Tanah Terbelah di Manggarai Timur Pasca Gempa Flores M 7,7, 14 Keluarga Terpaksa Mengungsi ke Kebun
Talitha Daren August 31, 2026 05:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Fenomena tanah terbelah terjadi di Kampung Paku, Desa Golo Linus, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Retakan tanah terlihat membentang di tengah permukiman warga dan kondisi tersebut bahkan telah merusak jalan kampung, halaman rumah, hingga sejumlah bangunan milik warga.

Sejumlah rumah dilaporkan mengalami retak-retak dan berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

Baca juga: Prabowo Tegaskan MBG di Nagakeo Lanjut Terus Pasca Gempa NTT: Sasar Anak, Ibu Hamil hingga Lansia

Tanah Retak Membentang di Tengah Kampung

Camat Elar Selatan, Herman Agas, mengatakan dirinya telah turun langsung untuk memantau kondisi tanah yang terbelah di Kampung Paku.

Menurut Herman, retakan terlihat di sepanjang kawasan permukiman warga.

Retakan tersebut bermula dari jalan kampung, kemudian menjalar ke halaman rumah hingga mengenai sejumlah bangunan.

"Saya turun langsung pantau kemarin. Tanah terbelah ini terlihat di sepanjang kampung, mulai dari jalan terbentang ke halaman rumah, hingga sampai terkena sejumlah rumah sehingga sejumlah rumah milik warga di kampung itu juga terancam ambruk karena sudah retak-retak," ujar Herman kepada TribunFlores.com, Senin, 31 Agustus 2026.

Kampung Paku dihuni sekitar 14 kepala keluarga dengan jumlah penduduk lebih dari 100 jiwa.

Herman mengatakan, retakan tanah tersebut berpotensi mengancam sedikitnya 14 rumah yang ditempati warga.

Kondisi semakin mengkhawatirkan karena retakan tanah disebut terus meluas setelah gempa utama. Warga pun memilih meninggalkan rumah untuk sementara demi menghindari risiko yang lebih besar.

"Sekarang tanah terbelah itu semakin meluas akibat gempa susulan yang terus terjadi," ungkap Herman.

TANAH TERBELAH - Tanah terbelah di Manggarai Timur pasca gempa Flores M 7,7
TANAH TERBELAH - Tanah terbelah di Manggarai Timur pasca gempa Flores M 7,7 (Tribun Trends/Tangkap layar Youtube TribunFlores)

Warga Mengungsi ke Kebun

Kemunculan retakan tanah di kawasan permukiman membuat warga memilih mengungsi ke kebun milik masing-masing.

Sebanyak 14 kepala keluarga dengan jumlah warga lebih dari 100 jiwa kini berada di lokasi pengungsian sementara tersebut.

Mereka memilih mengungsi karena khawatir rumah yang sudah mengalami retakan tidak lagi aman untuk ditempati. Selain itu, aktivitas gempa susulan juga membuat warga waspada.

Pengungsian dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan area kebun yang dianggap lebih aman dari bangunan rumah yang terdampak.

TANAH TERBELAH FLORES - Tanah terbelah di Manggarai Timur pasca gempa Flores M 7,7 (Tribun Trends/Tangkap layar Youtube Tribun Flores)

Warga Masih Membutuhkan Terpal dan Sembako

Di tengah kondisi tersebut, warga masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di pengungsian.

Herman mengatakan warga membutuhkan terpal untuk mendirikan tempat berlindung sementara serta bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelumnya, bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah diterima warga. Bantuan tersebut berupa terpal dan bahan kebutuhan pokok.

Namun, jumlah bantuan yang diterima disebut belum mencukupi kebutuhan seluruh warga terdampak.

"Memang warga di kampung ini juga sudah mendapatkan bantuan sembako dan terpal dari BNPB, di mana saya yang serahkan langsung. Tapi bantuan terpal ini masih terbatas karena belum semua kepala keluarga dapat," ujar Herman.

Ia mengatakan bantuan sembako juga masih terbatas. Karena itu, warga berharap ada tambahan bantuan selama mereka masih harus bertahan di lokasi pengungsian.

Retakan Tanah Terus Dipantau

Pemerintah Kecamatan Elar Selatan terus memantau perkembangan kondisi tanah di Kampung Paku. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui apakah retakan semakin meluas dan mengancam permukiman warga.

Warga juga diminta tetap waspada mengingat gempa susulan masih berpotensi terjadi.

Untuk sementara, warga memilih bertahan di kebun masing-masing sambil menunggu kondisi dinilai lebih aman dan bantuan tambahan dapat diterima.

Fenomena tanah terbelah tersebut kini menjadi perhatian karena tidak hanya berdampak pada akses jalan dan halaman rumah, tetapi juga mengancam keselamatan bangunan serta warga yang tinggal di Kampung Paku.

(TribunTrends.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.