Opini: Bukan Sekadar Bansos- Membumikan Fratelli Tutti di Tanah Flores yang Terluka
Dion DB Putra August 30, 2026 07:19 PM

Oleh: Gerardus Taena
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, NTT.

POS-KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur ( NTT) adalah tanah yang akrab dengan berbagai bentuk keterbatasan dimana ada kekeringan, kemiskinan, akses pendidikan dan kesehatan yang belum merata, serta kondisi geografis yang menantang telah menjadi bagian dari pergulatan hidup masyarakatnya. 

Namun, di balik segala keterbatasan itu, masyarakat NTT dikenal memiliki semangat gotong royong, kekeluargaan, dan kepedulian yang kuat. 

Ketika seseorang mengalami kesulitan, penderitaannya sering kali tidak dianggap sebagai penderitaan pribadi, tetapi sebagai penderitaan bersama. 

Dalam suasana kehidupan yang belum sepenuhnya lepas dari berbagai persoalan tersebut, Flores kembali mengalami luka. 

Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. 

Baca juga: Opini: Disabilitas, Data dan Jarak antara Kebijakan dengan Kehidupan

BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 04.58 WIB dengan kedalaman sekitar 15 kilometer dan pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo. 

Gempa tersebut juga memunculkan potensi tsunami dan diikuti ribuan gempa susulan.

Bencana itu bukan sekadar guncangan tanah. Ia mengguncang rumah, fasilitas umum, kehidupan ekonomi, rasa aman, bahkan harapan banyak keluarga. 

Karena itu, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya: Berapa banyak bantuan yang sudah diberikan? Pertanyaan yang lebih dalam adalah: Apakah kita sungguh-sungguh hadir bersama mereka yang sedang terluka?

Di sinilah pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti menjadi sangat relevan. 

Ensiklik yang berbicara tentang persaudaraan dan persahabatan sosial itu mengajak kita sebagai sesama manusia untuk tidak hidup hanya bagi dirinya sendiri, tetapi membangun dunia di mana penderitaan orang lain menjadi perhatian bersama.

Flores yang Terluka: Ketika Tanah Berguncang 

Gempa 15 Agustus 2026 meninggalkan dampak yang luas. Pada tahap awal penanganan, BNPB melaporkan korban meninggal dunia dan kerusakan pada ratusan rumah serta berbagai fasilitas umum. 

Data awal menunjukkan kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, dan kantor pemerintahan. 

Ribuan warga kemudian harus meninggalkan rumah mereka dan bertahan di tempat-tempat pengungsian. 

Dampaknya tidak berhenti pada bangunan yang roboh atau retak. Rumah yang rusak berarti keluarga kehilangan tempat berlindung. Sekolah yang terdampak berarti anak-anak kehilangan ruang belajar yang aman. 

Rumah sakit yang mengalami kerusakan berarti pelayanan kesehatan ikut terganggu. Jalan yang tertutup longsor berarti hubungan antarkampung dan akses ekonomi masyarakat menjadi sulit. 

Bahkan infrastruktur listrik dan komunikasi ikut terdampak sehingga pemulihan membutuhkan waktu dan kerja bersama.

Pada 19 Agustus, BNPB mencatat lebih dari 3.000 gempa susulan telah terjadi, dengan gempa susulan terbesar mencapai Magnitudo 6,2. 

Kondisi semacam ini membuat masyarakat tidak hanya menghadapi kerusakan fisik, tetapi juga ketidakpastian dan rasa takut untuk kembali menjalani kehidupan seperti biasa. 

Karena itu, Flores hari ini bukan hanya membutuhkan pembangunan kembali tembok-tembok yang runtuh. Flores membutuhkan pemulihan kehidupan. 

Bansos Penting, tetapi Tidak Cukup

Pemerintah telah bergerak memberikan bantuan. Logistik, kebutuhan pangan, layanan kesehatan, tenda pengungsian, perbaikan infrastruktur, dan berbagai bentuk dukungan lainnya telah dikerahkan. 

