Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI – Aktivitas dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) milik SPPG Kasih Iman Samuel Papua di Kampung Waiya, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, lumpuh total.
Dapur penyedia MBG untuk 1.500 siswa di delapan kampung tersebut masih dipasangi garis polisi (police line) pasca-kasus dugaan keracunan massal yang terjadi pada 4 Agustus 2026 lalu.
Kepala Distrik Depapre, Alfa Stevie, mengonfirmasi operasional dapur dihentikan sementara sesuai instruksi Bupati Jayapura sembari menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Baca juga: Dugaan Keracunan Program MBG di Depapre, Kapolres Jayapura Minta Warga Sabar Tunggu Hasil Lab BPOM
"Masyarakat saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta kejelasan dari pemerintah," ujar Alfa Stevie diwawancarai Tribun-Papua.com di Distrik Depapre, Senin (31/8/2026).
Berdasarkan data Pemkab Jayapura, sebanyak 543 orang terdampak kasus keracunan massal dari tiga distrik, yakni Depapre, Yokari, dan Raveni Rara.
Orang Tua Murid Bulat Tolak Program MBG
Dampak peristiwa ini memicu trauma mendalam bagi warga.
Kepala Sekolah SD YPK Amai, Theresia Somiau, mengungkapkan mayoritas orang tua murid sepakat menolak keberlanjutan program MBG.
Saat kejadian, sebanyak 95 siswa dan empat guru di sekolahnya menderita mual, muntah, hingga kram perut.
"Meskipun disalurkan dalam bentuk uang, orang tua tetap menolak. Mereka menyampaikan lebih memilih menyiapkan makanan sendiri untuk anak-anak," kata Theresia, Senin (31/8/2026).
Theresia menambahkan, sebelum insiden ini terjadi, kualitas makanan dari dapur penyedia kerap dikeluhkan.
Warga sering menemukan sajian daging ayam yang masih berdarah, sayur basi, hingga buah tak layak konsumsi.
Baca juga: Penolakan Program MBG di Mamberamo Tengah Berlanjut, Mahasiswa Papua Ancam Gelar Aksi Demonstrasi
Siswa Mengaku Trauma Berat
Trauma psikologis membayang-bayangi para pelajar di Depapre.
Lukas Youmilena, siswa SMPN 1 Depapre yang sempat dirawat tiga hari di RSUP Jayapura, mengaku kini dilarang orang tuanya mengonsumsi makanan program tersebut.
Senada dengan Lukas, siswi SMAN 2 Depapre, Laura Yaroserai, menolak keras jika program MBG kembali dilanjutkan di wilayahnya.
"Saya sudah trauma, tidak usah ada MBG sama sekali. Saya tidak mau lagi makan MBG, saya takut," tegas Laura. (*)