Khamenei Serukan Negara Teluk Bersatu Hadapi “Musuh Nyata”, Selat Hormuz Masih Ditutup
Ansari Hasyim August 31, 2026 12:03 AM

SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di kawasan Teluk belum juga mereda. Iran masih mempertahankan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz, sementara upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut terus menemui jalan terjal.

Di tengah situasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyerukan kepada para pemimpin negara-negara Teluk agar bersatu dan menghadapi apa yang disebutnya sebagai “musuh nyata”.

Pesan tersebut disampaikan Khamenei dalam pernyataan yang diterbitkan pada Minggu untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad.

“Rekomendasi tegas dan berulang saya kepada para penguasa negara-negara Islam, khususnya negara-negara Asia Barat dan Teluk, adalah mengenali musuh sebenarnya, memahami rencananya dan menghadapinya,” kata Khamenei.

Baca juga: Iran Tegaskan Tetap Bertahan Hadapi Sanksi AS

Pernyataan itu muncul ketika masa depan Selat Hormuz masih menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi yang sangat penting bagi dunia. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Iran: Selat Hormuz Masih Ditutup

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pada Sabtu bahwa Teheran telah mencapai kesepahaman dengan Oman mengenai pembentukan jalur maritim sementara.

Namun, pelaksanaannya masih bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat dalam nota kesepahaman yang pernah disepakati kedua negara pada pertengahan Juni dan kini telah berakhir.

“Selat Hormuz ditutup,” kata Gharibabadi.

Menurut dia, kapal yang ingin melintasi selat tersebut harus terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pihak Iran.

“Pelaksanaan kesepahaman ini membutuhkan pihak lain, khususnya Amerika Serikat, untuk memenuhi komitmennya. Ketika komitmen tersebut dilaksanakan, Iran juga akan mengambil langkah-langkahnya,” ujarnya.

Iran dan Oman saat ini masih membahas kemungkinan pembentukan koridor pelayaran bersama untuk sementara waktu, termasuk upaya pembersihan ranjau laut.

Di saat yang sama, Qatar dan Pakistan meningkatkan upaya mediasi untuk mencegah ketegangan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani bahkan telah mengunjungi Teheran pada Kamis. Dalam pertemuan tersebut, pembahasan mencakup upaya meredakan ketegangan serta mengembalikan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz.

Kapal yang Melintas Terus Menurun

Meski jalur diplomasi terus dibuka, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih berada pada tingkat rendah.

Mengutip data Kpler, Reuters melaporkan hanya tujuh kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis.

Jumlah tersebut turun dari 17 kapal pada hari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 15 kapal dalam 10 hari terakhir.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran sekaligus pasokan energi dunia.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengatakan pada Jumat bahwa hingga 400 kapal yang membawa sekitar 6.000 pelaut masih tidak dapat meninggalkan kawasan Teluk dengan aman sejak perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran dimulai.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menyerukan langkah nyata untuk memulihkan kebebasan navigasi.

“Diperlukan kemauan politik dan kerja sama yang diperbarui,” katanya.

Tekanan Ekonomi Iran Makin Berat

Persoalan Selat Hormuz juga terjadi ketika tekanan ekonomi terhadap Iran semakin meningkat.

Inflasi tahunan Iran mencapai 66 persen pada bulan lalu. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengatakan aktivitas ekspor dan impor negara itu telah turun hampir 35 persen akibat sanksi Amerika Serikat dan blokade laut.

Washington pada saat yang sama memperluas kampanye sanksinya terhadap Iran dengan menargetkan individu dan entitas yang memiliki hubungan dengan Teheran.

Amerika Serikat juga bergerak membatasi transaksi dolar cabang Banque Misr Mesir di Uni Emirat Arab, terkait dugaan transaksi dengan Iran.

Namun, tekanan tersebut sejauh ini belum membuat Teheran menunjukkan tanda-tanda akan menyerah dalam persoalan Selat Hormuz.

Pezeshkian justru menyerukan agar kesepakatan sementara dengan Washington yang dibuat pada Juni dihidupkan kembali.

“Kita dapat menyelesaikan masalah dan mendapatkan hak-hak kita melalui nota kesepahaman tersebut,” kata Pezeshkian.

Khamenei Belum Tampil di Depan Publik

Seruan Khamenei mengenai persatuan negara-negara Teluk juga menjadi perhatian karena ia belum tampil di depan publik sejak serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.

Serangan tersebut menewaskan ayah sekaligus pendahulunya, Ayatollah Ali Khamenei.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Teheran tetap mempertahankan posisi kerasnya atas Selat Hormuz.

Bagi Iran, persoalan selat bukan sekadar masalah pelayaran. Jalur tersebut menjadi kartu strategis dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat sekaligus alat tawar dalam perundingan diplomatik.

Sementara bagi dunia, setiap hari Selat Hormuz tetap terbatas berarti semakin besar pula risiko terhadap rantai pasokan energi, perdagangan internasional, dan stabilitas ekonomi global.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.