Pemerintah Provinsi NTT, misalnya, melaporkan penyaluran bantuan logistik ke sejumlah wilayah terdampak serta penghimpunan dana tanggap bencana yang mencapai lebih dari Rp4,3 miliar pada 18 Agustus 2026. 

Semua bantuan tersebut tentu penting dan patut diapresiasi. Dalam keadaan darurat, makanan, air, obat-obatan, tempat tinggal sementara, dan kebutuhan dasar adalah hal yang tidak bisa ditunda. 

Namun, setelah kebutuhan paling mendesak terpenuhi, muncul persoalan yang lebih panjang: bagaimana masyarakat dapat kembali berdiri?

Bansos dapat membantu seseorang melewati hari ini. Tetapi persaudaraan membantu seseorang menemukan keberanian untuk menghadapi hari esok. Inilah yang sering kali luput dalam cara kita memahami bantuan. 

Kita mudah mengukur kepedulian dari jumlah paket yang dibagikan, jumlah uang yang disalurkan, atau banyaknya barang yang dikirim. 

Padahal, manusia bukan hanya membutuhkan barang. Manusia juga membutuhkan pengakuan bahwa dirinya berharga, didengarkan, dan tidak ditinggalkan.

Orang yang kehilangan rumah bukan hanya membutuhkan seng atau bahan bangunan. Ia membutuhkan keyakinan bahwa hidupnya masih memiliki masa depan. 

Anak yang kehilangan sekolah bukan hanya membutuhkan ruang kelas baru. Ia membutuhkan kepastian bahwa pendidikan dan cita-citanya tidak berhenti karena bencana. 

Keluarga yang kehilangan anggota keluarganya bukan hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga membutuhkan ruang untuk berduka dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Maka, bantuan sosial jangan sampai berhenti pada logika memberi lalu pergi. Bantuan harus berkembang menjadi hadir, menemani, dan membangun kembali. 

Jangan Hanya Melihat, tetapi Jadilah Sesama. Salah satu bagian paling kuat dalam Fratelli Tutti adalah refleksi Paus Fransiskus tentang orang Samaria yang baik hati. 

Dalam perumpamaan itu, persoalannya bukan sekadar mengetahui siapa yang disebut "sesama". Yesus justru mengajak manusia untuk menjadikan dirinya sesama bagi orang yang sedang membutuhkan pertolongan.

Pesan ini terasa sangat dekat dengan situasi Flores, Ketika melihat saudara-saudari kita kehilangan rumah, apakah kita hanya berkata, "Kasihan mereka"? 

Ketika melihat anak-anak harus belajar dalam keterbatasan, apakah kita hanya mengunggah foto dan menuliskan rasa prihatin? 

Ketika mendengar keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, apakah kita cukup mengirimkan ucapan belasungkawa? Tentu tidak.

Persaudaraan menuntut lebih dari sekadar rasa kasihan, sebab persaudaraan menuntut kehadiran. Paus Fransiskus bahkan mengatakan bahwa kita tidak boleh hanya berharap semuanya dilakukan oleh pemerintah. 

Ada ruang bagi tanggung jawab bersama untuk membangun kembali masyarakat yang terluka. Kita dipanggil menjadi seperti orang Samaria yang hadir, berhenti, dan membantu mereka yang jatuh. 

Karena itu, masyarakat Flores tidak boleh dipandang sebagai objek yang hanya menerima bantuan. Mereka adalah saudara dan saudari yang memiliki martabat, kemampuan, suara, dan hak untuk terlibat dalam membangun kembali kehidupan mereka.

Dari Bantuan Menuju Solidaritas

Fratelli Tutti mengajarkan bahwa solidaritas bukan sekadar perasaan iba. Solidaritas adalah kesediaan untuk bertanggung jawab terhadap kerapuhan orang lain dan membangun masa depan bersama. 

