BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tenun cual merupakan warisan budaya tak benda Bangka Belitung dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sehingga upaya Pemprov Babel untuk menjaga budaya lokal tersebut adalah dengan cara branding tenun cual.
"Tenun cual itu warisan tak benda Bangka Belitung yang harus dilestarikan," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Babel, Subekti Saputra kepada wartawan, Minggu (30/8/2026).
Ia mengatakan, Disperindag Babel terus melakukan promosi dan pembinaan ke sejumlah kelompok penenun cual.
"Sudah banyak kita lakukan dari promosi, hingga kunjungan ke pelaku usaha penenun di Mentok, dan Pangkalpinang kita galakkan untuk pembangunan centra," terangnya.
Selain tiu, untuk menjaga regenerasi dan mengenalkan kain cual kepada generasi muda, Disperindag Babel bersama Dekranasda Babel menggelar program Go to School.
"Itu sebagai upaya memperkenalkan kain cual kepada para pelajar. Sehingga kain cual dapat dikenalkan sebagai bagian dari muatan lokal atau pembelajaran di sekolah," katanya.
Tak cukup di situ, pelatihan juga dilakukan bukan hanya ke para penenun senior. Tetapi ke kalangan generasi muda.
"Jadi Mereka ikut sebagai peserta, sebagai regenerasi penenun cual," harapnya.
Lebih jauh, ia mengakui untuk membuat kain cual semakin menarik bagi generasi muda, pemerintah dan Dekranasda Babel bekerja sama dengan para pengrajin.
"Kolaborasi antara anak muda yang memiliki desain dan pola pikir kreatif dengan pengrajin yang berpengalaman diharapkan dapat mendorong pelaku usaha turut berkontribusi dalam pengembangan cual," katanya.
Menurutnya, langkah ini menjadi salah satu strategi untuk mengenalkan cual kepada generasi muda. Sehingga keberadaannya tetap lestari dan regenerasinya tidak terputus.
"Tentu ada tantangan untuk terus melestarikan cual, bagaimana kita membukan mindset atau pola pikir masyarakat. Bahwa cual itu bisa jadi pendapatan," katanya.
Dia mengharapkan, bahan cual tidak hanya dibuat dengan motif klasik, tetapi juga dimodifikasi agar lebih sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.
(Bangkapos.com/Riki Pratama)