SPBU di Sleman Batasi Pembelian Pertalite Maksimal Rp 50.000
Hari Susmayanti August 31, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Salah satu  Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Sleman memasang peringatan pengisian Pertalite maksimal 5 liter atau Rp 50.000.

Pihak SPBU tersebut juga tidak melayani pembelian berulang untuk kendaraan bertangki besar, seperti Suzuki Thunder.

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan mengatakan peringatan tersebut merupakan inisiatif dari SPBU tersebut.

Pihaknya pun memberikan apresiasi terhadap inisiatif tersebut.

Menurut dia, pasca penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per 10 Juni 2026, masyarakat cenderung bermigrasi ke Pertalite. Praktis, antrean jalur Pertalite semakin bertambah.

Pihaknya mencatat konsumsi Pertalite di DIY pada Juni 2026 meningkat 6 persen (mtm).

Konsumsi Pertalite tercatat semakin meningkat pada Juli 2026 yang mengalami peningkatan 7,6 persen (mtm).

"Nah di masa-masa sekarang itu kan sangat disayangkan kalau ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan itu untuk keuntungan pribadi seperti menimbun dan seterusnya. Sehingga apa yang dilakukan SPBU itu, meskipun itu inisiatif dari SPBU, itu sudah tepat," katanya, Senin (31/8/2026).

Ia menilai inisiatif SPBU tersebut sekaligus menjawab keresahan masyarakat.

Terlebih masyarakat rela mengantre panjang untuk mengisi Pertalite.

"Mereka sudah capek-capek ngantri, ternyata ditambahi lagi orang yang ngantri yang tujuannya untuk dijual kembali atau ditimbun atau tujuan lain yang kita nggak tahu, karena itu penyimpangan perilaku dari konsumen," ujarnya.

Baca juga: Satpol PP Bantul Dorong Peran Aktif Masyarakat Cegah Peredaran Miras

Taufiq menerangkan regulasi mengenai pengisian bahan bakar minyak menjadi kewenangan BPH Migas.

Namun, dengan adanya pembatasan yang dilakukan SPBU justru membuktikan SPBU tersebut tidak terlibat praktik-praktik menyimpang.

"Kami itu sebenarnya bukan tidak bisa memberikan aturan ya dari sisi perusahaan. Tetapi regulasi dari pengisian bahan bakar minyak itu kan ada kewenangannya di badan pengatur hilir dari BPH Migas. Dengan SPBU tersebut mengeluarkan imbauan atau kebijakan itu, membuktikan SPBU tersebut clean, malah bagus untuk citra SPBU-nya, tidak terlibat praktik-praktik demikian. Kedua, juga menjawab keresahan konsumen," terangnya.

Terpisah, Ketua Hiswana Migas DIY, Aryanto Sukoco menjelaskan sesuai masukan BPH Migas pembatasan maksimal pembelian untuk kendaraan roda dua adalah 10 liter dan 30 liter untuk kendaraan roda empat.

Dengan adanya SPBU yang membatasi pembelian maskimal 5 liter, praktis kebijakan tersebut berasal dari SPBU tersebut.

"Itu merupakan kebijakan operasional SPBU yang bersangkutan. Biasanya dilakukan untuk pemerataan pelayanan dan menjaga agar stok Pertalite tetap tersedia bagi masyarakat. Bisa juga karena alokasi SPBU tersebut mulai menipis, sekaligus sebagai langkah antisipasi terhadap pembelian yang berpotensi untuk dijual kembali," jelasnya.

Kenaikan konsumsi Pertalite di DIY memang menjadi perhatian Hiswana Migas DIY. Terlebih di beberapa SPBU memang terlihat antrean yang cukup panjang.

"Saat ini Hiswana Migas DIY bersama Pemda DIY dan pemerintah kabupaten/kota sedang mengupayakan penambahan alokasi Pertalite. Harapannya, alokasi dapat disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat sehingga ketersediaan Pertalite tetap terjaga, antrean dapat dikurangi, dan penyalurannya tetap tepat sasaran," ujarnya.

Kebijakan pembatasan Pertalite bagi kendaraan bertangki besar dirasa wajar oleh konsumen.

Sigit (40) merupakan pengendara Thunder dengan kapasitas tangki sekiar 13 liter. Sebelum ada kenaikan Pertamax, ia bisa mengisi Rp 100.000 atau bahkan penuh sekitar Rp 130.000.

Ia tidak mempermasalahkan soal pembatasan Pertalite. Yang paling ia soroti adalah penggunaan satu nozzle pada SPBU untuk pengisian Pertalite. P

enggunaan satu nozzle tersebut membuat antrean Pertalite menjadi semakin panjang.

"Tergantung SPBU-nya sih, memang ada yang maksimalnya cuma Rp 50.000, tapi tadi ngisi Rp 70.000 tidak apa-apa. Nggak masalah (pembatasan), yang penting masih bisa beli. Masalahnya itu antreannya sekarang panjang, yang dibuka cuma satu alat aja, jadi semakin panjang. Kalau mau ganti Pertamax di kondisi sekarang ya berat," imbuhnya. (maw)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.