Solidaritas diwujudkan secara konkret melalui pelayanan, terutama kepada mereka yang paling lemah. Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap korban bencana.

Masyarakat Flores bukan sekadar "penerima bansos". Mereka adalah manusia yang sedang mengalami penderitaan. 

Mereka bukan angka dalam laporan kebencanaan. Mereka bukan sekadar jumlah rumah rusak, jumlah pengungsi, atau jumlah paket bantuan. 

Di balik setiap angka terdapat wajah manusia; ada seorang ibu yang memikirkan anak-anaknya, ada seorang ayah yang memikirkan bagaimana membangun kembali rumahnya, ada anak yang takut kembali ke rumah karena gempa susulan, ada lansia yang bingung karena tempat tinggalnya tidak lagi aman, dan ada keluarga yang harus memulai hidup dari hampir tidak ada apa-apa. 

Jika kita mampu melihat wajah-wajah tersebut, bantuan akan berubah menjadi solidaritas.

Solidaritas juga berarti memastikan bahwa bantuan diberikan secara adil, transparan, dan berdasarkan kebutuhan. 

Jangan sampai penderitaan manusia digunakan sebagai panggung untuk kepentingan pribadi, kelompok, politik, atau pencitraan. Orang yang sedang terluka tidak membutuhkan pertunjukan kebaikan. Mereka membutuhkan kebaikan yang sungguh-sungguh.

Flores Tidak Hanya Membutuhkan Barang, tetapi Kehadiran

Ada satu hal yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kardus bantuan: kehadiran. Seseorang dapat memberikan makanan tanpa mengenal siapa yang menerimanya. 

Tetapi persaudaraan membuat kita mau mengenal orang tersebut. Seseorang dapat menyumbangkan uang tanpa pernah mengetahui cerita keluarga yang dibantunya. Tetapi persaudaraan membuat kita mau mendengar cerita mereka.

Inilah yang disebut Paus Fransiskus sebagai budaya perjumpaan. Dunia yang semakin maju secara teknologi justru dapat menjadi semakin jauh secara manusiawi apabila kita kehilangan kemampuan untuk hadir secara nyata bagi orang lain. 

Masyarakat Flores masih membutuhkan pendampingan ketika rumah mulai dibangun kembali. Mereka masih membutuhkan sekolah yang dipulihkan. Mereka masih membutuhkan pelayanan kesehatan. 

Mereka membutuhkan dukungan untuk kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka juga membutuhkan ruang untuk memulihkan rasa aman dan kepercayaan diri. 

Pemulihan seperti ini membutuhkan waktu, karena itu, kepedulian terhadap Flores tidak boleh hanya ramai pada minggu pertama setelah bencana. 

Membangun Kembali dengan Harapan

Fratelli Tutti tidak mengajak manusia tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya, ensiklik ini mengajak kita untuk membangun harapan melalui tindakan nyata. 

Kita tidak boleh menyerah kepada logika "masing-masing menyelamatkan dirinya sendiri". 

Paus Fransiskus mengingatkan bahwa kita membutuhkan komunitas yang saling mendukung karena tidak seorang pun dapat menghadapi hidup sendirian.

Dalam konteks Flores, harapan itu dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk Pertama, pemerintah perlu memastikan pemulihan yang berkelanjutan. 

Bantuan darurat harus dilanjutkan dengan pembangunan rumah yang aman, pemulihan sekolah dan fasilitas kesehatan, perbaikan jalan, serta pemulihan ekonomi masyarakat. 

Kedua, masyarakat sipil dan komunitas keagamaan perlu terus hadir. Gereja, lembaga agama, organisasi sosial, kelompok pemuda, mahasiswa, dan komunitas lokal dapat menjadi ruang pendampingan dan pemulihan bagi masyarakat. 

Ketiga, masyarakat terdampak harus dilibatkan. Mereka bukan sekadar penerima keputusan. 

