Jalan Rusak di Pelosok Kepahiang, Anak SD Jalan Kaki 2 Km ke Sekolah, Harga LPG Tembus Rp65 Ribu
Ricky Jenihansen August 30, 2026 05:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Jalan tanah yang rusak menjadi satu-satunya akses keluar-masuk bagi warga di pelosok Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

Di sejumlah bagian, permukaan jalan tampak berupa tanah merah tanpa lapisan aspal.

Kontur jalan tidak rata, dengan lubang dan bekas aliran air yang membentuk cekungan pada badan jalan.

Di tengah kawasan yang dikelilingi pepohonan dan perkebunan, sepeda motor menjadi salah satu kendaraan yang digunakan warga untuk melintasi akses tersebut.

Kondisi jalan bukan hanya menyulitkan mobilitas warga.

Anak-anak harus berjalan kaki menuju sekolah, sementara ongkos membawa barang membuat harga sejumlah kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal.

Kecamatan Muara Kemumu berada di Kabupaten Kepahiang, salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu yang beribu kota di Kecamatan Kepahiang.

Dari Kota Bengkulu menuju Kepahiang, jaraknya sekitar 54,7 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam 29 menit.

Sementara itu, dari Pasar Kepahiang menuju Muara Kemumu berjarak sekitar 21,3 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 43 menit.

Ongkos Barang Rp3.000 Per Kilogram

Susi, warga Desa Langgar Jaya yang telah tinggal di wilayah tersebut sekitar 12 tahun, merasakan kondisi itu dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, warga biasanya berbelanja ke Desa Cinto Mandi.

Barang yang dibawa menuju tempat tinggal mereka dikenai ongkos sekitar Rp3.000 per kilogram.

"Kebutuhan sehari-hari kami membeli di Desa Cinto Mandi dengan harga yang lebih mahal karena ojeknya yang mahal sekitar Rp3.000 per kilogramnya dan tergantung kondisi cuaca juga," kata Susi.

Kondisi jalan, menurut Susi, juga membuat biaya perjalanan bisa bertambah ketika sepeda motor mengalami kerusakan.

"Terkadang motornya rusak, biayanya jadi lebih mahal karena akses jalan ini yang rusak belum dibangun-bangun. Janji saja, tapi sampai kini belum ada perbaikan," ujarnya.

Anak SD Berjalan Kaki 2 Kilometer

Sekitar 160 keluarga disebut bermukim di Desa Langgar Jaya.

Persoalan akses tidak hanya dirasakan warga yang hendak membawa kebutuhan sehari-hari, tetapi juga anak-anak yang pergi ke sekolah.

Dua anak Susi bersekolah di SD Damar Kencana.

Karena kondisi jalan tidak mudah dilalui sepeda motor, kedua anaknya memilih berjalan kaki bersama siswa lainnya.

Mereka harus menempuh jarak sekitar dua kilometer.

Perjalanan tersebut membutuhkan waktu hingga sekitar satu jam.

"Jarak sekolahnya sekitar dua kilometer. Jadi sebelum jam 07.00 WIB sudah berangkat dan sampai sekolah sekitar jam 08.00 WIB, kadang juga telat sampai sekolah," ungkap Susi.

Keterbatasan lain yang dihadapi warga adalah akses internet.

Warga berupaya menyediakan koneksi secara mandiri.

"Akses internet kami menggunakan Orbit seperti wifi yang dipasangkan pribadi dengan menggunakan tiang bambu," kata Susi.

Bagi Susi, perbaikan jalan menjadi kebutuhan utama karena jalur tersebut merupakan satu-satunya akses warga untuk keluar dan masuk wilayah mereka.

"Harapan kami minta tolong jalan ini diperbaiki karena ini akses utama dan satu-satunya kami," ujarnya.

LPG 3 Kilogram Rp65.000 Per Tabung

Mahalnya biaya hidup akibat persoalan akses juga dirasakan warga Dusun Damar Kencana.

Agus Wahradi (80) telah tinggal di wilayah tersebut sejak 1992 atau sekitar 34 tahun.

Sehari-hari, ia bekerja sebagai petani kopi.

Dahulu, Agus membawa hasil kopinya untuk dijual ke Desa Sosokan.

Kini, para tauke atau pembeli kopi sudah mulai masuk langsung ke wilayah tersebut.

"Hasil kopi di sini dijual sekitar Rp40-50 ribu per kilogramnya," kata Agus.

Menurut dia, akses jalan tetap menjadi persoalan utama warga.

Sulitnya membawa barang masuk membuat biaya angkut meningkat dan berpengaruh terhadap harga kebutuhan sehari-hari.

"Kesulitan kami di sini terkait akses jalan sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di sini mahal," ungkap Agus.

Salah satu yang paling terasa adalah harga LPG subsidi ukuran 3 kilogram.

Agus menyebut warga harus membayar sekitar Rp65.000 untuk satu tabung.

Harga tersebut, menurut dia, telah dirasakan warga selama sekitar lima tahun.

"Seperti harga gas subsidi 3 kilogram di sini sekitar Rp65 ribu per tabungnya, sudah sekitar lima tahun ini," jelas Agus.

Bukan hanya LPG.

Agus menyebut harga beras mencapai Rp20.000 per kilogram dan minyak goreng sekitar Rp20.000 per liter.

Sementara itu, Pertalite dijual sekitar Rp17.000 per liter.

Semen Rp190.000 Per Sak

Sulitnya distribusi barang juga berdampak terhadap harga material bangunan.

Agus mencontohkan semen yang disebutnya memiliki harga normal Rp90.000 per sak.

Ketika sampai ke wilayah tempat tinggalnya, harganya menjadi Rp190.000 per sak.

"Kalau semen itu normalnya Rp90 ribu, tapi kalau sampai ke sini jadi Rp190 ribu per saknya," beber Agus.

Dengan demikian, selisih harga semen yang harus ditanggung warga mencapai Rp100.000 per sak.

Bagi warga, persoalan jalan pada akhirnya bukan sekadar soal nyaman atau tidaknya perjalanan.

Akses tersebut berkaitan dengan perjalanan anak menuju sekolah hingga biaya membawa kebutuhan pokok dan material ke tempat tinggal mereka.

Agus berharap jalan yang semakin rusak tersebut mendapat perhatian pemerintah.

"Harapan kita jalan yang sudah semakin parah ini bisa dibangun atau diperbaiki," pungkas Agus.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.