih diperlukan pengendalian lanjutan.

Luas lahan yang terbakar di Kertajaya diperkirakan mencapai 17 hektare dengan jenis tanah gambut.


"Sumber air yang mulai terbatas menjadi salah satu kendala utama tim di lapangan. Untuk mengatasinya, tim mengoptimalkan penggunaan air dari embung sehingga jarak serangan menuju kepala api dapat dipangkas. Selain keterbatasan air, petugas menghadapi angin kencang dan jarak pandang yang cukup terbatas," katanya.

(Tribunpekanbaru.com/Syaiful Misgiono)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.