Mereka harus didengarkan karena merekalah yang paling memahami kebutuhan wilayahnya. Keempat, solidaritas harus melampaui batas geografis. 

Persaudaraan tidak boleh berhenti karena seseorang tinggal jauh dari Flores. Bantuan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa penderitaan satu wilayah dapat menjadi keprihatinan seluruh bangsa. 

Kelima, kepedulian harus berlangsung dalam jangka panjang. Ketika bantuan darurat selesai, perhatian terhadap pendidikan, ekonomi, kesehatan, trauma pascabencana, dan pembangunan kembali harus tetap berjalan. 

Dengan demikian, kita tidak sekadar membantu Flores untuk bertahan. Kita membantu Flores untuk bangkit.

Membumikan Fratelli Tutti di Tanah Flores
 
Fratelli Tutti berarti "Saudara Sekalian". Ensiklik ini pada dasarnya mengajak kita untuk melihat manusia lain bukan sebagai "orang lain", tetapi sebagai saudara. Persaudaraan bukan sekadar slogan religius. 

Di Flores yang sedang terluka, pesan ini menemukan tempat yang sangat konkret. Ketika kita memberikan bantuan tanpa mencari keuntungan pribadi, kita sedang membumikan Fratelli Tutti. Ketika kita mendengarkan keluhan masyarakat tanpa merendahkan mereka, kita sedang membumikan Fratelli Tutti.

Ketika pemerintah membuat kebijakan yang benar-benar memprioritaskan masyarakat yang paling rentan, kita sedang membumikan Fratelli Tutti. Ketika orang dari berbagai agama dan latar belakang bekerja bersama membantu korban bencana, kita sedang membumikan Fratelli Tutti. 

Sebab persaudaraan sejati bukan terutama tentang seberapa banyak yang kita berikan. Persaudaraan adalah tentang seberapa sungguh kita hadir bagi orang lain.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa kasih tidak hanya diwujudkan dalam hubungan pribadi, tetapi juga memiliki dimensi sosial, ekonomi, dan politik. 

Kasih harus mendorong kita mengusahakan kebaikan bersama. Maka, kepedulian terhadap Flores bukan hanya tugas individu. Ia adalah tanggung jawab bersama.

Jangan Biarkan Flores Berjuang Sendirian

Gempa 15 Agustus 2026 telah mengguncang Flores. Tetapi jangan sampai setelah tanah berhenti berguncang, hati kita justru ikut berhenti peduli. Bantuan sosial memang penting, pemerintah memang harus bergerak, masyarakat memang perlu menyumbang, Namun semua itu akan menjadi lebih bermakna ketika dilandasi oleh persaudaraan yang tulus.

Flores tidak hanya membutuhkan beras, air, obat, tenda, atau uang. Flores membutuhkan manusia yang mau hadir. Flores membutuhkan saudara yang mau berjalan bersama. 

Flores membutuhkan masyarakat yang tidak melihat korban bencana sebagai orang asing, tetapi sebagai bagian dari dirinya sendiri. Di sinilah Fratelli Tutti menjadi lebih dari sekadar dokumen Gereja. Ia menjadi panggilan untuk bertindak, panggilan itu sederhana: jangan hanya melihat orang yang terluka; dekatilah dia. 

Jangan hanya merasa kasihan; lakukan sesuatu. Jangan hanya memberi bantuan; bangunlah persaudaraan.

Masyarakat Flores hari ini sedang terluka, tetapi luka itu tidak harus menjadi akhir dari cerita. Jika solidaritas benar-benar dihidupi, luka dapat menjadi tempat lahirnya harapan baru. 

Jika persaudaraan benar-benar diwujudkan, penderitaan dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk menemukan kembali kemanusiaan kita.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar setelah bencana bukanlah hanya "berapa banyak yang sudah kita berikan?" Melainkan: "Apakah kita sudah menjadi saudara bagi mereka yang sedang terluka?" (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.