Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Sebanyak 227 sekolah di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan 7, 7 skala richter yang mengguncang Pulau Flores termasuk wilayah Kabupaten Ende dua pekan lalu.
Kerusakan tersebut mulai dari kategori ringan, sedang hingga berat.
Data sementara itu telah didata oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende dan dilaporkan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 20 Agustus 2026.
Hal tersebut disampaikan Venan, dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende.
Baca juga: Sekolah Kembali Dibuka Pascagempa di Ende, Pemulihan Trauma Anak Jadi Prioritas
Ia mengatakan pendataan terhadap sekolah yang terdampak gempa masih terus dilakukan untuk memastikan tingkat kerusakan masing-masing bangunan.
Menurutnya, data kerusakan tersebut nantinya menjadi dasar untuk mendapatkan bantuan, baik pada masa tanggap darurat, pascabencana maupun melalui program dana revitalisasi pada Tahun Anggaran 2027.
"Total sekolah di Kabupaten Ende yang mengalami rusak berat akibat gempa bumi berjumlah 15 sekolah, terdiri dari satu gedung PAUD dan 14 gedung SD dan SMP," jelas Venan.
Ia mengatakan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah.
Pasalnya, sejumlah sekolah yang sebelumnya dikategorikan mengalami kerusakan ringan atau sedang masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut oleh tim.
"Yang lain itu rusak ringan dan sedang dan masih butuh pendataan lagi untuk memastikan apakah benar rusak ringan, berat atau sedang. Kita sementara dilakukan tim, dan jumlah kerusakan sekolah di Ende akibat gempa kemungkinan akan bertambah," ujarnya.
Adapun jumlah satuan pendidikan di Kabupaten Ende saat ini terdiri dari 267 unit PAUD/TK, 333 unit SD, dan 92 unit SMP.
Untuk jenjang SMP, salah satu sekolah yang mengalami kerusakan berat adalah SMP Swasta Rewarangga, yang berada di Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur.
Sementara itu, sejumlah sekolah dasar (SD) yang mengalami kerusakan berat di antaranya SDK Anaranda, SDK Puubeto, SDK Kobandaru, SD Inpres Nangapanda 1, dan SDK Maukaro.
Venan menegaskan, penanganan terhadap sekolah terdampak menjadi perhatian, mengingat aktivitas pendidikan harus tetap berjalan di tengah kondisi gempa susulan yang masih terjadi.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende mengimbau para guru dan pelajar untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa susulan.
Gempa susulan yang terjadi dengan kekuatan magnitudo yang berubah-ubah disebut turut memengaruhi kondisi psikologis dan menimbulkan trauma bagi anak-anak.
Meski demikian, pemerintah tidak ingin kondisi tersebut membuat para siswa kehilangan kesempatan untuk mengikuti pembelajaran.
Venan menjelaskan, sekolah yang mengalami kerusakan ringan masih dapat menggunakan ruang kelas dengan sejumlah penyesuaian, selama kondisi bangunan dinilai aman.
"Meski demikian kita tidak mau anak-anak kehilangan kesempatan belajar mereka. Maka di sekolah itu, di ruang kelas yang memang rusak ringan boleh masuk, tapi penataan ruangan terbuka di tengah. Semua meja kursi dipinggirkan di tempat kelas supaya saat terjadi gempa mereka mudah mengevakuasi diri," jelasnya.
Selain ruang kelas yang dinilai masih aman, kegiatan belajar juga dapat dilakukan di halaman sekolah maupun lokasi lain di lingkungan sekolah yang dianggap paling aman, termasuk area di sekitar pepohonan yang memenuhi pertimbangan keselamatan.
Sementara itu, sekolah yang tidak mengalami kerusakan atau hanya mengalami kerusakan ringan dan telah dinyatakan aman sudah mulai menerapkan kembali pembelajaran di dalam kelas.
Venan berharap seluruh satuan pendidikan tetap mengutamakan keselamatan guru dan siswa, sembari memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung selama kondisi pascagempa di Kabupaten Ende. (Bet)