TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palangka Raya membuat warga harus mencari cara untuk melindungi diri.
BPBD Palangka Raya mencatat, hingga 29 Agustus 2026 luas lahan terbakar di Kota Cantik telah mencapai 480,16 hektar dari 390 kali kejadian.
Baca juga: Kondisi Udara di Palangka Raya Terkini, Kabut Asap Serang Anak-anak Picu Sesak Nafas
Karhutla yang terus meluas itu membuat kualitas udar semakin buruk. Berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palangka Raya pada Minggu (30/8/2026) pukul 18.00 WIB angka ISPU mencapai 303 PM2.5.
Di tengah kondisi udara yang semakin memburuk, sebuah rumah aman asap di Jalan Badak XVI, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya menjadi satu di antara tempat warga Palangka Raya mencari udara yang lebih bersih atau pertolongan cepat untuk gejala gangguan pernafasan.
Rumah aman asap tersebut diinisiasi Agnes dari lembaga Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC) bersama sejumlah organisasi nonprofit lainnya.
Sudah sekitar satu pekan rumah aman asap itu beroperasi. Setiap hari, warga silih berganti datang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka memanfaatkan ruangan tersebut untuk beristirahat dan menghindari paparan asap di luar rumah.
"Anak-anak memang setiap hari ada. Orang dewasa juga ada, rata-rata dua sampai tiga anak dan dua sampai tiga orang dewasa setiap hari," ujar Agnes saat ditemui di rumah aman asap, Minggu (30/8/2026).
Menurut Agnes jumlah warga yang datang hari ini lebih banyak dari biasanya, mencapai sekitar 10 orang, termasuk anak-anak dan orangtua yang mendampingi.
Dia mengatakan, sejak pertama beroperasi, aktivitas di rumah aman asap hampir tidak pernah benar-benar sepi.
Dalam beberapa hari terakhir, anak-anak datang silih berganti, bahkan ketika baru saja ada pengunjung yang meninggalkan lokasi.
"Setiap jam ini mungkin baru berhenti sejam, ini ada lagi, ada lagi," tuturnya.
Inisiatif membuat rumah aman asap tersebut berawal dari kekhawatiran Agnes sebagai seorang ibu yang memiliki balita.
Ia membayangkan kondisi anak-anak yang harus menghadapi kabut asap ketika kualitas udara memburuk.
"Karena sebenarnya saya punya balita. Terus berpikir, kalau misalkan anak sekarang enggak ada ibu, itu di mana?" ujarnya.
Dari keresahan tersebut, ia kemudian berinisiatif membuat ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk berlindung dari asap.
Gagasan itu kemudian berkembang setelah dirinya berkolaborasi dengan seorang jurnalis bernama Dhani melalui media sosial untuk membuka donasi.
Dari donasi tersebut, sejumlah fasilitas mulai tersedia di rumah aman asap.
Saat ini, terdapat tiga unit air purifier, dua nebulizer, satu tabung oksigen, susu anak, vitamin, obat-obatan untuk nebulizer, popok, oksigen, obat nyamuk, serta masker untuk anak dan dewasa.
Rumah aman asap sebenarnya beroperasi mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB.
Namun, warga tetap diperbolehkan datang di luar jam tersebut jika kondisi kabut asap semakin parah.
"Kalau situasinya seperti ini, darurat, malam juga makin terlalu parah, datang saja. Karena di sini 24 jam ada orang," kata Agnes.
Selain lokasi tersebut, rumah aman asap juga direncanakan dibuka di kawasan Jalan Mahir Mahar. Namun, lokasi kedua itu belum beroperasi karena masih terkendala relawan serta fasilitas yang belum dilengkapi fasilitas seperti air purifier dan nebulizer.
Rumah aman asap tersebut memang diprioritaskan untuk ibu dan anak.
Meski begitu, Agnes menegaskan, siapa pun yang membutuhkan tempat berlindung dari kabut asap dapat datang.
Agnes menilai, keberadaan rumah aman asap dinilai semakin penting, mengingat tak semua warga mampu menyediakan perlindungan serupa di rumah masing-masing.
Terlebih, sejumlah perlengkapan seperti air purifier kini sulit ditemukan.
Kalaupun tersedia, harganya disebut mengalami kenaikan. Hal serupa terjadi pada nebulizer dan oksigen yang semakin sulit diperoleh.
"Sekarang sudah langka, ada juga harganya sudah dua kali lipat," ujar Agnes.
Karena itu, Agnes berharap pemerintah ikut menyediakan ruang aman bagi masyarakat ketika kabut asap kembali memburuk.
Menurutnya, pemerintah memiliki sumber daya, anggaran, serta ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tersebut.
"Harapannya untuk pemerintah, open space-lah buat rumah aman. Mereka punya sumber daya, mereka punya uang, mereka punya ruang," tuturnya.
Bagi Agnes, rumah aman asap tidak harus memiliki fasilitas yang mewah.
Yang terpenting, masyarakat memiliki tempat untuk berlindung dan merasa nyaman ketika udara di luar sudah tidak sehat.
"Enggak muluk-muluk harus banyak. Sedikit seperti ini tapi tertangani dan nyaman, ya sudah," katanya.
Ia berharap pemerintah dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan organisasi yang telah lebih dahulu bergerak membantu warga.
Penanganan dampak kabut asap terhadap masyarakat, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan upaya memadamkan karhutla.
"Kalau pemerintah bisa berkolaborasi, saya rasa fokus dulu di penanganan untuk yang sekitar, sambil bagian lain mungkin menangani kasus kebakarannya," pungkas Agnes.
(TRIBUNKALTENG.COM/AHMAD SUPRIANDI)