Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Seorang gadis cilik mengenakan baju serba hitam sedang berlatih jurus wushu, Senin (31/8/2026) di tengah lapangan SD Xaverius 1 Bandar Lampung. Terdengar suara pedang yang beradu nyaring dalam latihan itu.
Baca juga: Jasmine Mahasiswi FH Unila Borong Tiga Medali Emas di Kejuaraan Wushu Nasional
Ia adalah Kimora Clairine Xia (10), di usia yang masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar (SD), Kimi sudah menunjukkan semangat berprestasi di dua bidang yang berbeda.
Siswi SD Xaverius 1 Bandar Lampung ini dikenal memiliki ketertarikan kuat pada matematika sekaligus aktif menekuni olahraga bela diri wushu.
“Saya belajar matematika sejak umur 5 tahun. Kalau matematika saya suka, kalau wushu juga suka. Saya tidak bisa memilih karena saya suka dua-duanya,” ujar Kimora saat menceritakan pengalamannya Senin (31/8/2026).
Kecintaan Kimora terhadap matematika sudah tumbuh sejak usia sekitar lima tahun, saat itu dirinya belum duduk dibangku sekolah. Namun sang ibu sudah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti latihan les sempoa.
Setelah masuk ke Sekolah Dasar, ia kemudian mengikuti berbagai kompetisi matematika dan semakin fokus. Dalam matematika, ia mengandalkan kemampuan berhitung cepat.
Menurut Kimora, yang membuat ia tertarik dengan matematika karena soal yang awalnya terlihat sulit dapat menjadi mudah setelah memahami cara menyelesaikannya.
“Kalau matematika itu seru. Sebelum tahu caranya memang terasa sulit, tetapi setelah tahu caranya jadi mudah,” katanya.
Untuk mempertajam kemampuannya, Kimora terbiasa meluangkan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk belajar matematika setiap hari.
Selain membaca buku, ia juga rajin mencari dan mengerjakan soal-soal latihan. Jika menemukan soal yang belum bisa dikerjakan, Kimora berusaha mencari cara untuk memahaminya dibantu oleh guru lesnya dan sang ibu.
Kegigihannya pun membawanya mengikuti berbagai kompetisi matematika hingga tingkat nasional. Salah satu pengalaman yang diingatnya adalah ketika mengikuti kompetisi di Bandung. Ia juga pernah mengikuti ajang matematika dan sains hingga tingkat provinsi.
Namun, Kimora menyadari bahwa soal-soal kompetisi seperti OSN memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. “Menurut saya, yang paling sulit itu soal OSN matematika,” ungkapnya.
Ia pun menyadari masih perlu meningkatkan kebiasaan membaca dan memperbanyak latihan soal agar dapat menghadapi kompetisi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Selain matematika, Kimora juga memiliki keahlian di dunia wushu. Ia mulai mengikuti wushu saat naik kelas dua, saat itu sang ibu yang memperkenalkannya di wushu.
Saat pertama kali mengikuti kompetisi wushu, Kimi belum berhasil meraih juara. Maklum, saat itu ia baru selesai mengikuti latihan selama tiga bulan.
Namun, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Pada kompetisi berikutnya, Kimi langsung berhasil meraih juara. Semangat untuk terus mencoba menjadi salah satu kunci keberhasilannya.
“Waktu kalah saya tidak menyerah, saya terus latihan. Sebab saya ingin mencoba terus dan jadi pemenang,” tuturnya.
Kini, pengalaman bertanding telah membuat Kimi semakin percaya diri dalam menekuni wushu. Ia juga terus berlatih dan mengikuti berbagai kompetisi.
Bagi Kimi, pertandingan bukan hanya soal mendapatkan gelar juara. Setiap kompetisi menjadi kesempatan untuk belajar, mengukur kemampuan, sekaligus memperbaiki kekurangan.
Menjalani dua bidang sekaligus tentu bukan hal mudah bagi seorang anak seusianya. Namun, Kimi justru menikmati proses tersebut.
Ia mengaku matematika dan wushu sama-sama memberikan tantangan dengan cara yang berbeda. Matematika mengasah kemampuan berpikir dan memecahkan masalah, sedangkan wushu membutuhkan kedisiplinan, latihan fisik, konsentrasi, serta keberanian saat bertanding.
Saat ini, Ia masih memiliki keinginan untuk meningkatkan kemampuan matematika, khususnya menghadapi soal-soal yang lebih sulit, sekaligus terus mengembangkan kemampuannya di bidang wushu.
“Jika tahun depan bisa ikut OSN lagi, aku ingin ikut dan latihan lebih keras,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah kelak akan memilih matematika atau wushu saat memasuki jenjang pendidikan berikutnya, jawabannya tetap sama.
“Tidak bisa memilih salah satu, karena dua-duanya saya suka,” jelasnya.
Bidang Matematika
Bidang Wushu
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)