TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Mahasiswa Program Studi Ilmu Lingkungan, Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Muh Ismail, meraih bronze medal dan penghargaan favorit poster.
Capaian tersebut diraihnya dalam Kompetisi Esai National Empowerment, Innovation, Research and Art (NEIRA) 3 di Yogyakarta.
Kompetisi yang diselenggarakan Sentosa Foundation bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan, Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berlangsung pada 29-30 Agustus 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Ismail mengangkat esai berjudul Silamon: Restorasi Ekosistem Lamun Berbasis Smart Monitoring System sebagai Strategi Blue Carbon terhadap Mitigasi Iklim.
Gagasan tersebut berangkat dari keresahannya terhadap degradasi ekosistem lamun yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Tenggara (Sultra).
Baca juga: Mahasiswi UIN Kendari Raih Top 2 Best Speaker Forum Santri Mendunia di Malaysia, Singapura, Thailand
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena perubahan suhu yang ekstrem dapat berkaitan dengan keberlangsungan ekosistem pesisir.
Lamun memiliki peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon sehingga keberadaannya dapat mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
“Melihat banyaknya aktivitas pertambangan di Sulawesi Tenggara menjadi alasan kuat saya untuk menciptakan inovasi robot ini,” kata Ismail kepada TribunnewsSultra.com, Senin (31/8/2026).
Duta Genre Sultra ini menyampaikan konsep inovasi robot yang dibuatnya berupa robot pemantau ekosistem lamun yang dirancang menyerupai ikan terbang.
Robot tersebut dikembangkan sebagai bagian dari sistem pemantauan kondisi lamun dengan memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan data mengenai ekosistem bawah laut.
Baca juga: 30 Mahasiswa Unsultra di Kendari Raih Beasiswa Sawit, Dapat Asuransi Jiwa hingga Lulus Kuliah
Salah satu teknologi yang menjadi keunggulan rancangan tersebut adalah LiDAR (Light Detection and Ranging) yang digunakan untuk pemetaan citra dengan tingkat presisi tinggi.
Teknologi tersebut diharapkan mampu membantu menghasilkan visualisasi tiga dimensi ekosistem lamun sehingga kondisi kawasan dapat dipantau secara lebih detail.
“Pembuatan konsep robot ini menjadi salah satu tantangan dalam penyusunan karya, karena tidak hanya menyusun gagasan, tetapi juga membuat desain, prototype, hingga animasi yang menggambarkan alur kerja alat,” jelasnya.
Dalam proses penyusunan esay, Ismail dibantu oleh rekannya, Ni Made Intan Cahyani dari Prodi Teknik Rekayasa Infrastruktur lingkungan.
Selain itu, dia mendapatkan pendampingan dari dosen pembimbing, Dr Asramid Yasin.
Baca juga: Mahasiswa USN Kolaka Teliti Pemisahan Aspal Alam Buton Pakai SLS dan Solar di Lab Terpadu
Sejumlah evaluasi diberikan, terutama berkaitan dengan pengembangan sensor dan potensi kekurangan perangkat yang digunakan.
“Masukan tersebut kemudian menjadi bahan perbaikan agar rancangan Silamon dapat dikembangkan lebih lanjut dan memiliki peluang untuk direalisasikan,” tuturnya.
Ismail menyebut penghargaan favorit poster diberikan karena poster esay dibuat dengan menampilkan bagian-bagian robot secara terperinci, termasuk fungsi setiap komponen serta alur pergerakannya.
Penyajian visual tersebut dibuat untuk membantu peserta dan juri memahami cara kerja Silamon serta tujuan penggunaannya dalam pemantauan ekosistem lamun.
Bagi Ismail, capaian ini bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi pengalaman penting dalam perjalanan akademiknya.
Baca juga: Cara Buat Pupuk Organik Cair dan Cocopeat Dibagikan Mahasiswa KKN Tematik UHO di Benuanirae Kendari
Ia berharap karya tersebut dapat terus dikembangkan hingga mampu diterapkan secara nyata untuk membantu pemantauan ekosistem lamun, khususnya di wilayah yang menghadapi tekanan terhadap lingkungan pesisir.
“Saya ingin membuktikan bahwa kami dari ujung utara Sulawesi Tenggara, khususnya anak pedesaan, juga punya potensi dan bisa bersaing,” pungkasnya. (*)
(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)