Nakita.id -Upaya meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan mencegah stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak serta edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Kesadaran mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang, kebersihan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, hingga pemantauan tumbuh kembang perlu terus dibangun agar dapat menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat sehari-hari.
Karena itu, berbagai kegiatan yang memadukan edukasi kesehatan dengan layanan yang mudah diakses masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat upaya pencegahan stunting, sekaligus mendorong keluarga agar semakin peduli terhadap kesehatan sejak dini. Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 yang memasuki tahun ketiganya.
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan edukasi mengenai kesehatan dan pemenuhan gizi, tetapi juga menyediakan berbagai layanan kesehatan serta aktivitas yang dapat dinikmati bersama keluarga. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pengetahuan sekaligus pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 memperkuat keberlanjutan gerakan pencegahan stunting di Kabupaten Kudus melalui penyelenggaraan yang semakin semarak di tahun ketiganya. Digagas Bakti Sosial Djarum Foundation dan MilkLife bersama Pemerintah Kabupaten Kudus, festival ini berlangsung pada 29 dan 30 Agustus 2026 di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus, Jawa Tengah, dengan memadukan edukasi dan layanan kesehatan dengan berbagai aktivitas serta hiburan menarik untuk keluarga.
Mengusung semangat “Jaga Generasi Emas, Merdeka Lawan Stunting”, MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan, pemenuhan gizi, kebersihan lingkungan, serta pemantauan tumbuh kembang anak.
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, mengapresiasi komitmen Bakti Sosial Djarum Foundation dan MilkLife yang terus menghadirkan berbagai inisiatif untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat dan pencegahan stunting di Kabupaten Kudus. Terlebih, angka stunting di wilayahnya terbukti mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir.
"Kami ucapkan terima kasih kepada Bakti Sosial Djarum Foundation yang terus mengawal program-program keluarga sehat dengan penurunan stunting sangat signifikan, yang sebelumnya 4,08% menjadi 3,04%. Artinya dengan adanya program ini sejak tahun 2024 dampaknya sangat positif terhadap penurunan angka stunting di Kudus,” katanya.
Sam’ani menambahkan, kolaborasi sejumlah pihak menjadi bagian penting dalam mendukung upaya pemerintah mewujudkan Generasi Emas 2045. Ia menargetkan Kabupaten Kudus terbebas dari stunting pada 2030. Guna mencapai target tersebut, menurutnya, masyarakat harus diberi pemahaman sejak dini untuk menumbuhkan kesadaran tentang kesehatan dan lingkungan sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“MilkLife Keluarga Sehat terbukti luar biasa dampaknya. Semoga dengan ada edukasi dan pelayanan seperti ini masyarakat bisa semakin sadar arti kesehatan keluarga. Kami harapkan seluruh pihak bisa meneruskan informasi ini sampai ke tingkat desa maupun RT. Mari kita sukseskan generasi emas, cegah stunting dan semoga di tahun 2030 Kabupaten Kudus zero stunting,” tambahnya.
Selama dua hari penyelenggaraan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026, masyarakat memperoleh berbagai layanan kesehatan inklusif. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kehamilan melalui USG bagi ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, screening anemia bagi remaja dan calon pengantin, serta pemeriksaan triple elimination yang meliputi HIV, sifilis, dan Hepatitis B. Masyarakat juga dapat berkonsultasi dengan dokter umum untuk pemeriksaan kesehatan serta mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan jiwa bersama psikolog klinis.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto, mengatakan keberlanjutan MilkLife Festival Keluarga Sehat di Kudus menjadi bagian penting dari upaya membangun kesadaran kesehatan masyarakat secara konsisten. Angka penurunan stunting yang terjadi di Kudus sejak Festival Keluarga Sehat mulai bergulir pada 2024 menjadi pelecut semangat pihaknya untuk berbuat lebih banyak lagi. Harapan Pemerintah Kabupaten Kudus untuk membuat wilayah tersebut bebas dari stunting pada 2030 pun dianggap sebagai target yang realistis melihat antusiasme publik yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.
“Kami ingin Kudus menjadi salah satu kabupaten terbaik dalam penanganan kesehatan dan juga stunting. Maka dari itu kami siap mendukung untuk menjadikan Kudus zero stunting di tahun 2030. Kami mulai membiasakan supaya mereka (orangtua) tahu yang terbaik untuk putra-putrinya. Pada intinya, kami ingin memberi kontribusi positif bagi warga Kudus, karena kami lahir dan besar di Kudus,” tuturnya.
Field Promotion Manager, Danang Adityo Pramandaru, mengatakan Festival Keluarga Sehat sengaja dikemas dalam suasana yang menyenangkan agar masyarakat dapat memperoleh pengalaman mengenai kesehatan sekaligus menikmati waktu bersama keluarga. Berbagai hiburan dan aktivitas keluarga dihadirkan berdampingan dengan layanan serta edukasi kesehatan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pihak untuk mulai menyadari pentingnya pemenuhan asupan nutrisi dan gizi seimbang dalam mendukung tumbuh kembang.
