Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Petani di wilayah Mojokerto, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, memilih menanam jagung ketimbang padi sebagai strategi menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim tanam kali ini.
Baca juga: Dicegat Polisi, 2 Pelajar SMP di Pringsewu Kedapatan Bawa 43 Paket Tembakau Sintetis
Pilihan tersebut diambil karena jagung dinilai lebih mampu bertahan ketika ketersediaan air tidak mencukupi, sementara petani menghadapi ketidakpastian pasokan irigasi yang berpotensi dihentikan mulai September 2026.
Indra, salah seorang petani setempat, mengatakan sebagian besar lahan pertanian di kawasan tersebut kini ditanami jagung. Luas areal yang digarap petani mencapai lebih dari 100 hektare.
Menurutnya, keputusan memilih jagung bukan tanpa alasan. Petani harus menyesuaikan jenis tanaman dengan kondisi sumber air yang tersedia agar risiko kerugian dapat ditekan.
"Kalau melihat kondisi air seperti sekarang, banyak yang pilih jagung. Saya sendiri juga tanam jagung karena kebutuhan airnya tidak sebanyak padi," kata Indra, Senin (31/8/2026).
Meski demikian, masih terdapat sejumlah petani yang memilih menanam padi. Tanaman padi yang berada di kawasan tersebut saat ini rata-rata masih berusia muda, dengan usia paling lama hampir satu bulan.
Kondisi itu membuat kebutuhan air tetap menjadi perhatian. Sebab, pada fase pertumbuhan tersebut tanaman masih membutuhkan pasokan air yang cukup agar tidak mengalami gangguan pertumbuhan maupun penurunan hasil produksi.
Indra mengatakan, hingga akhir Agustus, petani masih dapat memanfaatkan sisa air yang berada di saluran irigasi besar. Air tersebut sementara dialirkan ke lahan menggunakan selang dengan memanfaatkan gravitasi.
Namun, ketika debit air semakin menurun, petani harus mengandalkan pompa untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Penyedotan dilakukan secara berkala, mulai sekitar satu kali dalam sepekan hingga tiga hari sekali, menyesuaikan kondisi tanaman dan kebutuhan air di lahan.
"Sementara ini hingga akhir Agustus kita masih tertolong sisa air irigasi, volumenya masih memungkinkan untuk dialirkan menggunakan selang dan gravitasi. Tapi nanti kalau volumenya menyusut bakal menggunakan pompa alkon," ujarnya.
Kekhawatiran petani semakin besar karena mereka memperoleh informasi bahwa aliran irigasi berpotensi dihentikan selama proses rehabilitasi atau peremajaan saluran. Penghentian tersebut disebut-sebut berlangsung mulai September hingga Oktober 2026.
Jika saluran harus dikeringkan untuk kepentingan pekerjaan, petani tidak lagi dapat mengandalkan sumber air utama tersebut. Kondisi ini menjadi persoalan tersendiri bagi petani yang tetap menanam padi maupun tanaman lain yang membutuhkan pasokan air secara rutin.
"Kalau rehabilitasi, satu sisi saluran irigasi bakal terawat, tapi airnya harus kering. Kalau nggak jadi rehabilitasi, tanaman kita masih tertolong karena ada air sisa di irigasi, bisa dipompa," kata Indra.
Ia menyebut informasi sementara yang diterima petani menyatakan pembatasan aliran air dapat berlangsung hingga Oktober. Hal itu terlihat dari adanya permintaan alokasi air kembali untuk November yang telah diajukan petugas pengatur aliran irigasi.
"Kalau pembatasan aliran irigasi ini kabarnya sampai bulan 10. Soalnya petugas pengatur aliran air irigasi sudah buat permintaan jatah aliran air lagi bulan 11," tambahnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, petani juga menghadapi ancaman lain berupa serangan hama, terutama tikus. Risiko tersebut menambah tantangan bagi petani dalam mempertahankan tanaman hingga masa panen.
Indra mengatakan kawasan pertanian tersebut belum memiliki fasilitas sumur bor khusus untuk kebutuhan pertanian. Karena itu, petani masih bergantung pada sisa aliran irigasi serta kemungkinan memanfaatkan genangan rawa di sekitar lahan sebagai sumber air alternatif.
"Di areal ini belum ada fasilitas sumur bor pertanian. Jadi petani bergantung penuh pada sisa aliran air irigasi besar dan potensi pemanfaatan genangan rawa-rawa sekitar," ujarnya.
Ia berharap kondisi pengairan tetap mendapat perhatian sehingga petani dapat mempertahankan tanaman yang sudah ditanam dan menekan potensi penurunan produksi.
"Risiko penurunan hasil pasti ada kalau air kurang. Harapan kami ke depan pengairan jangan sampai terlambat agar pertanian tetap berjalan," tutup Indra.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)