“Kami ingin Festival Keluarga Sehat menjadi ruang yang fun, sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai kesehatan jasmani, tetapi juga dapat menikmati berbagai hiburan bersama keluarga. Di sisi lain, pemenuhan nutrisi dan gizi seimbang juga berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang, termasuk dengan mengonsumsi susu berkualitas,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dr. Abdul Hakam, M.Si, Med, Sp.A, mengatakan Festival Keluarga Sehat memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman keluarga mengenai kesehatan anak, khususnya pada usia dini. Menurutnya, pencegahan stunting membutuhkan pemantauan ketat sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), termasuk dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi serta pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
"Sebenarnya standar maksimal stunting yang direkomendasikan oleh WHO adalah di bawah 10%. Kita bersyukur Kabupaten Kudus sudah di angka 3%. Ini suatu prestasi yang luar biasa dan kita harus maksimalkan. Jadi kita targetnya bagaimana nanti secara bertahap di 2027 mencapai 2%, 2028 sampai 2029 mungkin ya 0,3% atau 0,9%, karena memang pasti masih akan ada (stunting). Tapi kami usahakan bersama nanti bagaimana menembus 0% sesuai target pak Bupati di 2030,” ujarnya.
dr. Abdul Hakam menambahkan, hal yang kemudian harus menjadi perhatian banyak pihak ialah bagaimana membuat masyarakat konsisten menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam keseharian di lingkungan sekitar. Selain itu, upaya pencegahan stunting, khususnya pada ibu hamil dengan menjaga asupan gizi, juga wajib dipenuhi. Dengan begitu, menurutnya, harapan Kabupaten Kudus bebas stunting dalam beberapa tahun ke depan bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan.
“Bagaimanapun sanitasi juga penting karena kaitannya dengan munculnya penyakit. Kalau itu teratasi, pasti secara maksimal problem stunting turun. Selain itu juga program lain, baik itu imunisasi, tumbuh kembang, serta pemeriksaan 1.000 hari kehidupan juga harus digalakkan. Kemudian potensi adanya anemia ini cukup berdampak. Edukasi peningkatan gizi terhadap konsumsi daging merah seperti kerbau, kambing, sapi, dan ampela juga tak kalah penting, untuk dikonsumsi tiga sampai lima kali dalam seminggu, terutama untuk ibu hamil,” sambungnya.
Lusi Rahmawati, warga Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, sekaligus salah satu pengunjung Festival Keluarga Sehat 2026, menilai berbagai layanan dan aktivitas yang tersedia cukup lengkap dan informatif. Baginya, acara ini memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan baru mengenai kesehatan keluarga. Saat mengunjungi booth Hunian Sehat serta layanan tumbuh kembang anak, ia mengaku mendapatkan banyak informasi mengenai kebersihan lingkungan dan pola makan sehat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Acaranya bagus dan fasilitas yang disediakan juga sangat memadai. Kita jadi banyak dapat pengetahuan baru soal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengenai gizi dan tumbuh kembang. Tadi juga sempat screening anemia, jadi saya bisa berkonsultasi dengan leluasa dan penyampaian hasil screening-nya juga jelas,” ujar ibu dua anak tersebut.
Selain edukasi kesehatan, festival dimeriahkan dengan berbagai kegiatan interaktif, seperti Jalan Keluarga Sehat – Parade Gizi Hebat, lomba estafet isi piringku yang mengedukasi anak-anak dalam memilih makanan sehat, lomba mewarnai, taman eksplorasi untuk stimulasi sensorik, hingga pertunjukan musik dan wayang humor. Puncaknya akan ada pengundian doorprize utama berupa motor listrik Polytron Fox R 350. Penyelenggaraan MilkLife Festival Keluarga Sehat 2026 menjadi kelanjutan dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak 19 Juli hingga 9 Agustus 2026 melalui Aksi Rumah Resik Sehat (SIKAT) dan Belanja Pinter Gizine Bener (BPGB). SIKAT melibatkan 2.311 peserta dari Desa Wonosoco, Desa Gribig, Desa Mejobo, dan Desa Klaling.
Sementara itu, BPGB memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilihan bahan makanan berdasarkan kebutuhan gizi seimbang. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, upaya membangun kesadaran mengenai kesehatan keluarga dan pencegahan stunting di Kabupaten Kudus terus dilakukan secara berkesinambungan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta berbagai pihak diharapkan dapat semakin memperkuat penerapan pola hidup sehat, pemenuhan gizi, dan pemantauan tumbuh kembang anak sebagai bagian dari langkah bersama menuju terwujudnya Generasi Emas 2045.